Dulu Rp 15 Ribu Tak Laku, Kini Rp 20 Juta pun Diburu
Beberapa tahun usai goyah karena Pandemi Covid-19, Kampung Inggris Pare kian menggeliat. Tak hanya kebanjiran pelajar dari penjuru Nusantara, juga bermunculan kursus bahasa asing non-English. Terutama bahasa Mandarin.
Rofi' Zakaria menerawang. Kenangannya jauh mundur ke beberapa tahun silam, pada 2016. Ketika kursus bahasa Mandarin yang di lembaganya mulai mendapat siswa dalam jumlah yang lumayan.
"Seingat saya tujuh orang yang mendapat beasiswa ke Tiongkok itu kursus di saya," terang pengelola SOS Course & Training itu, saat ditemui di rumahnya, di Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare.
Baginya jumlah tersebut tergolong banyak. Terutama untuk situasi saat itu. Perbandingannya, sejak dirinya membuka kelas bahasa Mandarin pada 2013, peminatnya sangat kecil. Paling banyak lima orang.
Baca Juga: Liburan di Kampung Inggris Kediri, Harus Cek Izin Operasional Lembaga Kursus
Padahal biaya yang dia kenakan sangat murah. Hanya Rp 15 ribu untuk sepuluh kali pertemuan. Itun sering dia beri diskon.
"Itu nggak ada yang mau kursus. Kalau ada ya mentok tiga atau lima anak," kenangnya.
Toh, kondisi seperti itu tak membuatnya menutup program bahasa Mandarin. Alasannya, dia tak ingin kemampuan bahasa Mandarin yang dimiliki, juga sang istri, hilang karena tak dipraktikkan.
Baca Juga: Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Industri: Masa Depan Kampung Inggris dalam Bingkai Pemberdayaan
Keteguhannya itu berbuah manis. Bertahun-tahun kemudian tren bahasa Mandarin meningkat. Terutama ketika lembaga pendidikan di Negeri Tirai Bambu itu banyak membuka peluang belajar dengan fasilitas beasiswa.
Momentum juga terjadi ketika ada Pandemi Covid-19. Banyak pelajar yang terpaksa balik ke tanah air karena Tiongkok melakukan karantina dan pembatasan pendatang. Akhirnya, sebagian memilih belajar bahasa Mandarin di Kampung Inggris.
Tak hanya itu, masuknya investor Tiongkok di Indonesia membuat minat pada bahasa ini meningkat pesat. Dengan kata lain, kebutuhan bekerja menjadi pendongkrak utama berkembangnya lembaga bahasa Mandarin di Kampung Inggris Pare.
"Pemicu awal memang dari Tiongkok yang mulai terbuka untuk pelajar internasional. Ditambah lagi perusahaan mereka yang ada di Indonesia seperti perusahaan tambang. Nah itu sampai sekarang yang membuat bahasa Mandarin berkembang. Jadi kalau dulu Rp 15 ribu mereka nggak mau, sekarang Rp 20 juta mereka akan bayar. Karena mereka melihat peluang setelah belajar itu seperti apa," urainya panjang lebar.
Permintaan tinggi ini membuat banyak bermunculan lembaga kursus bahasa Mandarin. Salah satunya adalah Mandarich Chinese School, yang berdiri pada 2025. Pengelolanya adalah sosok bernama M. Baidlowi.
"Jadi kebutuhannya memang beda dengan bahasa Inggris. Kalau bahasa Mandarin itu untuk dapat kerjanya itu lebih mudah. Karena kebutuhannya besar, misalnya untuk menjadi translator. Itu kebutuhannya nggak di luar Jawa aja, di sini juga banyak," jelas pria yang akrab disapa Mr Bay tersebut.
Hal itu juga diakui oleh Ahmad Farih, ketua Forum Kampung Bahasa (FKB). Berdasarkan informasi terbaru, ada sembilan lembaga kursus bahasa Mandarin yang berdiri di Kampung Inggris.
"Dulu pemainnya mungkin ada dua atau tiga lembaga ya. Beberapa lembaga bahasa Inggris juga ada yang (membuka) lembaga bahasa Mandarin," terangnya.
Bagaimana dengan bahasa lain, bahasa Arab misalnya? Menurut Farih, tempat kursus bahasa Arab juga banyak.Termasuk pula bahasa Jepang, Jerman, atau Korea. Meskipun peminatnya tak sebanyak Mandarin.
Khusus bahasa Arab, sebenarnya hadir bersamaan dengan munculnya Kampung Inggris. Konon, menurut Farih, saat itu bahasa Arab dikembangkan oleh murid lain Ustad Yazid selain Mr Kalend, sosok yang dikenal sebagai pionir terbentuknya Kampung Inggris.
"Kampung Inggris dulu itu, awal ustadz Yazid mengajar Pak Kalend dan murid-muridnya, kan ada yang bahasa Inggris dan bahasa Arab. Pak Kalend yang kemudian mengembangkan bahasa Inggris. Sedangkan murid-murid ustadz Yazid yang lain ada yang membuka bahasa Arab," cerita Farih.
Namun demikian, antusias masyarakat untuk bahasa Inggris ternyata lebih besar. Oleh karenanya, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare lebih dikenal dengan mana Kampung Inggris. Toh, itu tak menghalangi bahasa-bahasa lain berkembang. (emilia susanti/fud)
Sumber : Radar Kediri