Liputan Khusus Hari Olahraga: Mampukah Kediri Raya Jadi Tuan Rumah Porprov Jawa Timur XI 2029?

Emilia Susanti • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 18:00 WIB
PRODUK LAMA: Lintasan atletik di Stadion Brawijaya masih terbuat dari gravel. Agar bisa menjadi venue untuk Porprov Jatim 2029 lintasan tersebut harus diubah menjadi berbahan sintetis. (FOTO: Wahyu Adji/JPRK)
PRODUK LAMA: Lintasan atletik di Stadion Brawijaya masih terbuat dari gravel. Agar bisa menjadi venue untuk Porprov Jatim 2029 lintasan tersebut harus diubah menjadi berbahan sintetis. (FOTO: Wahyu Adji/JPRK)

Trek Larinya Gravel, Itupun Tak Rata

Kediri Raya, Kota dan Kabupaten Kediri, berambisi besar menjadi tuan rumah Porprov Jatim XI pada 2029 nanti. Memang, masih lama, tapi KONI Jatim bakal menentukannya tahun depan. Pertanyaannya adalah, apakah dua daerah ini telah benar-benar siap? 

Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota dan Kabupaten Kediri kompak mengajukan diri menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim XI. Pengajuannya resmi disampaikan pada Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) KONI Jawa Timur pada 24 Juni lalu, di Surabaya.

Bagi kedua induk organisasi olahraga tersebut, menjadi tuan rumah akan membawa keuntungan tersendiri. Yakni momentum menggenjot prestasi atlet. Juga memberi dampak ekonomi daerah. Istilah sekarang, sport tourism.

Namun demikian, pengajuan tuan rumah tersebut tergolong nekat. Meski telah mendapatkan lampu hijau dari pemerintah daerah masing-masing, kondisi beberapa venue sejatinya belum sepenuhnya siap. Ada yang belum layak. Bahkan ada yang belum dimiliki.

Baca Juga: Piala Soeratin U17: Inter Kediri ke Semifinal, Persedikab Kandas

Mengawali dari Kota Kediri, kondisi venue beberapa cabor perlu perhatian besar. Salah satu yang paling kentara adalah lintasan yang dipergunakan untuk atletik. Saat ini masih berupa gravel-campuran pasir dan pecahan bata merah-yang dipadatkan. Padahal, seharusnya sudah terbuat dari lintasan sintetis.

“Lintasan sintetis wajib sifatnya bila digunakan ajang kejuaraan resmi seperti porprov,” terang Ketua Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kota Kediri Meiliana Candra Dewi.

Kalau dari sisi ukuran, lintasan lari di Stadion Brawijaya sudah ideal. Sayangnya, selain masih gravel, lintasan lari juga tidak rata. Sudah pasti akan memengaruhi performa atlet. Bahkan bisa menimbulkan cedera.

"Gravelnya ini sudah nggak layak pakai. Untuk latihan pun sebenarnya tidak layak, tapi ya gimana?" ucap wanita yang biasa disapa Mei ini.

Stadion Brawijaya dengan gravel-nya dulu memang pernah digunakan untuk porprov. Hanya saja, standarnya kini sudah berubah. Lintasan yang dipakai harus menggunakan lintasan sintetis.

"Dengan sintetis, pencapaian prestasi atlet itu tolok ukurnya menjadi mudah. Misalnya, lari 100 meter di gravel dan di sintetis udah beda jauh untuk catatan waktunya," jelasnya.

Selain cabor atletik, venue-venue yang masih memerlukan perhatian yaitu lintasan sepatu roda di GOR Jayabaya. Lalu juga panjat tebing. Mereka masih memerlukan satu papan panjat untuk nomor speed. Sementara, papan untuk nomor boulder juga perlu diperbaiki.

Bagaimana Kabupaten Kediri? Saat ini juga masih punya pekerjaan rumah (PR) dalam ketersediaan venue porprov. Salah satunya adalah sirkuit grasstrack dan road race.

Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kabupaten Kediri Tri Priyo Nugroho mengatakan, lahan untuk grasstrack dan road race sejatinya sudah ada. Grasstrack, ada di lereng Gunung Kelud. Sementara, road race di kawasan Simpang Lima Gumul (SLG).

Baca Juga: Turnamen Bahlil Mini Soccer Zona 4 Kediri Bakal Sengit, Minta Semua Peserta Sportif

"Tetapi sekarang belum bisa dipakai karena butuh perawatan. Di lereng Gunung Kelud sudah lama tidak dirawat. Kalau mau digunakan lagi butuh biaya besar," ujar pria yang akrab disapa Nugroho tersebut.

Standar untuk sirkuit grasstrack adalah memiliki panjang minimal 1 kilo meter. Begitu pula dengan road race. Umumnya, dua nomor tersebut memiliki panjang antara 1 km - 2 km. Sementara, rintangan handicap dalam grasstrack tidak ada ketentuan saklek.

"Jadi ga ada ketentuan harus berapa handicap. Jadi menyesuaikan track aja. Kalau memang luas ya variasi di handicap tidak masalah," jelasnya. Serupa, dalam nomor road race, mantan pembalap nasional itu juga menyebut bahwa tidak ada minimal jumlah tikungan. Syarat umumnya adalah memiliki panjang minimal 1 kilometer.

"SLG itu bisa, tetapi tantangannya kan ada PKL. Kalau mau dibuat road race harus steril," tekannya. Repotnya, para atlet IMI Juga tak bisa latihan road race. Mereka terpaksa mengungsi ke Blitar maupun Surabaya."Kalau porprov nanti di SLG, PKL ya harus mau bekerja sama," ingatnya.Terakhir, dia berharap Pemkab Kediri bisa memberi perhatiannya pada perawatan sirkuit grasstrack.

Dengan begitu, pihaknya bisa lebih aktif lagi menggelar kompetisi. Baik tingkat provinsi maupun nasional. "Tetapi ketika nanti pemerintah tidak respon, ya terpaksa kami dari pelaku balap harus keluar uang sendiri," sindirnya. (emilia susanti/fud)

 

Editor : Andhika Attar Anindita
tuan rumah porprov kediri tuan rumah porprov venue porprov Porprov 2025 stadion brawijaya