JP Radar Kediri - Kemarau panjang hingga pertengahan September ini turut memukul sektor pertanian. Tak terkecuali para petani hortikultura yang harus kelimpungan menyelamatkan tanaman agar tetap bisa panen.
Cuaca panas, angin kencang, hingga pasokan air yang minim seolah menjadi musuh yang menyerang para petani secara bertubi-tubi. Mereka pun tak punya banyak pilihan selain harus merogoh kantong lebih dalam. Demi memastikan tanamannya tetap bisa berkembang dan panen.
Nuryanto, ketua kelompok tani di Desa Kambingan, Pagu, termasuk salah satunya. Memiliki tanaman cabai yang baru berusia dua bulan, Nuryanto serbasalah. Jika mundur, dia harus menanggung kerugian yang tak sedikit. Maju pun, dia harus mengeluarkan uang yang lebih banyak.
“Tahun ini benar-benar beda. Biasanya Agustus masih ada hujan yang cukup membantu tanaman. Tapi ini nggak ada sama sekali. Malah diperparah dengan angin kencang hingga udara semakin panas,” keluhnya.
Baca Juga: Lipsus Hari Udara Bersih Internasional (1): Bagaimana Kualitas Udara di Kota Kediri?
Angin kencang dan cuaca panas adalah musuh tanaman cabainya. Daun cabai akan mudah rontok dan mengkerut. Akibatnya, pertumbuhan tanaman tidak bisa optimal.
Melihat kondisi tanaman cabainya sekarang, dia juga sudah memperkirakan jika hasil panenannya nanti tidak akan optimal. Untuk memperkecil potensi kerugian, Nuryanto berupaya agar tanamannya bisa bertahan. Yakni dengan menambah nutrisi serta obat semi-organik.
Hal serupa juga dirasakan oleh Jaelani, petani di Desa Sebet, Kecamatan Plemahan. Menurutnya selain panas, angin kencang dan hawa dingin di malam hari juga jadi ancaman. Pada tanaman cabai, kondisi itu bisa membuat daun keriting hingga batangnya ambruk.
Dengan kondisi lahan yang tidak terjangkau saluran irigasi, dia pun mengandalkan sumur bor dan diesel. Memasuki September ini, dia harus menambah jumlah solar untuk pengairan karena durasinya lebih lama. “Airnya mulai berkurang, jadi penyiraman butuh waktu lebih lama. Sekitar dua sampai tiga jam. Sekali pengairan butuh Rp 75 ribu,” ungkapnya.
Baca Juga: Lipsus Melihat Dancer Sound Horeg, Antara Hobi, Tuntutan Ekonomi, dan Obat Pereda Nyeri (1)
Agus Pitlas, 56, petani cabai di Desa Bendo, Pare juga melakukan hal serupa. Dia memilih menyirami tanaman cabainya setiap hari. Sebab, di musim kemarau tanah akan cepat kering. “Telat sedikit saja tanaman mulai layu dan bunganya rontok. Buahnya tidak sebagus biasanya,” kata Agus.
Di musim hujan, lahan seluas seperempat hektare miliknya bisa menghasilkan hingga satu kuintal atau sekitar 100 kilogram cabai. Namun, di kemarau ekstrem seperti sekarang, turun hingga hanya 30-40 kilogram saja atau menyusut sekitar 70 persen.
Dengan merosotnya jumlah panenan, dia tidak bisa menikmati harga tinggi cabai yang berkisar Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram. Fokus Agus kini hanyalah mempertahankan tanaman. Dia rela mendatangkan air dan melakukan penyiraman tambahan.
Tak hanya petani cabai saja. Fahmi Wildan, 25, petani yang menanam gambas juga harus berjibaku dengan pasokan air yang minim. “Ketika tanah terlalu kering, tanaman cepat layu sehingga pertumbuhan sulur dan pembentukan bunga terganggu,” terangnya.
Akibatnya, jumlah gambas yang dipanen juga berkurang. Belum lagi, pertumbuhan buah tidak maksimal baik dari segi ukuran maupun kualitas.
“Jadi harus lebih sering diberi air. Kalau telat air, tanaman gampang layu dan buahnya juga tidak maksimal,” jelas Fahmi.
Tak hanya problem air, petani masih harus berhadapan dengan organisme pengganggu tanaman (OPT). Pengairan yang kurang membuat tumbuhan mudah terserang hama dan penyakit.
