Tantangan koperasi untuk beradaptasi dengan digitalisasi diamini oleh Pengamat Ekonomi Kediri Subagyo. Karenanya, menurut dosen Universitas Nusantara PGRI itu tidak ada pilihan lain bagi koperasi selain segera menyesuaikan diri.
Subagyo mencontohkan koperasi simpan pinjam yang harus bersaing dengan bank. Saat ini bank banyak menawarkan produk digitalnya. Adapun koperasi masih menggunakan sistem konvensional.
Kondisi tersebut menurut Subagyo dipicu oleh kualitas pengelolaan koperasi. “Kalau koperasi simpan pinjam, sekarang banyak pinjaman online, lalu (saingannya) dengan bank,” kata Subagyo.
Padahal, koperasi sekarang banyak pengurus yang menganggap pekerjaan mereka di sana sebagai sambilan.
“Jadi fokusnya kurang, sehingga kurang bisa dikelola secara profesional,” lanjutnya.
Baca Juga: Lipsus Hari Kesehatan Mental Sedunia (1) Kisah Para Penyembuh ‘Jiwa Terluka’ di Kediri
Tantangan selanjutnya menurut Subagyo adalah regenerasi anggota. Terkait pekerjaan rumah (PR) ini, dia menilai masih terkait dengan transformasi digital. Sebab, generasi sekarang sudah melek teknologi. Sehingga, pengurus pun harus menyesuaikan kebutuhan dari generasi sekarang.
“Misalnya menyimpan, kalau nggak ada digitalisasi kan jadinya nggak tahu saya nyimpannya sudah dicatat atau belum. Terus pinjaman saya kurang berapa. Tetapi kan koperasi itu pengurusnya banyak yang senior, jadi mereka tidak bisa mengikuti perkembangan, seperti itu,” jelasnya.
Di sisi lain, Subagyo juga melihat generasi sekarang tampak kurang tertarik untuk aktif dalam koperasi. Sehingga, ini juga menjadi tantangan sendiri. Sebab, bagaimanapun, koperasi tetap memiliki peran penting bagi perekonomian di Indonesia.
Karenanya, dia mengingatkan agar koperasi tetap menjalankan prinsip-prinsip perkoperasian. Sebab, dia melihat partisipasi anggota dalam sebuah koperasi masih lemah. Seringkali anggota hanya dijadikan sebagai ‘pelanggan’.
“Sebernarnya anggota koperasi kan pemilik. Jadi budaya berkoperasi itu ya yang kurang. Modal koperasi besar pun, kalau anggota nggak pinjam kan juga nggak bisa dapat hasil usaha. Jadi anggota ya harus aktif,” tuturnya sembari menyebut pemahaman terkait koperasi harus ditingkatkan.
Terkait RAT, dia melihat ada banyak faktor yang membuat koperasi belum melaporkannya. Penyebab utamanya bisa karena koperasi itu memang sudah tidak aktif.
Selanjutnya, beberapa koperasi dimungkinkan merasa tidak perlu melakukan pelaporan RAT. Itu bisa karena merasa skala koperasinya yang kecil.
“Banyak juga yang melakukan RAT tetapi tidak melaporkan. Banyak yang seperti itu,” tandasnya. (emilia susanti/ut)
Editor : Andhika Attar Anindita