Lipsus Mengupas Persoalan Buruh Tani di Hari Tani Nasional (1) Carinya Sulit, Ongkosnya Mahal

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 10:38 WIB
LUMBUNG PANGAN: Ilustrasi petani. Petani Desa Putih, Gampengrejo menanam padi. Kondisi irigasi yang bagus membuat mereka bisa menanam padi sepanjang tahun. (Foto Wahyu Adji)
LUMBUNG PANGAN: Ilustrasi petani. Petani Desa Putih, Gampengrejo menanam padi. Kondisi irigasi yang bagus membuat mereka bisa menanam padi sepanjang tahun. (Foto Wahyu Adji)

Problematikan pertanian di Tanah Air tak melulu soal lahan, iklim, dan kesejahteraan petani semata. Ada persoalan buruh tani yang membuat pelik. Terutama soal kian berkurangnya jumlah mereka dan ongkos kerjanya yang kian mahal.

Harun Pasa Hadi adalah petani muda dari Ringinrejo. Pemuda berusia 26 tahun ini memiliki lahan seluas 300 ru.

Atau, bila disetarakan dengan meter persegi, luas sawahnya adalah lebih dari 4 ribu meter persegi. Sebab, 1 ru setara dengan 14 meter persegi.

Merawat lahan yang hampir setengah hektare itu, tentu saja, tidak bisa dikerjakan Harun seorang diri. Dia tentu butuh pekerja.

Atau, istilah sehari-hari disebut buruh tani. Terutama untuk pemupukan, penyemprotan, hingga panen.

“Kalau dikerjakan sendiri jelas tidak optimal. Bila dibantu buruh tani jadi lebih maksimal perawatannya,” jelasnya.

Baca Juga: Lipsus Sentra Bata Merah (2) Menurunnya Perajin karena Mahalnya Bahan Baku dan Regenerasi Sulit

Masalahnya adalah jumlah buruh tani sekarang ini banyak berkurang. Itupun mayoritas generasi tua.

“Kebanyakan itu (generasi baby) boomer. Ada yang muda sih, tapi paling banyak ya yang tua,” terang petani lombok ini.

Belum lagi, dia kerap kesulitan mendapat buruh tani yang sesuai kebutuhan. Terutama yang pas terkait dengan ketelatenan, kerajinan, hingga kesesuaian cara kerja dengan kebutuhan pemilik lahan.

Karena itu petani seperti dirinya sudah memiliki buruh tani langganan. Menurut keterangan Harun, buruh tani itu bekerja pagi hari.

Mulai pukul 06.00 hingga 10.00. Waktu kerja yang berkisar empat jam itu upahnya adalah Rp 45 ribu hingga 50 ribu.

“Bila kerjanya sampai siang atau sore ongkosnya bisa bertambah, jadi Rp 100 ribu,” lanjut Harun.

Suyono, petani lombok di Kecamatan Pare, juga menegaskan hal serupa. Pekerjaan merawat tanaman tak bisa dia kerjakan sendiri.

Butuh tenaga kerja atau buruh tani. “Karena kalau dikerjakan sendiri itu kurang tenaga,” jelas laki-laki yang akrab disapa Yono itu.

Hanya, ketersediaan buruh tani kian terbatas. Mendapatkannya tak mudah. Apalagi bila musim penghujan.

Baca Juga: Lipsus Dampak Kemarau Panjang Terhadap Pertanian: Pengambilan Air Tanah Harus Diimbagi Perawatan

Saat ketika masa pengolahan lahan hampir bersamaan. Para petani pun seakan berebut mendapatkan pekerja.

Penyebabnya, menurut Yono, adalah regenerasi. Tidak banyak generasi muda yang mau terjun menjadi buruh tani.

Mereka memilih merantau ke luar daerah. Akibatnya, pemilik lahan sangat bergantung buruh tani langganan.

Bila tidak bisa mendapatkan dampaknya adalah proses kerja yang terhambat. Padahal, bila terlambat panen, bisa kehilangan momentum harga yang bagus.

Di sisi lain, ongkos jasa buruh tani terus naik. Terutama ketika harga bahan bakar minyak (BBM) naik maka upah mereka turut naik.

“Saat ini sekali kerja ongkosnya Rp 55 ribu. Kerja mulai 06.00 hingga 10.00. Bila sore mulai pukul 13.00 hingga 16.30, sekitar tiga setengah jam. Jika satu buruh dua kali kerja dalam sehari, biaya yang dikeluarkan bisa Rp 100 ribu,” urai ketua Asosiasi Petani Cabai Indonesa (APCI) Kabupaten Kediri ini.

Lalu, mengapa pekerjaan sebagai buruh tani mulai langka? Salah satu alasannya adalah soal pekerjaan yang musiman dan upah yang masih rendah.

“Kerja buruh tani itu tidak menentu,” keluh Pitoyo, buruh tani dari Desa Petungroto, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri.

Biasanya mereka hanya mendapat pekerjaan selama beberapa hari saja. Setelah itu tidak memiliki garapan.

Dalam sebulan seringkali mereka hanya mendapat order beberapa hari saja.

“Kadang kerja tiga hari, berikutnya beberapa minggu tidak kerja,” jelasnya. Bila tidak ada yang menyuruhnya menggarap sawah Pitoyo pun harus mencari pekerjaan lain. 

Tentu pekerjaan serabutan. Seperti mencari pakan dan merawat ternak. Ketika sedang mendapat pekerjaan Pitoyo mengakui memang mendapat upah Rp 100 ribu sehari.

Namun, itu untuk pekerjaan yang tidak berlangsung setiap hari. Apalagi, saat ini banyak petani yang memilih berhemat.

Mengerjakan sendiri pekerjaan yang bisa mereka lakukan. “Lek pas (bila giliran, Red) kerjaan berat baru petanine pados (petaninya cari, Red) buruh (tani),” jelas laki-laki 30 tahun itu.

Editor : Shinta Nurma Ababil
Sumber : Radar Kediri
petani buruh tani hari tani nasional