Tepat hari ini (14/9) merupakan peringatan Hari Kunjung Perpustakaan. Di bulan yang sama, juga dimaknai sebagai bulan gemar membaca. Pertanyaan mendasarnya adalah, sudahkan budaya literasi itu tumbuh di masyarakat?
Bocah-bocah itu mulai berdatangan. Menyemut di sekeliling sepeda motor beroda tiga yang terparkir di Taman Brantas. Buku-buku yang tersusun rapi di bagian belakang kendaraan itu menjadi penarik perhatian.
Mata mereka mencoba memilih judul mana yang akan dibaca. Tentu saja, laiknya bocah seumuran mereka, diselingi canda dengan teman-teman.
Setelah mendapat buku yang mereka mau, bocah-bocah usia sekolah dasar (SD) itu bergegas mencari tempat. Mendapatkan yang paling nyaman untuk menghabiskan halaman demi halaman. Duduk di kursi-kursi taman yang banyak terpasang. Atau berselonjor di bawah rerindangan dahan pohon.
Baca Juga: Kamar, Kafe, atau Perpustakaan, Mana yang Lebih Mendukung Fokus Belajar?
Seperti itulah pemandangan yang rutin tergambar di Sabtu pagi. Waktu ketika kendaraan perpustakaan keliling itu ngetem di Taman Brantas, salah satu ruang terbuka hijau di tepi sungai yang menjadi tempat favorit warga untuk bersantai dan berolahraga.
Warna kendaraan yang mencolok, dengan berbagai buku yang dipajang, tentu menarik perhatian. Khususnya para bocah, yang penasaran dengan buku anak-anak yang tersaji.
Di antara yang terpikat itu adalah Riski. Bocah yang rumahnya di Kelurahan Mojoroto itu kepincut buku cerita bergambar. Buku yang membahas soal candi-candi di Indonesia.
“Dari jauh anaknya sudah penasaran. Sampai tadi tanya, Bu, itu apa? Boleh nggak aku baca-baca? Takut disuruh beli, katanya,” kelakar Hesti, ibunda Riski.
Baca Juga: Kebut Rehab Perpustakaan Umum Daerah Kota Kediri, Proyek Ditargetkan Rampung Oktober
Bocah kelas 2 SD itu mengaku penasaran dengan gambar candi di buku itu setelah sebelumnya baru mengunjungi objek candi di Jogjakarta. Sebagaimana bocah seusianya, dia memang cenderung lebih tertarik dengan buku yang dilengkapi gambar-gambar menarik dan interaktif.
“Suka buku-buku yang ada gambarnya. Gambar-gambar hewan, astronot,” celutuknya, dengan keluguan khas bocah seusianya.
Perpustakaan mini di taman itu adalah pengalaman pertama Riski. Dan, kesan pertama yang terpikat itu membuat sang ibunda girang.
Kegembiraan Hesti bukan tanpa alasan. Membiasakan anak-anak membaca di zaman sekarang bukan hal yang mudah. Keterbatasan akses terhadap bacaan berkualitas hingga pengaruh perkembangan teknologi jadi kendalanya.
Baca Juga: AI Mengubah Cara Masyarakat Mencari Informasi, Perpustakaan Mulai Sesuaikan Layanan
“Sekarang itu anak-anak kalau di rumah ya sudah (bermain) HP terus. (Tak pernah) membaca buku. Pulang sekolah sudah siang, belum les, ekstrakurikuler, ngaji. Dulu waktu TK masih sering saya bacakan buku-buku dongeng,” dalihnya, sedikit membela.
Usia Riski kini 8 tahun. Menyuruhnya membaca buku pun tak semudah dulu. Mereka baru mau bila benar-benar tertarik dengan buku. Salah satu caranya lewat visual buku yang menarik dengan gambar-gambar yang beragam.
“Kadang-kadang anak itu suka cepat bosan. Jadi bukunya ya harus menarik. Terus diperbarui. Seperti di TK tempat saya ngajar, itu kan ada pojok baca juga. Anak-anak itu juga kritis, bu, kok tidak ganti-ganti bukunya? Gitu,” ungkap perempuan yang juga pengajar di taman kanak-kanak (TK) itu.
