JP Radar Kediri - Menurunnya jumlah perajin bata merah di sejumlah sentra di Kabupaten Kediri tidak semata-mata berkurangnya permintaan. Mahalnya harga bahan baku, proses produksi yang panjang, hingga sulitnya regenerasi perajin juga menjadi persoalan. Membuat keberlangsungan usaha itu terancam.
“Bahan bakunya itu semakin sulit, terutama tanah liat. Perajin harus membeli dan mendatangkan dari tempat lain. Setelah itu biayanya jadi semakin tinggi,” tengara pengamat ekonomi Dr Subagyo.
Dosen di Universitas Nusantara PGRI itu melanjutkan, proses pembuatan bata merah yang panjang turut memengaruhi biaya produksi. Tanah liat harus diolah terlebih dahulu sebelum dicetak. Setelah itu bata dikeringkan, disusun, dibakar, hingga didinginkan sebelum dipasarkan.
Proses tersebut juga sangat bergantung cuaca. Saat musim penghujan, tahapan pengeringan menjadi salah satu kendala yang dapat menghambat produksi.
Baca Juga: Lipsus Dampak Kemarau Panjang Terhadap Pertanian: Pengambilan Air Tanah Harus Diimbagi Perawatan
Di sisi lain, regenerasi perajin juga menjadi persoalan. Pekerjaan membuat bata merah yang sebelumnya banyak diwariskan secara turun-temurun kini mulai kurang diminati generasi muda.
“Generasi sekarang lebih memilih bekerja di industri, perdagangan, atau sektor jasa. Minat untuk meneruskan usaha perajin bata merah juga berkurang,” jelasnya.
Persaingan dengan material bangunan alternatif turut menambah tantangan. Bata ringan dan batako, misalnya, diproduksi dengan teknologi yang lebih modern. Menjadikan pengerjaannya lebih praktis dan harganya lebih murah.
Subagyo menilai kondisi tersebut merupakan bagian dari transformasi ekonomi di daerah. Karena itu, perajin yang masih bertahan tidak cukup hanya mempertahankan produksi bata merah secara konvensional.
Baca Juga: Lipsus Hari Udara Bersih Internasional (2): Polusi Bikin Penuaan Dini, Ini Kata DLHKP!
Salah satu peluangnya adalah meningkatkan nilai produk berbahan tanah liat. Bata merah dapat diarahkan menjadi produk premium dengan nilai arsitektural. Selain itu, tanah liat juga bisa dikembangkan menjadi kerajinan lain.
“Bisa juga dibuat kerajinan-kerajinan tanah liat. Seperti pot, vas, ornamen taman, atau suvenir. Nilainya bisa lebih tinggi. Tapi memang harus ada pelatihan-pelatihan untuk pengrajinnya,” katanya.
Menurut Subagyo, pemerintah memiliki peran penting untuk menjaga agar potensi tersebut tidak hilang. Langkah awal yang diperlukan adalah pemetaan. Pemerintah perlu mengetahui jumlah kelompok perajin yang masih aktif, ketersediaan dan kualitas tanah liat, potensi produk, hingga peluang pasarnya.
Jika potensinya masih memungkinkan, pelatihan diberikan untuk meningkatkan keterampilan perajin. Studi tiru ke daerah lain yang telah berhasil mengembangkan produk berbahan tanah liat juga dapat dilakukan.
Baca Juga: Lipsus Melihat Dancer Sound Horeg, Antara Hobi, Tuntutan Ekonomi, dan Obat Pereda Nyeri (3)
“Jangan sampai pemerintah hanya memberikan motivasi tanpa ada bantuan untuk awal. Misalnya diberikan mesin atau tungkunya yang modern,” terang Subagyo.
Pendampingan juga dapat melibatkan berbagai pihak. Perguruan tinggi dapat membantu dari sisi desain dan pengembangan produk. Sementara Dinas Koperasi maupun Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dapat dilibatkan dalam pelatihan, pengembangan usaha, hingga akses pasar.
Menurutnya, ekosistem tersebut penting agar perajin tidak berjalan sendiri. Pengembangan produk harus dibarengi dengan penciptaan pasar.
Selain produksi, pemasaran menjadi bagian yang perlu dibenahi. Produk berbahan tanah liat yang selama ini identik dengan produk tradisional perlu diubah. Dikemas dengan pendekatan yang sesuai dengan pasar saat ini.
Subagyo mendorong digitalisasi pemasaran melalui media sosial dan e-commerce. Branding sentra maupun produk juga perlu diperkuat agar lebih mudah dikenal konsumen.
Baca Juga: Lipsus Hari ASI Sedunia (2) : Sibuk Kerja, Motivasi Beri ASI Ekslusif Rendah, Ini Alasannya!
Desain produk, lanjutnya, juga harus disesuaikan dengan target pasar. Karakter konsumen Gen Z tentu berbeda dengan milenial maupun generasi lainnya.
“Harus fokus untuk siapa produk itu. Nanti pemerintah bisa menjadi fasilitator dan bekerja sama dengan Kadin untuk menciptakan pasar,” ujarnya.
Pasar yang dibidik juga tidak harus berhenti di wilayah lokal. Produk berbahan tanah liat dapat diarahkan ke pasar nasional. Termasuk daerah wisata seperti Bali. Jika kualitas dan kapasitas produksi memenuhi, peluang pasar ekspor juga terbuka.
Namun, kualitas tetap menjadi kunci. Mulai dari proses produksi, desain, hingga konsistensi produk harus diperhatikan. Tujuannya agar mampu memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas.
Baca Juga: Lipsus Hari ASI Sedunia (2) : Sibuk Kerja, Motivasi Beri ASI Ekslusif Rendah, Ini Alasannya!
Subagyo mengingatkan, apabila regenerasi tidak segera diatasi, sentra bata merah berpotensi terus menyusut. Jika tidak ada perajin yang melanjutkan, produksi lama-kelamaan dapat berhenti. Karena itu diperlukan langkah untuk mengubah potensi yang ada menjadi sentra kerajinan berbahan tanah liat dengan produk yang memiliki nilai tambah.
“Bukan mengambil alih usaha pengrajin, tapi menciptakan ekosistem agar transformasi dari kerajinan bata merah menjadi sentra kerajinan berbahan tanah liat,” tandasnya.
Editor : Shinta Nurma Ababil
Sumber : Radar Kediri