Lipsus Dampak Kemarau Panjang Terhadap Pertanian: Pengambilan Air Tanah Harus Diimbagi Perawatan

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 01:14 WIB
Ilustrasi dampak kekeringan di sektor pertanian (Ilustrator: Afrizal)
Ilustrasi dampak kekeringan di sektor pertanian (Ilustrator: Afrizal)

JP Radar Kediri - Dampak kemarau panjang terhadap pertanian tidak berhenti pada persoalan ketersediaan air. Tanaman hortikultura, terutama sayuran, dinilai lebih rentan terhadap cuaca panas dan kekeringan.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Kadiri (Uniska) Dr Evy Rokhana mengatakan, sayuran seperti sawi, kangkung, dan bayam membutuhkan pasokan air yang cukup. Ketika air berkurang, tanaman mudah layu. Pertumbuhan daun pun tidak maksimal sehingga berpengaruh terhadap produksi.

“Kalau sayur yang diambil terutama bagian daun dan batang, kebutuhan airnya lebih banyak. Saat kekurangan air, daunnya mudah layu, lebarnya tidak maksimal, produksi daunnya juga berkurang,” terang Evy.

Baca Juga: Lipsus Hari Udara Bersih Internasional (2): Polusi Bikin Penuaan Dini, Ini Kata DLHKP!

Tidak hanya pertumbuhannya saja, tanaman yang kekurangan air dan terpapar suhu tinggi akan mengalami stres. Kondisi tersebut menurut Evy membuat daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit maupun hama menurun. Berbeda dengan sayuran, tanaman jagung dan tebu memiliki toleransi lebih baik terhadap kondisi kritis dibandingkan sayuran.

Kemarau panjang, lanjut Evy, memaksa petani mengandalkan sumber air mandiri. Diesel dan sumur bor menjadi alternatif ketika pasokan dari irigasi atau sungai tidak mencukupi. Namun, penggunaan air tanah secara terus-menerus perlu diimbangi perencanaan.

“Kalau tidak ada perencanaan yang bagus, justru nanti bisa mengganggu ketersediaan air di masa berikutnya karena diambil terus,” ujarnya.

Belum lagi, penggunaan diesel juga menambah beban petani. Selain biaya bahan bakar, diperlukan tenaga untuk mengontrol mesin dan pengairan. Dari sisi lingkungan, pembakaran bensin atau solar juga menghasilkan polutan sehingga penggunaan diesel dinilai kurang ramah lingkungan.

Baca Juga: Lipsus Melihat Dancer Sound Horeg, Antara Hobi, Tuntutan Ekonomi, dan Obat Pereda Nyeri (3)

Karena itu, menurut Evy distribusi dan pemanfaatan air antarpelaku pertanian perlu ditata. Pemerintah, kelompok tani, dan desa dapat berperan dalam memastikan sumber air digunakan secara proporsional sehingga tidak berujung pada eksploitasi.

Selain itu, Evy menilai teknologi sumur submersible jadi salah satu solusi yang cukup efektif dalam kondisi kekeringan seperti sekarang. Terutama untuk tanaman yang sudah telanjur ditanam dan membutuhkan air agar investasi petani tidak sia-sia.

“Dengan kondisi seperti ini, yang tercepat itu pembuatan sumur bor menggunakan sible. Tanaman sudah tumbuh dan biaya sudah dikeluarkan, tentu sayang kalau dibiarkan karena kekurangan air,” jelasnya.

Ke depan, ia berharap pemerintah dapat memperkuat perencanaan distribusi air. Terutama ketika menghadapi anomali iklim. “Dukungan terhadap teknologi pengairan perlu berjalan beriringan dengan tata kelola sumber daya air agar solusi menghadapi kemarau tidak menciptakan persoalan baru di kemudian hari,” tandasnya.

Baca Juga: Lipsus Tempat Nongki Kekinian (1) : Kala Tempat Nongki Kekinian Menjamur hingga Pelosok Desa, Viralitas Sesaat atau Kreativitas?

Terpisah, Guru Besar Agribisnis Pascasarjana Universitas Islam Kadiri (Uniska) Prof Sumarji mengatakan, tanaman hortikultura sebenarnya masih mampu berproduksi dengan baik selama kebutuhan air tercukupi. Bahkan, musim kemarau dapat menjadi waktu yang baik untuk sejumlah komoditas karena serangan penyakit cenderung lebih rendah.

“Untuk daerah-daerah yang punya (sumur sumbersible) sible maupun diesel, di musim kemarau ini malah luar biasa bagus untuk produktivitas karena serangan penyakitnya rendah,” ujarnya.

Dia mencontohkan bawang merah di Nganjuk yang produksinya justru bagus ketika ditanam saat kemarau. Cabai juga masih potensial dibudidayakan selama ketersediaan air mencukupi.

Sebaliknya, petani yang tidak memiliki sumber air harus mengeluarkan biaya lebih besar. Penggunaan tangki untuk menyuplai air ke lahan dinilai membuat biaya produksi semakin tinggi.

Baca Juga: Lipsus Hari ASI Sedunia (2) : Sibuk Kerja, Motivasi Beri ASI Ekslusif Rendah, Ini Alasannya!

Kemarau panjang, tutur Prof Sumarji, juga membuat kebutuhan pengairan meningkat. Meski demikian, tingginya permintaan sayuran membuat petani masih tertarik menanam komoditas yang relatif membutuhkan lebih sedikit air seperti kacang panjang.

“Petani dengan kondisi kemarau yang sangat panjang ini masih tertarik untuk tanam sayur, terutama yang tidak membutuhkan air banyak,” katanya.

Karena itu, dia menilai program pemerintah memperbanyak sumur dalam dengan pompa submersible cukup efektif untuk membantu petani menghadapi musim kemarau. “Jadi sangat dibutuhkan di musim kemarau. Dan biaya sible itu lebih murah dibandingkan diesel,” tegasnya.

Senada dengan Evy, Prof Sumarji menilai pemanfaatan air tanah tetap perlu diimbangi dengan menjaga keseimbangan ekosistem. Menurutnya penggunaan air dalam tidak menjadi persoalan selama kawasan resapan dan lingkungan tetap terjaga.

“Kalau kita bicara pemanfaatan air dalam itu biasanya di bawah 30 meter dalam. Pengaruh terhadap lingkungan nggak ada karena air dalam,” tandasnya menekankan pentingnya penghijauan. 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri
liputan khusus radar kediri kabupaten kediri kemarau panjang Kekeringan Air petani sayur