Senin besok (5/10) bertepatan dengan peringatan Hari Guru Sedunia. Momentum untuk merefleksikan peran dan tantangan yang dihadapi para guru. Salah satunya adalah pesatnya perkembangan akal imitasi (AI) yang bisa mengancam profesi guru jika tak bijak memaknainya.
Usai mendapat penjelasan materi oleh guru di kelas, anak-anak kelas 6 SD itu berkumpul dalam beberapa kelompok kecil.
Dengan selembar kertas di tangan, mereka lalu menyebar. Menuju ke beberapa pos yang sudah disiapkan. Di setiap pos, ada kertas petunjuk yang sekaligus berisi kuis yang harus dikerjakan siswa.
Jika sudah berhasil menyelesaikan kuis di satu pos, mereka lalu beralih ke pos lainnya. Tanda centang mereka bubuhkan di kertas yang sudah disiapkan.
Menandakan kelompoknya sudah sampai dan menyelesaikan tantangan kuis di pos-pos tersebut. Karena harus berpencar mencari pos-pos itu, suasana kompleks SDN Bangsal 3 itupun mendadak riuh.
Baca Juga: Forum Guru PPPK Kota Kediri Mengadu ke Kemendikdasmen, Ini yang Menjadi Aspirasi Mereka!
“Di setiap pos, kuisnya beda-beda. Tapi tetap sesuai materi yang sebelumnya diajarkan di kelas,” terang Dita Dwi Septiana, sang guru.
Hari itu, guru berusia 30 tahun itu sengaja membuat suasana kelas lebih berbeda dari biasanya. Alih-alih hanya menjelaskan materi di ruang kelas, Dita mengajak siswa-siswanya untuk bermain game mengelilingi kawasan sekolah.
Tapi, tetap dengan membawa misi; Menguji pemahaman siswa soal materi pelajaran.
“Untuk metode pembelajaran ini saya menggunakan AI untuk membantu membuat desainnya,” ungkap Dita.
Baca Juga: Peluang Emas! Guru PPPK Bisa Jadi PNS Mulai 2027, Begini Ketentuannya
Untuk materi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) itu, visualisasi memang dibutuhkan untuk membantu siswa lebih paham dengan materi yang diajarkan.
Karena itu, Dita menggabungkan aspek visual dari desain yang diolah dengan bantuan AI serta konsep belajar berkelompok.
“Berkelompok ini supaya anak-anak saling bekerja sama. Dan beberapa soal sudah saya siapkan di pos-pos, selanjutnya anak-anak keliling untuk mencari. Supaya anak-anak juga nggak jenuh belajar di ruang kelas saja,” tandasnya.
Bagi Dita, ada tantangan sekaligus peluang dari pesatnya perkembangan AI. Kabar baiknya, AI bisa jadi penolong saat beban guru zaman sekarang semakin besar karena tugas-tugas administrasi.
Dalam hal ini, membantu menyelesaikan pekerjaan lebih cepat serta membantu membuat modul pembelajaran yang menarik.
Baca Juga: Guru Paruh Waktu akan Diangkat Jadi PPPK Penuh Waktu, Pemkot Tunggu Surat Resmi dari Mendikdasmen
“AI ini bisa menjadi media kita dalam membantu membuat pembelajaran supaya lebih aktif lagi, lebih kreatif,” kata guru asal Desa Wonojoyo, Kecamatan Gurah itu.
Di sisi lain, diakuinya penggunaan AI tetap harus dibatasi. Termasuk bagi guru sepertinya yang tak boleh sepenuhnya berpangku tangan dengan teknologi ini.
Apalagi dengan aturan pembatasan penggunaan gadget di lingkungan sekolah.
“Bagi siswa yang bijak, (AI) bisa membantu anak-anak lebih mengeksplorasi berbagai soal. Khususnya untuk kelas 6 yang akan menghadapi TKA (tes kemampuan akademik), mereka harus sering-sering mengerjakan latihan soal,” sambung Dita, menyebut peran orang tua juga penting dalam mengawasi penggunaan gawai anak saat di rumah.
