Lipsus Melihat Dancer Sound Horeg, Antara Hobi, Tuntutan Ekonomi, dan Obat Pereda Nyeri (1)

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 22:06 WIB
Ilustrasi dancer sound horeg (Ilustrasi Afrizal)
Ilustrasi dancer sound horeg (Ilustrasi Afrizal)


Biaya Hidup yang Kalahkan Ancaman Hidup

Mereka meliuk-liuk seksi di aspal jalanan. Mengikuti irama dentuman bas ekstrem yang memekakkan telinga. Namun, ada harga yang harus mereka bayar. Bahkan, dengan nyawa mereka.

“Ya karena tuntutan ekonomi. Butuh untuk biaya hidup,” ucap Melati, bukan nama sebenarnya, ketika ditanya alasan menjadi dancer sound horeg.

Gadis 25 tahun itu memang tulang punggung keluarga. Orang tuanya bercera setahun silam. Menjadikan tugas memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagai kewajibannya.

Pendapatan menjadi penari yang berjalan di antara truk-truk bermuatan sound ekstrem memang menggiurkan. Bayarannya sekali tampil adalah Rp 500 ribu. Bisa pula lebih bila yang menyewa orangnya royal. Belum lagi dari saweran yang dia dapat dari para penonton.

Baca Juga: Baru Terima Segilintir Perizinan Sound Horeg, Polresta Minta Warga Patuhi Ini!

“Seminggu bisa tampil di tiga atau empat lokasi yang berbeda,” aku mbarep dari dua bersaudara ini. Artinya, dalam seminggu dia bisa bawa pulang Rp 2 juta. Sebulan, Rp 8 juta.

Hasil itu masih worth it. Meskipun harus dikurangi untuk perawatan tubuh dan membeli obat-obatan, vitamin, serta pijat setiap kali tampil.

Obat-obatan? Ya, mayoritas penari karnaval ini harus melakukannya. Minimal pereda nyeri. Sebab, aktivitasnya benar-benar melelahkan. Harus menari berjam-jam hingga malam menjelang dini hari. Itupun sambil berjalan kaki berkilo-kilo meter.

“Minum paracetamol agar nyeri setelah berjalan jauh tidak sampai membuat kram,” ungkap wanita yang sejak kecil memang senang menari ini.

Selain obat tersebut, yang rutin dikonsumsi adalah vitamin. Sehari bisa dua kali. Itu untuk menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah terpapar penyakit. Mengingat intensitas kegiatannya di lapangan sangat tinggi.

Baca Juga: Sound Horeg dan Euforia Perayaan Kemerdekaan

Bagaimana dengan kesehatan pendengarannya? Atau bahkan jantungnya karena harus terpapar dentuman bas yang sangat ekstrem.

Sang dancer mengakui, di awal terjun sebagai dancer sound horeg, telinganya terasa sakit. Tetapi kini sudah terbiasa. Meskipun, terkadang dia juga cemas kalau terus-terusan ada di ekosistem seperti itu.

“Kalau takut, ya takut. Tapi saya butuh uang. Toh, sound horeg ini musiman. Selama masih tren saya akan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Jadi, kalau sudah tidak musim saya sudah punya tabungan,” kilahnya.

Bagaimana dengan orang tua? Perempuan asal Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri itu menyebut jika awalnya ditentang. Tapi karena mengetahui pendapatan yang cukup menggiurkan, akhirnya mereka mengiyakan dengan catatan. Misal tidak boleh tampil terlalu menggoda dan terlibat prostitusi.

soundBaca Juga: Sound Horeg di Kediri Raya Harus Sesuai Aturan, Polisi Peringatkan Hal Ini!

Prostitusi? “Ya praktiknya di lapangan ada yang mengajak. Tapi sebisa mungkin saya tolak. Kalau sekadar menemani karaoke saya ladeni. Kalau lebih, ya saya tinggal pergi,” akunya.

Konsumsi obat pereda nyeri juga dilakukan oleh Mawar, nama samara, dancer lain. Paling sering adalah Asam mefenamat. Obat antiinflamasi non-steroid (NSAID) yang memang difungsikan untuk mengurangi rasa nyeri.

Bukankah berisiko mengonsumsi obat semacam itu setiap hari? “Iya tahu risikonya,” jawab Mawar enteng.

