Liputan Khusus Mengupas Persoalan Buruh Tani di Hari Tani Nasional (2)

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 11:06 WIB
Ilustrasi pertanian. (Ilustrasi Afrizal)
Ilustrasi pertanian. (Ilustrasi Afrizal)

Mekanisasi Jadi Jalan Keluar Krisis Tenaga Kerja

Mekanisasi pertanian. Itulah jalan keluar yang disodorkan untuk memecah kebuntuan sulitnya petani mendapat pekerja harian alias buruh tani.

Selain itu, mekanisasi tersebut sekaligus mempercepat proses budidaya. “Mekanisasi pertanian ini sudah kami gencarkan sejak 2025,” kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri Sukadi.

Dia mencontohkan, untuk tanam padi, Dispertabun telah menyalurkan mesin transplanter.

Jumlahnya mencapai 25 unit yang dibagikan. Dan, akan kembali diberikan untuk transplanter kapasitas lebih besar.

Demikian halnya dengan penyemprotan. Dispertabun memanfaatkan drone. Jumlah saat ini sebanyak empat unit drone.

Lalu, masih ada lagi hand tractor, rotary roda empat, hingga sumur submersibel yang masuk dalam dukungan mekanisasi.

Jumlah bantuan tersebut telah mencapai ratusan unit. Bahkan, untuk sumur submersibel saja, selama 2025 dan 2026, mencapai sekitar 800 hingga 900 titik.

“Jadi kalau total keseluruhan ada ribuan,” jelas laki-laki yang juga Asisten I Pemkab Kediri itu. Menurut Sukadi, mekanisasi memberikan dampak besar terhadap kegiatan pertanian.

Baca Juga: Lipsus Hari Udara Bersih Internasional (2): Polusi Bikin Penuaan Dini, Ini Kata DLHKP!

Penggunaan alat tidak hanya membantu pekerjaan menjadi lebih ringan.

Juga berpengaruh terhadap waktu pengerjaan, biaya produksi, hingga hasil pertanian. “Produksinya lebih tinggi, ongkosnya juga lebih murah, waktunya juga lebih cepat,” ujarnya.

Selain meningkatkan efisiensi, mekanisasi juga dinilai dapat menjadi salah satu jawaban atas persoalan semakin terbatasnya tenaga kerja pertanian.

Dengan sejumlah pekerjaan yang dapat dilakukan menggunakan mesin, ketergantungan petani terhadap tenaga manual bisa ditekan.

Hal serupa diutarakan oleh guru besar Fakultas Pertanian Universitas Islam Kadiri (Uniska) Prof Dr Sumarji SP, MP.

Menurutnya, lima tahun terakhir jumlah yang bekerja di sektor pertanian menunjukkan tren menurun. Ada beberapa faktor yang membuat sektor pertanian semakin ditinggalkan pekerja.

Salah satunya karakter pekerjaan yang harus berhadapan langsung dengan lumpur dan panas. Di sisi lain, hasil yang diperoleh juga tidak selalu menentu.

Pekerjaan buruh tani pun bersifat musiman sehingga tidak memberikan kepastian pekerjaan secara berkelanjutan.

“Selain itu sustainable pekerja di bidang pertanian itu musiman,” jelasnya.

Kondisi tersebut akhirnya mendorong sebagian buruh tani beralih pekerjaan. Mereka memilih menjadi buruh pabrik maupun pekerja informal di toko dan UMKM.

Baca Juga: Lipsus Hari Udara Bersih Internasional (1): Bagaimana Kualitas Udara di Kota Kediri?

Pergeseran tersebut turut membuat generasi muda semakin sulit masuk ke sektor pertanian.

Menurut Prof Sumarji, persoalan tersebut tidak hanya disebabkan tingkat upah. Meski pendapatan buruh tani dalam sekali kerja bisa tinggi, pekerjaan yang berat dan tidak berlangsung sepanjang tahun membuatnya kurang diminati generasi muda.

“Mental generasi muda ini enggak mau berpanas-panas, bergelut dengan lumpur dan lain sebagainya,” jelasnya.

Di tengah semakin terbatasnya tenaga manusia, mekanisasi pertanian menjadi salah satu jalan yang mulai ditempuh.

Pemerintah telah mengenalkan sekaligus memberikan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan). Penggunaan teknologi tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap tenaga kerja manual.

“Dari situ akhirnya pemerintah memunculkan mekanisasi pertanian. Kayak tanam padi pakai mesin, panen padi pakai mesin dan lain sebagainya,” ujarnya.

Namun, mekanisasi tidak otomatis bisa diterapkan di seluruh lahan. Menurut Prof Sumarji, penggunaan mesin akan lebih efektif pada lahan yang luas.

Sementara pada lahan sempit, penggunaan alsintan masih menghadapi kendala sehingga kebutuhan tenaga manusia tetap ada.

Karena itu, solusi yang diperlukan bukan hanya menambah jumlah tenaga kerja tetapi juga mengubah pola budidaya agar semakin efisien.

Petani didorong memilih komoditas yang tidak terlalu banyak membutuhkan tenaga manusia. Serta memanfaatkan teknologi untuk menekan pekerjaan manual.

Salah satu model budidaya yang dinilai dapat menekan kebutuhan tenaga manusia adalah pertanian hortikultura di dalam greenhouse.

Sistem tersebut memungkinkan sejumlah pekerjaan dilakukan dengan bantuan mesin. "Nah, nyemprotnya pakai mesin, nyiramnya pakai mesin, dan lain sebagainya sehingga sangat efisien,” terangnya.

Buruh Tani yang Kian Langka

- Pekerjaan musiman, tak bisa jadi gantungan hidup berkepanjangan.
- Upah yang kurang maksimal, empat jam kerja Rp 50-an ribu. Bila sehari penuh Rp 100 ribu.
- Tenaga yang dikeluarkan besar, harus bergelut dengan panas, lumpur, dan kotor.
- Banyak yang memilih jadi penjaga toko atau pekerja bangunan di kota lain.
Editor : Shinta Nurma Ababil
Sumber : Radar Kediri
mekanisasi alsintan pengamat dispertabun