Menikmati Panggung Wayang Potehi yang Kian Sunyi (1) Benteng Terakhir Itu Bernama Ritual Agama

Ayu Ismawati • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 08:10 WIB
DI BALIK PANGGUNG: Tiga orang memainkan alat musik Tiongkok untuk mengiringi dalang wayang Potehi yang beraksi ketika tampil di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong, Kota Kediri. (Foto: Wahyu Adji)
DI BALIK PANGGUNG: Tiga orang memainkan alat musik Tiongkok untuk mengiringi dalang wayang Potehi yang beraksi ketika tampil di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong, Kota Kediri. (Foto: Wahyu Adji)

Kesenian ini datang dari daratan Tiongkok. Masuk ke Tanah Air seiring datangnya warga keturunan Tionghoa. Hidupnya kini di ujung tanduk, seakan menyusul nasib serupa di tanah kelahirannya.

Alunan musik dan sayup percakapan terdengar dari halaman Kelenteng Tjoe Hwie Kiong. Asalnya dari kotak berukuran 2,5 meter persegi non-permanen yang berdiri tepat di depan altar utama kelenteng.

Berbagai karakter boneka wayang pun muncul silih berganti di balik kotak berwarna merah itu. 

Pengeras suara corong bermerek TOA di pojok panggung kotak itu membuat alunan musik dan dialog sang dalang terdengar nyaring di tengah suasana kelenteng yang tenang.

Di antara suara alat-alat musik yang bersahut, bunyi ketukan Piak Ko memecah keheningan tempat peribadahan itu. 

Dentingannya terdengar nyaring, ritmis, sekaligus khas dalam membangun atmosfer pertunjukan yang kental dengan nuansa tradisi Tionghoa. Suara thi..thi..thi, sekaligus jadi alasan sebagian orang menyebut kesenian ini sebagai ‘wayang titi’.

Baca Juga: Tok Hok Lay, Generasi Ketiga yang Eksis Lestarikan Wayang Potehi

Di dalam kotak itu, Alfian, sang dalang lincah menggerakkan boneka-boneka wayang. Boneka kain itu dia mainkan menggunakan kelima jari. 

“Saya mulai jadi dalang sekitar tahun 2016. Tapi sejak SMA kelas 2 saya sudah ikut belajar kesenian ini,” kata dalang berusia 40 tahun ini seusai memainkan wayangnya. 

Wayang potehi merupakan seni pertunjukan yang berasal dari daratan Tiongkok. Di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong, pertunjukan ini rutin digelar tiap tahun. Guna merayakan kelahiran Mazu Tian Shang Sheng Mu atau Mak Co. Pertunjukan ini digelar setiap hari, mulai Mei - Desember mendatang. 

Alfian bukan orang Kediri. Dia adalah dalang dari kelompok wayang potehi bernama Fu He An. Pusatnya di Gudo, Kabupaten Jombang. 

Faktanya, memang sudah tidak ada pegiat atau dalang potehi lagi di Kota Tahu. Maka, setiap ada pertunjukan di kelenteng berusia ratusan tahun itu memang harus mendatangkan seniman dari luar daerah. 

“Wayang potehi ini dulunya dibawa pedagang dari Tiongkok. Jadi mereka datang kemari tujuannya berdagang sekaligus mengenalkan kesenian mereka. Tapi di Tiongkok sendiri sudah semakin ditinggalkan. Yang masih berkembang malah di Taiwan,” cerita sang dalang. 

Baca Juga: Peringati Malam ke-15, Kelenteng Tjoe Hwie Kiong Siapkan Ratusan Porsi Lontong Cap Go Meh

Sebelum bisa mendalang, proses belajar yang dia lalui relatif panjang. Tak ada teori khusus. Semuanya diajarkan langsung melalui praktik yang bertahap.

Dari menjadi asisten dalang kemudian naik tingkat menjadi pemain musik. Itupun, lagi-lagi, bertahap. Mulai dari pemain dongko, toa-loo, siau-loo, hingga baru bisa menjadi dalang. 

Proses belajar itu membutuhkan waktu 10 tahun lebih hingga bisa mahir membawakan lakon Potehi yang mengangkat kisah-kisah legendaris dari zaman dinasti Tiongkok kuno. Karena ceritanya yang kompleks, pertunjukan Wayang Potehi juga selalu dibawakan secara berseri. 

“Kalau tampil setiap hari masing-masing dua jam, rata-rata baru bisa tamat itu 2 - 3 bulan,” ujarnya. Saat itu dia baru saja selesai membawakan lakon pertunjukan berjudul ‘Tek Djeng Ngo Houw Peng See’. Bila diterjemahkan bebas, artinya Jenderal Tek Djeng dan Lima Harimau Menaklukkan Barat. 