Dia tahu konsumsi asam mefenamat berlebihan bisa memicu gangguan kesehatan. Misal, gangguan pencernaan, radang lambung, hingga perdarahan saluran cerna. Lebih parah bisa menyebabkan penurunan fungsi ginjal, pusing, hingga komplikasi kardiovaskular. Semua itu dia ketahui karena pernah bekerja di apotek.

“Kalau minum itu pas capek banget. Kalau nggak ya saya minta dipijit ibu,” kilahnya.

Baca Juga: Polisi Larang Takbir Keliling Gunakan Sound Horeg Lintas Desa di Kediri, Nekat Konvoi Bakal Sanksi

Pijat, aku gadis ini, adalah pilihan pertama untuk memulihkan tenaga setelah terkuras karena berjalan sambil menari berjam-jam. Selain krim penghangat, koyo, dan juga minum vitamin menjelang tampil.

Sering mendapat tawaran nakal? Mawar menghela nafas panjang. Dia mengakui ada pandangan minor masyarakat terhadap mereka. Hanya mengandalkan goyangan erotis dan gampangan. Padahal, tidak semuanya seperti itu.

“Sekarang banyak yang hanya sekadar kluget-kluget (bergoyang erotis belaka, Red),” ucapnya.

Dampaknya, orang pun menilai negative. “Dikira semua dancer adalah LC (lady companion atau pendamping karaoke, Red),” gerutunya.

Baca Juga: Polisi Larang Takbir Keliling Gunakan Sound Horeg Lintas Desa di Kediri, Nekat Konvoi Bakal Sanksi

Mawar sendiri memilik batasan. Tidak semua tawaran dia terima begitu saja. Terutama soal pakaian, tidak yang terlalu terbuka. Ini untuk mempertahankan identitasnya sebagai penari.

“Kalau pakai celana pendek enggak apa-apa. Tapi kalau baju yang kelihatan belahannya, saya membatasi,” ujarnya.

Soal munculnya pandangan negatif itu juga diakui Ana-nama samara-dancer sound horeg yang lain. Bahkan, dia mengakui sering dikucilkan oleh lingkungan karena dianggap perempuan penggoda.

“Tapi tak saya anggap. Toh, suami juga mendukung pilihan saya,” aku perempuan yang mengaku terjun jadi dancer sound horeg karena hobi ini.

Ya, Ana terlibat aktivitas itu karena ajakan teman. Kebetulan dia adalah instruktur senam dan Zumba.

Baca Juga: Karnaval Sound Horeg di Sekitar Bandara Dhoho Kediri Dilarang! Dapat Bahayakan Sektor Penerbangan, Begini Penjelasannya

“Diajak ya  saya iyakan saja selama ada penghasilan,” ucap ibu dua anak ini.

Karena sudah berkeluarga tidak semua tawaran dia terima. Ana sangat selektif. Di antaranya tidak terlalu jauh dari rumah dan tidak terlalu larut.

“Saya usahakan pukul 23.30 sudah di rumah. Agar bisa tidur sama anak,” kilah  perempuan asal Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri ini.

Baru setahun jadi dancer sound horeg, Ana mengaku memang merasakan gangguan kesehatan. Seperti dada sakit dan juga telinga berdengung. Solusinya, dia memeriksakan diri ke dokter.

“Setiap kali selesai tampil saya langsung ke dokter THT buat periksa. Sekali periksa biayanya ratusan ribu,” paparnya.

Baca Juga: Soal Karnaval Sound Horeg "Bandel", Begini Kata Kapolres Kediri Kota AKBP Anggi

Memang, penghasilannya dari dancer masih lima kali lipat dari biaya dokter itu. Namun, perempuan 35 tahun ini tak akan menjadikannya pekerjaan utama. Bahkan, sudah berpikir akan pensiun sedini mungkin. Sebab, jika berlanjut dia merasa fungsi pendengarannya bakal terganggu.

Bila tiga penari di atas mengaku belum merasakan sakit akibat aktivitasnya itu, berbeda dengan Nona-masih bukan nama sebenarnya.

Wanita asal Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri ini sudah  terkena gangguan saraf. Membuatnya sempat diopname di rumah sakit dan kini masih belum bisa beraktivitas normal.

Dugaan kuatnya adalah dia terkena dampak dari aktivitasnya sebagai dancer sound horeg. Sebab, ketika masih sehat dia benar-benar sangat aktif. Tampil di berbagai karnaval. Bahkan hingga dini hari.

“Agar kuat akhirnya ya mengonsumsi obat-obatan, suplemen, dan minuman penambah energi,” ucapnya. 

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri
obat pereda nyeri dancer THT sound horeg