Liputan Khusus! Melihat Kisah Serangan Umum di Pare, Kisah Heroik Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan (3)

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 06:00 WIB
Barang-barang peninggalan TGP yang masih dijaga. Bahkan, melalui fasilitasi Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, dibangun laboratorium IPS untuk menjaga peninggalan itu sekaligus sebagai sarana edikasi. (Foto Asad MS)
Barang-barang peninggalan TGP yang masih dijaga. Bahkan, melalui fasilitasi Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, dibangun laboratorium IPS untuk menjaga peninggalan itu sekaligus sebagai sarana edikasi. (Foto Asad MS)

Jeep Willys Military Itu Masih Terjaga 

 Jejak perjuangan TGP di Pare tidak hanya tersimpan dalam cerita sejarah. Juga di sejumlah bangunan dan benda peninggalan yang berada di lingkungan SMPN 4 Pare. Misalnya, enam ruangan yang masih mempertahankan bentuk asli.

Ruang-ruang itu kini difungsikan berbeda-beda. Ada yang untuk ruang  kepala sekolah, ruang kelas, dan tata usaha.

Arsitektur dan ornamennya masih dipertahankan. Seperti saka guru (tiang kayu penyangga atap), rangka atap, pintu, dan jendela.

Juga struktur pagar plat depan dan barat serta fondasi pagar timur yang dijaga keotentikannya.

“Beberapa kali renovasi. Namun tetap mempertahankan pagar besi dan fondasi memakai konstruksi bangunan lama,” terang Hendro Widjonarko.

Selain bangunan, sejumlah peralatan teknik dan beberapa benda juga masih tersimpan.

 Di antaranya lonceng genta, lonceng gantung, dan beberapa mebeler.

Ada pula Jeep Willys Military Bantam yang dulu dijadikan sebagai mobilisasi persenjataan. 

Baca Juga: Mengenang Kembali Perjuangan Moestopo, Pahlawan Asal Kediri di Hari Kemerdekaan

Lalu, kerangka mobil Colt T.120ss, mesin diesel penggerak pengerjaan logam, jagrak atau kontruksi penyangga, mesin frais horizontal dan mesin gergaji logam. 

Masih ada lagi,  mesin gerinda, mesin bor listrik mesin sekrap horizontal, mesin bubut, serta selongsong bom.

Benda-benda itu kini dipasang di monumen TGP. Menjadi bagian penting menggambarkan aktivitas sekolah teknik yang kemudian berkaitan dengan perjuangan TGP

“Difasilitasi Dinas Pendidikan untuk membangun laboratorium ilmu pengetahuan sosial Candra Pura SMPN 4. Selain untuk keperluan edukasi juga untuk menjaganya,” ujar Budi Hartoyo.

Menurut Hendro, keberadaan benda-benda tersebut juga terus dikenalkan kepada masyarakat melalui kegiatan kunjungan.

Peninggalan yang ada tidak sekadar disimpan. Juga sarana edukasi mengenalkan sejarah perjuangan kepada pelajar dan masyarakat.

Kamis lalu misalnya, Pemkab Kediri menggelar walking tour. Salah satunya juga melakukan napak tilas TGP.

“Kegiatan seperti itu perlu dilakukan agar masyarakat, khususnya anak muda bisa tahu dan mengenal perjuangan pelajar pada masa perjuangan,” timpal Hendro lagi.

Selain peninggalan fisik, keberadaan keluarga besar eks-TGP juga masih terjaga. Orang yang jadi TGP memang sudah tidak ada.

Namun, anak turun dari TGP sudah masuk generasi kelima. Tergabung dalam Ikatan Keluarga Besar Eks-TGP (IKB Eks-TGP).

Baca Juga: Ketua PCNU Kabupaten Kediri Gus Makmun Datangi Rumah Keluarga Pemanggul Tandu Panglima Besar Jenderal Sudirman

“Yang terkahir meninggal dunia pada 2023. Beliau adalah Eyang Sanoe,” jelasnya.