Diakuinya, memang tak banyak seniman wayang potehi yang tersisa saat ini. Dia sendiri tertarik mempelajari kesenian ini karena pengaruh orang tuanya yang juga dalang Potehi.

Berawal dari Alfian remaja yang mendadak diminta menggantikan asisten dalang yang berhalangan tampil, kini kesenian ini justru menjadi bagian dari jiwanya. 

Baca Juga: Rayakan Imlek di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong, Wali Kota Vinanda Ajak Warga Kediri Jaga Toleransi

“Regenerasinya itu kebanyakan ya diajarkan turun temurun. Kayak saya, dari papa. Makanya cara bermainnya juga masih orisinil diturunkan dari generasi ke generasi. Tidak ada yang dikurangi atau ditambahi,” terangnya.

Karena itu pula, dia tak menampik proses regenerasi yang jadi terbatas. Tak banyak orang yang mengenal kesenian ini, apalagi tertarik mempelajarinya.

Sebagai anak muda pegiat Wayang Potehi, Alfian tak menutup mata dengan perubahan zaman. Dalam kultur masyarakat Tionghoa, pertunjukan boneka kain ini memang tak hanya jadi hiburan. Melainkan juga sarana ritual keagamaan. 

Saat ditampilkan di kelenteng misalnya, terkadang tidak ada penonton sama sekali. Namun tak jarang segelintir masyarakat juga mendatangi kompleks kelenteng di Kelurahan Pakelan itu karena penasaran dengan seni pertunjukan tersebut.

“Kalau tujuannya sebagai ritual seperti sekarang ini, kalau ada yang nonton itu berarti bonus. Karena tujuan utama kami ya menghibur Mak Co,” tandasnya. 

Baca Juga: Ratusan Lampion Percantik Kelenteng Tjoe Hwie Kiong, Dipasang di dalam Kelenteng hingga Kawasan Pecinan Jelang Imlek

Di luar itu, dalam mempertahankan eksistensinya sebagai kesenian tradisional dan sarana hiburan, Alfian tetap harus memutar otak agar kesenian ini tetap mendapat ruang di hati masyarakat.

Sebagai kesenian, Potehi tak lagi harus berpatokan pada lakon atau cara pembawaan tertentu. Melainkan lebih fleksibel menyesuaikan segmen audiens. 

“Kalau pentasnya di kelenteng, kami tetap nggak berani sembarangan. Tapi kalau pentasnya di luar seperti di mal atau sekolah bisa lebih disesuaikan unsur hiburannya. Misalnya, ceritanya bisa lebih macam-macam. Seperti dulu kami pernah tampil di gereja, itu membawakan cerita tentang lahirnya Yesus,” ungkapnya. 

Cara pembawaannya pun juga terus beradaptasi. Alfian menyebut, tantangan Wayang Potehi saat ini adalah bagaimana agar kesenian ini bisa diterima semua kalangan. Mulai dari anak-anak, generasi Z, hingga orang tua sekalipun bisa menikmati kesenian ini. 

“Makanya saya kalau ndalang saya lihat dulu penontonnya. Gen Z kah atau orang tua kah. Kalau misalnya banyak anak-anak muda, ya jokes saya ngikutin mereka. Tapi kalau penontonnya banyak orang tua, ya saya ceritakan sesuai selera mereka. Biasanya mereka suka yang lebih didramatisir,” bebernya.

Baca Juga: Kirab Ruwatan di Ultah Mazu

Pertunjukan wayang potehi di kelenteng itu juga cukup menarik minat beberapa anak muda. Salah satunya Ananda Putri, 24.

Warga Kelurahan Bandarkidul itu mengaku tahu pertunjukan wayang potehi di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong dari media sosial TikTok. Karena penasaran, dia datang sampai dua kali untuk menyaksikan pertunjukan itu. 

“Penasaran saja karena sempat lihat di TikTok. Tapi yang saya heran, kenapa kok sepi banget. Padahal bagus juga menurutku,” ungkapnya. 

Hal serupa diungkapkan Eka Dili. Penonton asal Kelurahan Jamsaren itu justru baru pertama kali tahu tentang wayang potehi.

Di usianya yang sudah 29 tahun, ini merupakan pengalaman pertamanya menyaksikan pertunjukan wayang potehi. 

“Ceritanya lumayan bisa dipahami, karena pakai bahasa Indonesia juga kan, meskipun ada beberapa kali pakai bahasa cina,” ujar Eka, yang asyik menonton wayang potehi bersama anak-anaknya, Kamis malam (20/8) lalu. (ayu isma/fud)

Editor : Mahfud
Sumber : Radar Kediri
wayang potehi wayang titi mak co tionghoa Kelenteng Tjoe Hwie Kiong