Pandemi Covid-19 berperan mengubah perspektif masyarakat tentang kesehatan mental. Sejak saat itu, kesadaran masyarakat meningkat.
Sebagian masyarakat sudah lebih cepat menyadari bahwa dirinya tidak sedang baik-baik saja. Fenomena itu turut mengubah tren orang berobat ke psikiater.
Sebelumnya, mayoritas orang berobat ke psikiater karena dipicu gangguan psikotik atau kesehatan mental serius yang membuat seseorang kehilangan kesadaran akan realitas. Kini, pasien neurotik justru paling banyak ditemui. Yaitu kondisi kesehatan mental di mana seseorang masih sadar dengan realita yang terjadi.
“Kalau untuk pasien-pasien di RSUD Gambiran 80 persen neurotik. Sudah jarang yang tipe psikotik, yang perilakunya kacau, bicaranya ngelantur, itu jarang. Justru banyak yang dari kalangan produktif,” ujar dr Novi Agung Rahmawati, dokter spesialis kejiwaan di RSUD Gambiran.
Baca Juga: Tekanan Ekonomi, Ratusan Orang di Kota Kediri Idap Gangguan Jiwa, Ini Yang Wajib Kamu Ketahui!
Tren itu berkelindan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan mental. Data yang dihimpun koran ini, selama 2024 lalu, rumah sakit milik Pemerintah Kota Kediri itu menerima 2.800 pasien.
Tahun berikutnya naik hampir dua kali lipat. Menjadi sekitar 4.700 pasien. Dan, sejak Januari 2026 hingga saat ini sudah mencapai 4.081 orang.
“Kebanyakan kalangan karyawan, pemilik usaha, mahasiswa. Kenapa? Karena mereka datang sering kali bukan karena sedihnya atau cemasnya. Karena kalau usia muda biasanya tahan saja. Yang nggak tahan itu produktivitasnya. Karena mereka kehilangan kemampuan konsentrasi yang baik,” sambungnya.
Soal pemicunya, beberapa yang paling banyak adalah faktor ekonomi hingga konflik orang tua dan anak. Untuk gangguan neurotik itu, kebanyakan keluhan yang disampaikan justru dari gejala fisik.
Misalnya, pusing, nyeri kepala bagian tengkuk, gemetar dan berdebar, keringat dingin, nyeri ulu hati, cemas berlebihan, hingga gangguan tidur yang tidak selesai-selesai. Dan menurutnya, salah satu kendala pemicu kecemasan juga datang dari kebiasaan browsing di internet.
Baca Juga: Darurat Kesehatan Mental di Kediri: 3.500 Warga Alami Gangguan Jiwa Karena Tekanan Ekonomi
“Misalkan dia merasa nyeri ulu hati, dia akan browsing banget tentang apa itu nyeri ulu hati, bagaimana nanti bisa menjadi keganasan, misalnya. Jadi salah satu menghentikan cemas untuk orang dengan kecemasan tinggi ya membatasi akses. Kalau dia sangat mencemaskan kesehatannya, ya dia tidak boleh browsing bertema kesehatan. Apapun yang dia keluhkan, harus dikonsulkan dengan dokternya,” beber psikiater tersebut.
Bukan berarti informasi di internet sepenuhnya salah. Melainkan penilaiannya yang belum tentu sesuai kebutuhan semua orang.
Karena itu, self-diagnosis juga sangat tidak disarankan. Hal itu juga tak lepas dari penegakan diagnosis oleh dokter yang juga harus dilakukan dengan hati-hati.
Di momentum Hari Kesehatan Mental Sedunia, Novi mengingatkan pentingnya mulai mendengarkan. Bagi seseorang dengan gangguan mental bahkan kecenderungan mengakhiri hidup, orang di sekitarnya bisa memberi intervensi dengan mencari sumber penderitaannya. Itu bisa dilakukan dengan cara mulai mendengarkan.
“Sering kali kita pada saat mendengarkan, buru-buru menasehati pakai ‘sepatu’ kita. Padahal orang ‘sepatunya’ sendiri-sendiri,” sambung Novi sembari menyebut, perbedaan itu dipengaruhi faktor genetik, pengalaman hidup, serta pola asuh yang juga beragam.
Baca Juga: Imbas Kondisi Ekonomi Sulit, Ratusan Warga Kota Kediri Alami Gangguan Jiwa
Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat, dia berharap juga bisa mengubah arah kebijakan. Salah satunya, memasukkan pemeriksaan kesehatan mental dalam program medical check-up yang kerap digelar perusahaan untuk pegawainya.
Sebab menurutnya, selama ini belum banyak perusahaan atau instansi yang menerapkan itu.
“Itu juga mesti diluruskan dulu. Bahwa hasil pemeriksaan kejiwaan itu memang digunakan untuk check-up saja dan untuk kepentingan karyawan, untuk support kualitas hidup karyawan menjadi lebih baik. Bukan malah seseorang berisiko kehilangan pekerjaannya. Itu tidak boleh,” tandasnya.
Novi juga menyoroti mayoritas pasien yang berada pada rentang usia 18 – 45 tahun. Atau, usia-usia masyarakat produktif.
Novi tak menampik faktor pemicu gangguan mental yang justru dekat dengan realita kehidupan banyak orang. Maka dari itu, menurutnya penting membangun keterhubungan satu sama lain.
Baca Juga: Cara Mudah Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Padatnya Aktivitas
“Kita perlu punya keterhubungan. Minimal kita punya satu saja orang yang aman dan nyaman untuk kita ajak sharing satu sama lain. Itu kenapa waktu pandemi, meskipun semuanya WFH, tapi tetap terjaga keterhubungannya lewat WA grup atau apapun itu,” ungkap Novi
Editor : Ayu Ismawati
Sumber : Radar Kediri