Lipsus Guru Vs Invasi AI, Ancaman atau Jadi Teman? (2) Bukan Gantikan Peran, tapi Bantu Pembelajaran

Ayu Ismawati • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 10:39 WIB
Ilustrasi salah satu kegiatan pembelajaran di SD negeri di Kota Kediri yang menerapkan bantuan AI. (Foto: Ayu Isma)
Ilustrasi salah satu kegiatan pembelajaran di SD negeri di Kota Kediri yang menerapkan bantuan AI. (Foto: Ayu Isma)

Di era digital dan serba AI seperti sekarang, pengaruhnya memang tak terelakkan, termasuk di dunia pendidikan.

Dinas Pendidikan Kota Kediri menilai tantangan guru saat ini adalah mau tak mau beradaptasi dengan tren yang ada.

Para pendidik pun dituntut bisa memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada. Bukan untuk menggantikan peran, melainkan membantu proses pembelajaran. 

Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri Mandung Sulaksono melalui Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Kabid Dikdas) Sulton Arfiansyah mengatakan, perkembangan teknologi tentu sangat membantu guru dalam mengajar.

Dinas pendidikan juga beberapa kali menggelar bimbingan teknis (bimtek) untuk guru terkait pembuatan media pembelajaran dengan menggunakan AI. 

Baca Juga: Lipsus Guru Vs Invasi AI, Ancaman atau Jadi Teman? (1) Modul Bisa by AI tapi Otak Harus ‘Bermain'

“Dulu, guru adalah satu-satunya sumber informasi atau ilmu bagi murid-murid. Tetapi di era digitalisasi, sumber informasi juga bisa didapat dari berbagai sumber digital,” ujar Sulton. 

Hal itu bisa menjadi ancaman jika tidak segera diantisipasi. Karena itu, menurutnya guru harus adaptif agar tetap menjadi sosok yang memiliki peran dalam mencerdaskan siswa.

Hal itu yang mendorong mulai diterapkannya digitalisasi pembelajaran. Namun, Sulton menekankan bahwa digitalisasi pembelajaran bukan tentang menggantikan peran guru dengan teknologi.

“Tetapi bagaimana guru memanfaatkan teknologi secara bijak, kreatif, dan bermakna untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menarik, interaktif, dan sesuai kebutuhan anak,” sambungnya. 

Baca Juga: Forum Guru PPPK Kota Kediri Mengadu ke Kemendikdasmen, Ini yang Menjadi Aspirasi Mereka!

Sulton mencontohkan, guru bisa membuat media pembelajaran dengan menggunakan AI atau aplikasi semacamnya.

Menurutnya juga tak ada batasan dalam memanfaatkan AI untuk mendukung pembelajaran. Guru bisa mengolahnya sekreatif mungkin. 

“Sehingga media pembelajaran itu bisa dipakai ketika menjelaskan materi pelajaran,” tandas Sulton.

Hanya saja, penggunaannya tetap harus diawasi. Terlebih di lingkungan sekolah. Untuk mengantisipasi agar siswa tak terlalu bergantung dengan AI, penggunaan gawai di sekolah dibatasi.

Hal itu juga ditegaskan melalui Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan. 

“Sekolah kami minta membuat aturan tentang pembatasan penggunaan ponsel. Misal ketika murid masuk kawasan sekolah, ponsel bisa ditaruh di box. Kemudian ketika pulang baru diberikan,” terangnya. 

Baca Juga: Peluang Emas! Guru PPPK Bisa Jadi PNS Mulai 2027, Begini Ketentuannya

Terpisah, Akademisi Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri Agus Muji Santoso menilai, perubahan di dunia pendidikan saat ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak lagi hanya berorientasi pada penguasaan materi pelajaran.

Anak-anak tidak lagi cukup hanya pintar secara akademik. 

“Mereka harus mampu membaca informasi, mengolah data, berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, menggunakan teknologi, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab,” terangnya.

Dan, perkembangan AI membuat kompleksitas itu semakin nyata. Tak lagi berhadapan dengan guru dan buku.

Anak juga dihadapkan dengan algoritma, media sosial, konten yang dipersonalisasi, informasi yang dihasilkan AI, bahkan sistem AI yang dapat berinteraksi secara langsung dengan mereka.

