Tak Kreatif dan Inovatif, Terancam Tertinggal
Banyaknya lembaga kursus bahasa Mandarin di Kampung Inggris, jelas memicu persaingan ketat. Tapi, situasi seperti itu tak dianggap beban oleh pengelola lembaga kursus.
“Justru saya senang, (ibaratnya) semakin banyak penjual berarti semakin banyak pembeli,” dalih Mr Bay dari Mandarich Chinese School.
Baginya banyaknya lembaga bahasa Mandarin di Kampung Inggris adalah tanda positif.
Bahwa bahasa Mandarin menjadi potensi besar apabila terus dikembangkan. Orang tak berani membuka lembaga kursus bila peminatnya kecil.
"Banyak teman-teman di sini yang konsultasi ke saya," akunya. Mr Bay juga tak keberatan bila ada pihak lain yang meniru kurikulum tempatnya.
Baca Juga: Ketika Kursusan Mandarin dan Arab Menyeruak di Kampung Inggris Pare (1) Dulu Tak Laku, Kini Diburu
Hanya, dia menjelaskan, dia tak serta merta menggantungkan pada momentum meningkatnya kebutuhan bahasa Mandarin saja. Sebagai pelaku usaha, juga terus melakukan inovasi.
Tujuannya agar lembaganya bisa terus berkembang. Mulai dari memberikan fasilitas belajar yang nyaman hingga memberi pelayanan yang terbaik.
"Biarkan konsumen yang memilih," katanya.
Menurutnya, lembaga bahasa Mandarin masih berpotensi berkembang di Kampung Inggris.
Suasana belajar di Kampung Inggris menjadi daya tarik tersendiri. Lingkungan mendorong para pelajar bisa lebih cepat dalam mengasah skill bahasanya.
"Belajarnya lebih fokus dan biaya hidup di sini juga lebih terjangkau," tambahnya.
Serupa, Rofi', pengelola SOS Course & Training, juga menyambut positif ada lembaga baru bahasa Mandarin.
Dia juga sering memberi konsultasi bagi mereka yang ingin membuka lembaga kursus bahasa ini. Baginya yang terpenting adalah bisa berbagi ilmu.
"Tentunya juga kami terus perbaiki kualitas dan fasilitas," tandasnya.
Sementara itu, pengamat ekonomi Dr Subagyo, MM menilai fenomena lembaga bahasa asing di Kampung Inggris harus dilihat dalam kacamata yang lebih luas.
Yaitu sebagai pengembangan sumber daya manusia (SDM) menghadapi pasar global.
“Fenomena ini tak hanya didorong kebutuhan industry, juga peluang kerja di luar negeri, meningkatnya kesempatan studi dan beasiswa dari negara-negara tersebut. Karena itu, pemerintah perlu mendorong sinergi antara lembaga kursus, dunia pendidikan, industri, dan lembaga penempatan tenaga kerja. Agar perkembangan tersebut benar-benar meningkatkan kualitas SDM,” terang dosen Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri ini.
Selain itu, pengelola kursus perlu memiliki pembeda sekaligus meningkatkan kualitas layanan.
Baca Juga: Liburan di Kampung Inggris Kediri, Harus Cek Izin Operasional Lembaga Kursus
Program perlu disesuaikan dengan tujuan peserta. Agar kemampuan bahasa yang didapat memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan mereka.
“Pengelola kursus harus meningkatkan kualitas dan melakukan diferensiasi. Tidak hanya bersaing harga. Lembaga tidak sekadar menjual kursus bahasa tetapi menawarkan kompetensi dan kesiapan memasuki pendidikan maupun pasar kerja internasional,” urai Subagyo.
Apalagi, saat ini tidak hanya persaingan antarlembaga kursus di Kampung Inggris saja.
Keberadaan Kampung Inggris juga disaingi tempat lain. Daerah-daerah itu menawarkan belajar bahasa yang terpusat.
Kampung Inggris Pare pun menghadapi tantangan mempertahankan daya tariknya. Tidak cukup hanya mengandalkan sejarah dan nama besar yang sudah melekat.
Pemerintah maupun lembaga kursus perlu memastikan Pare tetap menjadi rujukan bagi masyarakat yang ingin belajar bahasa asing.
Pemerintah dapat mengambil peran melalui penguatan branding, infrastruktur, promosi, hingga membangun jejaring lebih luas dengan perguruan tinggi dan dunia industri.
“Agar Pare tetap menjadi rujukan nasional,” ujar Subagyo.
Baca Juga: Lipsus Hari Udara Bersih Internasional (2): Polusi Bikin Penuaan Dini, Ini Kata DLHKP!
Bagi pengelola kursus, inovasi jadi hal wajib. Keunggulan tidak cukup hanya berupa banyaknya pilihan lembaga, juga kualitas dan relevansi program yang ditawarkan.
Menurut Subagyo, kursusan perlu membaca perubahan kebutuhan peserta. Ketika bahasa Mandarin, Jepang, Korea maupun bahasa lain semakin diminati karena peluang kerja dan pendidikan, lembaga perlu menyesuaikan materi pembelajaran dengan kebutuhan tersebut.
“Sehingga keunggulan Pare tidak hanya terletak pada sejarahnya, juga pada kualitas, pilihan program, ekosistem, dan pengalaman belajar yang sulit ditiru daerah lain,” jelasnya.
Perkembangan lembaga kursus bahasa asing tersebut pada akhirnya tidak hanya berdampak pada sektor pendidikan.
Juga menghidupkan berbagai usaha pendukung yang tumbuh di kawasan Kampung Inggris dan sekitarnya.
Baca Juga: Mau Belajar Bahasa Inggris Tanpa Camp? Ini Pilihan Program Belajar Non Camp di Kampung Inggris Pare
Kos-kosan, kuliner, laundry, transportasi, hingga UMKM menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang bergerak. Semakin banyak peserta datang dan tinggal dalam periode tertentu, semakin besar pula perputaran ekonomi yang tercipta di kawasan tersebut.
“Karena itu, perkembangan kursus bahasa asing berpotensi memperkuat posisi Pare bukan hanya sebagai Kampung Inggris, juga sebagai pusat pendidikan bahasa dan pengembangan SDM internasional,” tegasnya.
Editor : Ayu IsmawatiSumber : Radar Kediri