Organisasi tersebut memiliki kepengurusan mulai tingkat pusat di Jakarta, daerah, hingga cabang di wilayah. Semuanya memiliki keterkaitan dengan perjuangan TGP, termasuk di Kediri.

Hendro mengatakan, keberadaan TGP di lingkungan sekolah juga membuat guru dan siswa menjadi anggota kehormatan.

Mereka dianggap menjadi bagian dari keluarga besar TGP karena berada di lingkungan situs perjuangan. Sekaligus ikut menjaga, merawat, dan mengenalkan sejarahnya.

Sesuai dengan yang ditegaskan ketua umum pusat, semua warga sekolah SMPN 4 Pare adalah anggota kehormatan IKB ex TGP BE XVII. Karena mereka berada di situs perjuangan TGP dan ikut melestarikan serta mengurusnya. Untuk kepala sekolah , guru dan pegawai, dalam kepengurusan berstatus anggota ex-officio,” jelasnya.

Keanggotaan kehormatan juga dapat diberikan kepada masyarakat yang turut membantu pelestarian maupun meneruskan nilai perjuangan TGP.

Hendro menambahkan, keberadaan komunitas keluarga besar eks-TGP juga menjadi salah satu cara menjaga agar hubungan antargenerasi tetap terjalin.

Kegiatan pertemuan dan reuni masih dilakukan secara berkala untuk merawat ingatan tentang perjuangan TGP sekaligus mengenalkan nilai sejarahnya kepada generasi berikutnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri Mustika Prayitno Adi menjelaskan, ada dua kesatuan pelajar yang ada di Kabupaten Kediri.

Yakni  TGP Brigade XVII dan TRIP Batalion 3000 yang merupakan dua kesatuan pelajar yang berbeda dalam perjuangan kemerdekaan di Kabupaten Kediri.

Baca Juga: Pekik Kemerdekaan di Kediri Menggema di Taman Siswa, Penyambutan Proklamasi Dipimpin Mayor Bismo 

TGP bermarkas di Ambacht School atau Sekolah Teknik yang kini menjadi SMPN 4 Pare. Sedangkan TRIP bermarkas di Klanderan, Kecamatan Plosoklaten. 

Secara fungsi, TRIP lebih banyak berjuang di garis depan. Sementara TGP mendukung sarana dan prasarana perjuangan, termasuk perakitan senjata dan mortir.

“Jadi, keduanya merupakan kesatuan pelajar dengan fungsi yang berbeda,” terang Mustika.

Menurutnya, eks Ambachschool menjadi saksi perjuangan TGP di Pare. Karena memiliki nilai penting sejarah, bangunan tersebut telah dimasukkan dalam data potensi ODCB Kabupaten Kediri.

“Bangunan eks Ambachchool ini merupakan saksi bisu perjuangan TGP di wilayah Pare. Nilai penting yang dikandungnya membuat kami memasukkannya dalam data potensi ODCB Kabupaten Kediri,” ujarnya.

Mustika mengapresiasi pengelola SMPN 4 Pare yang selama ini berinisiatif merawat sekaligus menyediakan ruang perlindungan bagi peninggalan tersebut.

Sesuai amanat UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, pelestarian merupakan kewajiban bersama.

“Dinas memberikan apresiasi yang mendalam kepada pengelola SMPN 4 Pare karena telah berinisiatif merawat dan menyediakan ruang perlindungan bagi objek-objek tersebut,” katanya.

Ke depan, Disparbud akan melakukan pelestarian melalui empat aspek, yakni pelindungan lewat pendataan dan proses penetapan, pengembangan melalui pengayaan informasi dan kemitraan dengan sekolah, pemanfaatan dengan mengenalkan sejarah kepada generasi muda melalui kegiatan seperti Heritage Walking Tour yang telah dilakukan pada Kamis lalu, serta pembinaan berupa monitoring dan evaluasi.

“Pelestarian itu tidak hanya perlindungan, tetapi juga pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan. Salah satunya melalui kegiatan Heritage Walking Tour agar nilai sejarahnya semakin dikenal generasi muda,” pungkasnya. 

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri
dijaga smpn 4 pare pemkab kediri pertahankan TGP