“Jangan sampai kita berpikir literasi AI itu hanya anak bisa menggunakan ChatGPT atau membuat gambar dengan AI. Itu baru bagian kecil. Persoalannya adalah apakah anak mampu mempertanyakan informasi yang diberikan AI, mengevaluasinya, memahami risikonya, kemudian menggunakan hasilnya secara tepat dan bertanggung jawab,” sambung dosen Prodi Biologi UNP Kediri itu. 

Baca Juga: Wujudkan Desa Ekowisata Mandiri, PPK Ormawa HIMABIO Helianthus UNP Kediri Luncurkan Inovasi Teknologi dan Seni Budaya

Hal itu Agus tegaskan setelah mengetahui kondisi riil sekolah dalam advokasi dan pendampingan kepada 1099 sekolah model Pembelajaran Mendalam dan KKA (Koding dan Kecerdasan Artifial) se-Indonesia selama tiga bulan terakhir di Kemendikdasmen sebagai narasumber. 

Agus mencontohkan, saat ini Programme for International Student Assessment (PISA) –studi oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang mengevaluasi sistem pendidikan di lebih dari 70 negara di dunia– juga membuat rambu-rambu baru.

Arah tersebut juga mulai terlihat dalam pengembangan PISA 2029 yaitu Media and Artificial Intelligence Literacy (MAIL).

Dalam first draft kerangka asesmennya, OECD mendefinisikan MAIL sebagai seperangkat kompetensi yang diperlukan peserta didik untuk berinteraksi secara efektif, etis, dan bertanggung jawab dengan konten digital, platform media, dan sistem AI.    

Baca Juga: PPK Ormawa Himabio UNP Kediri Kemas Potensi Hutan Tempurejo Jadi Ekowisata dan Produk Herbal

MAIL tidak hanya mengukur kemampuan murid-murid dalam hal teknis penggunaan teknologi. Namun juga Access and Use, Analyse and Evaluate, Participate and Collaborate, Create, serta Reflect and Act Ethically and Responsibly.

“Ini menunjukkan bahwa tuntutan kompetensi murid-murid kita ke depan memang jauh lebih kompleks. Anak bukan hanya harus bisa menggunakan teknologi, tetapi juga harus mampu menganalisis, mengevaluasi, berkolaborasi, mencipta, dan mempertimbangkan aspek etika dan tanggung jawab dalam setiap tindakannya di ruang digital,” beber Agus.

Dalam kerangka OECD tersebut, kemampuan access and use menjadi fondasi. Peserta didik perlu mampu mencari, menggunakan, mengelola, dan mengorganisasi informasi serta berinteraksi dengan berbagai perangkat digital dan AI.

Namun, kemampuan tersebut harus diikuti kemampuan analyse and evaluate. Yakni, menilai tujuan, bias, relevansi, dan kredibilitas konten yang dibuat manusia maupun AI. 

“Kalau anak hanya bisa menggunakan AI tetapi tidak bisa mengevaluasi jawabannya, justru berbahaya. AI bisa menghasilkan informasi yang tampak meyakinkan, tetapi belum tentu benar. Anak harus mempunyai nalar untuk bertanya tentang siapa yang membuat, untuk siapa, apa tujuannya, dari mana datanya, apa yang mungkin bias, dan apakah informasi itu dapat dipercaya,” ujarnya.

Baca Juga: Sulap Jagung Jadi Cuan, PPK Ormawa Himapinno UNP Kediri Bawa Desa Toyoresmi Naik Kelas

Terlepas dari itu, AI pada dasarnya tetaplah alat, bukan tujuan pendidikan.

“Yang harus kita bangun tetap manusianya, pola dan cara berpikir murid yang dikembangkan. Jangan sampai kemampuan berpikir anak justru diserahkan kepada AI,” tegasnya.

Karena itu, peran guru menurutnya sangat penting. Utamanya dalam menciptakan pengalaman belajar yang membuat siswa berpikir bersama teknologi. Bukan berhenti berpikir karena teknologi. 



Editor : Ayu Ismawati
Sumber : Radar Kediri
hari guru sedunia tantangan guru kemendikdasmen ai teknologi