Melihat banyaknya tantangan bercocok tanam di musim kemarau ekstrem seperti sekarang, sejumlah petani yang belum telanjur menanam memilih untuk menundanya. Agus Widodo, petani sayur di Desa Asmorobangun, Puncu menyebut sebagian petani memilih mengolah lahan sembari menunggu musim hujan.
Menurutnya baru sekitar 20-30 persen petani saja yang nekat menanam cabai. Pun para petani bawang merah juga hanya sekitar lima persen saja.
“Kalau musim panas begini memang susah. Yang nekat dan punya banyak modal mungkin Juli-Agustus sudah tanam, tapi hanya sekitar 10 persen. Mulai ramai tanam kemungkinan Oktober,” bebernya.
Agus yang biasa menanam cabai juga memilih menanam tomat lebih dulu. Alasannya, tanaman tomat cenderung bisa lebih tahan. Meski, dia tetap harus membeli air tambahan untuk penyiraman.
Baca Juga: Lipsus Hari Udara Bersih Internasional (2): Polusi Bikin Penuaan Dini, Ini Kata DLHKP!
“Sekali pengiriman air butuh biaya sekitar Rp 50 ribu. Sehari kebutuhan air Rp 80 ribu. Kalau modal pas-pasan ya menunggu musim hujan dulu baru menanam,” tuturnya.
Sementara itu, terhambatnya produksi cabai dan aneka sayuran karena faktor cuaca, membuat pasokan di pasar ikut terdampak. Henry Aryawan, pengurus Pasar Induk Pare menyebut pasokan cabai di sana ditopang dari luar Kediri. Baik dari Jawa Tengah maupun Nganjuk.
Adapun sentra cabai di Kediri yang mayoritas dari Kepung dan Puncu belum maksimal. “Kalau tidak disokong cabai dari luar daerah, harga bisa sangat tinggi,” kata Henry.
Terpisah, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri Sukadi mengaku sudah mengantisipasi dampak kemarau ekstrem tahun ini. Salah satunya, mendorong petani beradaptasi dengan memilih jenis tanaman yang bisa bertahan di musim kemarau.
“Petani itu orang yang mudah beradaptasi. Kalau airnya tidak mencukupi untuk menanam padi, mereka menanam jagung,” ujar Sukadi.
Adapun untuk komoditas lainnya, diakui Sukadi membutuhkan pasokan air tambahan. Karenanya, petani harus mencari sumber air alternatif. Sebagian menggunakan sumur dengan diesel, sisanya memanfaatkan sumur submersible.
Baca Juga: Lipsus Hari ASI Sedunia (2) : Sibuk Kerja, Motivasi Beri ASI Ekslusif Rendah, Ini Alasannya!
“Biasanya kalau airnya mudah dari sungai, sekarang tidak dari sungai. Mereka mengambil air dari sumur, entah memakai diesel atau sumur submersible,” jelasnya.
Pemkab Kediri, tutur Sukadi, tahun ini membangun 200 titik sumur submersible menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Jumlah itu belum termasuk ratusan unit submersible dan bantuan pompa diesel dari Pemerintah Pusat.
Pembangunan sumur menurutnya menyasar sejumlah sektor. Mulai tanaman pangan, perkebunan, hingga hortikultura. Distribusinya disesuaikan dengan pemetaan wilayah dan komoditas yang menjadi prioritas.
Di sektor perkebunan ada 83 titik yang mayoritas ditujukan untuk tanaman tebu. Kemudian, di sektor hortikultura ada tujuh titik di Kepung dan Puncu yang merupakan sentra cabai.
Adapun untuk tanaman pangan juga mendapat dukungan dari Pusat. Total ada 325 titik sumur submersible untuk padi dan jagung. Selain itu, ada bantuan APBD mencapai 68 titik. Selebihnya, Pemkab Kediri juga mendapat bantuan 245 unit pompa air diesel dari Pusat.
Sukadi menegaskan, pemetaan dilakukan untuk mengoptimalkan program ketahanan pangan, swasembada gula, dan hortikultura yang menjadi program prioritas. Cabai juga mendapat perhatian karena komoditas tersebut turut berpengaruh terhadap inflasi.
“Setiap bulan kami menginformasikan masalah cuaca. Datanya kami minta dari BMKG, kemudian kami sebarkan kepada petani,” tandas Sukadi tentang upaya dispertabun membantu petani menentukan waktu tanam dan komoditas dengan lebih tepat.
Editor : MahfudSumber : Radar Kediri