Menurutnya penggunaan AI tetap harus diimbangi aktivitas konvensional yang mengasah kreativitas siswa. Khususnya saat guru tak dikejar-kejar waktu yang terbatas.
Misalnya, menghadirkan pembelajaran berbasis game dari alat-alat yang ada di sekitar siswa.
Baca Juga: Direktur Jawa Pos Radar Kediri Beri Materi Jurnalistik ke Guru dan Siswa MTsN 2 Kediri
“Anak-anak kan juga suka pembelajaran yang aktif dan berkelompok dan berkompetisi. Jadi misal anak diajak berbaris berkelompok menggunakan spidol. Dengan motorik anak, nanti spidolnya diestafetkan dulu, dan bergantian mengerjakan soalnya,” terang guru kelas 6 di SDN Bangsal 3 Kota Kediri itu.
Profesi guru juga kini berdampingan dengan digitalisasi. Dita pun menganggap teknologi ini sebagai peluang untuk mempermudah kerja guru. Asal, harus punya konsep yang matang sebelum menerapkannya.
Misalnya, untuk mempercepat tugas koreksi nilai, Dita terkadang menggunakan aplikasi pemindaian atau scan menggunakan lembar kertas berbasis barcode.
Anak-anak tinggal mengangkat lembar berisi kode sesuai jawaban di udara. Sekali scan dengan smartphone, jawaban seluruh siswa sudah terrekap.
Baca Juga: Usulan Formasi CPNS Kota Kediri Masih Tunggu Kemenpan, Kebutuhan Guru Mapel Jadi Prioritas
Sementara itu, Mohammad Indra Kurniawan, guru SMA di Kabupaten Kediri, menilai AI sebagai tantangan. Khususnya bagi guru Pendidikan Pancasila sepertinya yang materi pembelajarannya erat dengan esai dan penjelasan deskriptif.
Sebab AI menawarkan kemudahan dalam menjawab pertanyaan maupun tugas-tugas esai. Sehingga berpotensi menurunkan kemampuan berpikir kritis siswa.
“AI juga kerap memberikan informasi yang tidak dapat dibuktikan. Seperti dalam sejarah pembentukan Pancasila, detail konstitusi, atau keputusan tata negara Indonesia. Karena itu, pemanfaatan AI harus diimbangi referensi buku siswa yang relevan agar tidak terjadi salah pemahaman,” ujar guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) di SMAN 1 Pare Kabupaten Kediri itu.
Namun, diakuinya AI memang menawarkan kemudahan bagi dunia pendidikan. Akan tetapi, jika tidak diimbangi referensi lain yang akurat rawan membuat siswa terlena.
Belum lagi jika sampai pada tahap kecanduan AI.
Baca Juga: Sowan Sendang hingga Parangkusumo, Guru Sabdo Roso Jalani Tirakat Jaga Warisan Leluhur
“Kecanduan AI dalam pemanfaatan untuk pengerjaan tugas tanpa melibatkan sumber yang jelas akan membuat mereka kesulitan dalam membedakan benar dan salah. Karena informasi yang diterima dari AI dianggap benar semua,” sambung Indra.
Di sisi lain, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) juga menggencarkan pendekatan deep learning di sekolah. Menurutnya, peran guru penting dalam mencapai tujuan itu.
Dengan guru yang dihadapkan dengan AI saat ini, menurutnya penting untuk memanfaatkan AI dengan berpusat pada kebutuhan.
Misalnya, untuk membantu mendesain pembelajaran yang kekinian atau menambah sudut pandang atas materi yang disampaikan.
“Dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila, kebetulan saya membuat gim ular tangga digital yang sistem operasinya menggunakan AI berupa random kuis dan dadu. Tetapi untuk proses KBM (kegiatan belajar mengajar) tetap dilakukan melalui taraf berpikir mandiri,” beber Indra.
Editor : Ayu Ismawati
Sumber : Radar Kediri