Karena itu dia berharap akses terhadap buku-buku berkualitas bisa semakin terbuka bagi semua anak. Dia pun senang melihat perpustakaan keliling mulai hadir di ruang terbuka hijau seperti Taman Brantas, tempat yang rutin dia kunjungi untuk menghabiskan akhir pekan bersama putranya.
Baca Juga: Perpustakaan Mastrip Kediri Kembangkan Katalog Online hingga E-Book, Ini Deretan Inovasi pada 2026
“Mungkin perlu diperbanyak lagi ya. Karena bagus sih di taman-taman disediakan seperti ini. Tadi sampai anak saya saja penasaran,” tandas Hesti.
Renny Anggita, pengunjung Taman Brantas lainnya, juga mengaku baru kali ini menemui perpustakaan keliling di taman. Di Sabtu pagi itu, dia memang rencananya hanya berkeliling dan mengajak anak-anaknya bermain di taman.
“Ini tadi variasi bukunya banyak kok. Ada buku bacaan untuk orang dewasa, ada juga untuk anak-anak. Jadi di sini nggak cuma bisa bermain saja, tapi juga bisa membaca untuk edukasi anak-anak,” ujar perempuan asal Kelurahan Kaliombo, Kecamatan Kota itu.
Menghadirkan buku-buku bacaan di taman menurutnya ide menarik. Apalagi bagi seorang ibu sepertinya yang butuh ruang bermain sekaligus edukasi bagi anak-anak.
“Apalagi kalau bukunya macam-macam, warna-warni, anak-anak kan jadi bisa tertarik. Karena awalnya kan pasti lihat gambarnya dulu. Kalau sudah tertarik dengan gambarnya, baru mulai membaca. Kalau enggak begitu, ya nggak mau membaca. Di sini ya hanya bermain saja,” ungkap Renny.
Pegiat literasi Kota Kediri Fajar Setiorini menyebut, minat membaca memang belum terbangun di sebagian besar masyarakat. Belum lagi, masih ada stigma di masyarakat yang menilai bahwa membaca adalah aktivitas yang kaku serta identik dengan introvert dan kutu buku.
“Dari pengalaman saya mendampingi kawan-kawan di lapangan, teman-teman yang bergelut di komunitas membaca justru memiliki kualitas tutur kata, kedalaman berpikir, dan artikulasi bicara yang amat baik. Mereka ini sebetulnya kelompok minoritas yang sangat mandiri,” kata Fajar.
Karenanya, membangun literasi masyarakat artinya juga berusaha mengubah pola pikir kuno itu. Membaca harus mulai dimaknai sebagai kebutuhan hidup dan sarana rekreasi pikiran yang menyenangkan. Alih-alih kegiatan yang membebani.
“Mengubah persepsi bawaan ini jauh lebih sulit daripada sekadar membagikan buku. Karena kita harus membongkar asumsi awal masyarakat terlebih dahulu,” sambungnya.
Baginya, meningkatkan literasi masyarakat butuh peran banyak pihak. Tak hanya dari masyarakat dan komunitas buku, juga dorongan dan dukungan pemerintah. Tujuannya untuk menciptakan ekosistem membaca.
Hanya, persoalan juga tidak sederhana. Dia kemudian menyoal akses terhadap buku berkualitas yang masih terbatas.
“Secara kuantitas di titik-titik tertentu, mungkin terlihat ada. Tetapi dari aspek keterjangkauan dan pembaruan koleksi, ketersediaannya masih sangat kurang,” kritik perempuan penulis buku itu.
Misalnya, perpustakaan umum daerah bisa jadi memiliki koleksi buku yang memadai. Namun, aksesnya terbatas di lokasi tertentu.
Di sisi lain, pojok baca yang mulai dihadirkan di sekolah, kantor pelayanan publik, maupun ruang publik lainnya terkendala koleksi. Terbatas dan jarang diperbarui. Padahal yang ini lebih dekat dengan masyarakat.
Editor : Ayu IsmawatiSumber : Radar Kediri