JP Radar Kediri - Puluhan tahun warga di desa-desa ini menyandarkan hidup pada industri rumahan bata merah. Menjadikan usaha itu sebagai penghasilan utama. Kini, mahalnya bahan baku menggerus jumlah para perajinnya.
Namanya Tugiyem. Usianya sudah 75 tahun. Tinggal di Desa Plemahan, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri.
Nyaris separo usianya dia gunakan sebagai seorang perajin bata merah. 30 tahun lamanya. Setelah awalnya sempat membuat genting, bahan bangunan yang juga sama-sama dari tanah liat.
“Proses (membuat) bata merah lebih mudah,” akunya, memberi alasan mengapa berpindah dari genting ke bata merah.
Perempuan ini menekuni pembuatan bata merah tak sekadar faktor turun-temurun. Namun hasil yang didapat memang mampu menopang kehidupannya. Tapi, itu cerita lama. Kini sudah tidak sama lagi.
Baca Juga: Lipsus Dampak Kemarau Panjang Terhadap Pertanian: Pengambilan Air Tanah Harus Diimbagi Perawatan
“Pokoknya bikin saja sedapatnya. Setelah dibakar, kalau ada orang beli ya dijual,” ucapnya, menggambarkan kondisi usahanya saat ini yang suram.
Memang, aktivitas produksi Tugiyem tak seperti dulu lagi. Usia membuatnya tak mempu mengerjakan seluruh proses sendiri. Dia membeli tanah liat dari pemasok. Kemudian memanfaatkan jasa orang lain untuk proses produksi, menghaluskan dan membantu proses cetak.
Produksinya pun tidak menentu. Pembakaran bata tidak rutin. Menyesuaikan jumlah produksi dan permintaan. Bila perajin yang masih muda bisa melakukan setiap tiga hingga empat bulan. Sedangakn Tugiyem terkadang butuh waktu hingga tujuh bulan, atau bahkan setahun.
“Kadang tiga bulan sudah laku. Tidak bisa diandalkan yang penting laku buat beli beras,” pasrahnya.
Baca Juga: Lipsus Hari Udara Bersih Internasional (2): Polusi Bikin Penuaan Dini, Ini Kata DLHKP!
Tugiyem menjual bata merah seharga Rp 600 ribu per seribu biji. Keuntungannya, sangat tipis. Terpotong banyak untuk pembelian bahan baku dan kayu bakar yang semakin mahal.
Dia membandingkan kondisi sekarang dengan masa awal menjalankan usaha. Dulu, kayu bakar sekitar Rp 150 ribu. Sedangkan tanah liat Rp 125 ribu. Bata dapat dijual sekitar Rp 500 ribu per seribunya. Sehingga masih menyisakan keuntungan lumayan.
Kalau sekarang? Harga kayu bisa mencapai Rp 850 ribu! Sementara tanah satu truk engkel sekitar Rp 290 ribu. Bahan itu untuk menghasilkan sekitar dua ribu bata.
“Dijual Rp 600 ribu itu tinggal berapa untungnya? Pokoknya bisa kerja tiap hari, ya itu untungnya,” tuturnya.
Parahnya, penjualannya juga tidak pasti. Sebagian pembeli datang dari luar desa, bahkan luar daerah. Ongkos pengiriman pun harus diperhitungkan.
Baca Juga: Lipsus Melihat Dancer Sound Horeg, Antara Hobi, Tuntutan Ekonomi, dan Obat Pereda Nyeri (3)
Musim juga memengaruhi produksi. Saat hujan, Tugiyem bisa tidak bekerja hingga empat bulan. Sulit mendapatkan tanah dan proses pengeringan bata terhambat. Sebaliknya, saat kemarau bahan baku lebih mudah didapat tetapi permintaan belum tentu meningkat.
“Kalau sama-sama ada barang ya sepi. Kalau yang produksi sedikit ya bisa cepat laku,” lanjutnya.
Tugiyem menyebut kini sudah banyak perajin yang berhenti. Dulu ada 20 perajin di lingkungannya. Kini tersisa enam orang, termasuk dirinya!
Problemnya? Modal! Perajin harus memiliki uang untuk membeli tanah, kayu bakar, hingga membayar tenaga kerja.
Kepala Desa Plemahan Sugeng membenarkan penurunan jumlah pelaku usaha bata merah di desanya. Dulu Plemahan dikenal sebagai sentra batu bata, terutama di Dusun Setoyo.
“Bahan bakunya mahal,” dalih Sugeng.
Kondisi serupa terjadi di Desa Ngreco, Kecamatan Kandat. Perajin bata merah menyusut tajam.
“Dulu hampir setiap rumah produksi, sekarang tinggal belasan saja. Bahannya mahal dan modalnya tidak ada, membuat banyak yang beralih,” kata Pujiati, 65.
Harga jual bata di wilayah ini sekitar Rp 450 ribu per seribu biji. Sementara biaya kayu menjadi salah satu pengeluaran yang sangat besar.
Di Desa Blabak, yang masih satu kecamatan, juga setali tiga uang alias sama saja. Dulu hampir semua rumah adalah pelaku usaha. Kini bisa dihitung dengan jari.
Problemnya sama, bahan baku. Apalagi kini perajin sudah tak bisa lagi mengandalkan tanah sendiri di halaman belakang sebagai bahan baku.
“Kalau beli tanah untuk dikeruk harganya mahal. Sedangkan penjualan batanya lama. Makanya sudah banyak yang berhenti. Paling yang masih hanya yang telaten,” terang Kades Blabak Tomboyaki.
Baca Juga: Lipsus Hari ASI Sedunia (2) : Sibuk Kerja, Motivasi Beri ASI Ekslusif Rendah, Ini Alasannya!
Selain itu, perajin juga menghadapi perubahan pilihan material bangunan. Bata merah kini harus bersaing dengan bata ringan dan batako.
Bagi perajin yang masih bertahan, produksi bata merah bukan lagi sekadar pekerjaan turun-temurun. Usaha tersebut menjadi cara untuk tetap memperoleh penghasilan meski keuntungan yang didapat semakin tipis.
“Yang penting saya tidak nganggur,” aku Tugiyem.
Para perajin yang masih bertahan juga masih mengandalkan proses produksi secara manual. Itu juga yang membuat ongkos produksi tinggi serta waktunya lama. Juga, terpengaruh musim dan cuaca.
Apalagi, Ketersediaan bahan baku menjadi semakin penting. Sekarang tidak semua lokasi masih bersedia menjual tanah liat untuk kebutuhan produksi. Keberlangsungan mereka bergantung pada harga bahan baku, biaya produksi, cuaca, dan daya serap pasar. Ketika harga jual turun sementara biaya bahan baku dan distribusi meningkat, margin yang diterima perajin ikut semakin tertekan. Pertanyaannya sekarang adalah, sampai kapan para perajin ini mampu bertahan?
Editor : Mahfud
Sumber : Radar Kediri