Liputan Khusus! Melihat Kisah Serangan Umum di Pare, Kisah Heroik Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 05:00 WIB
Monumen TGP Pare diresmikan olhe Maarsekal Madya TNI (Purn) Aried Riyadi pada 2 Februari 1998  untuk mengenang markas dan perjuangan para pelajar. (Foto Asad MS)
Monumen TGP Pare diresmikan olhe Maarsekal Madya TNI (Purn) Aried Riyadi pada 2 Februari 1998 untuk mengenang markas dan perjuangan para pelajar. (Foto Asad MS)

Momentum Sejarah yang Tak Kalah Fenomenal

 Bara api perjuangan melawan kolonial Belanda tak hanya di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta, atau Surabaya semata. Di Bumi Panjalu ada pertempuran sengit yang juga berperan dalam tonggak sejarah bangsa. Palagan itu bernama Serangan Umum 22 Mei 1949.

“Serangan Umum 22 Mei 1949 adalah momentum perjuangan Kediri Raya,” ucap Hendro Widjonarko. Dia adalah ketua Ikatan Keluarga Besar Ex-Tentara Genie Pelajar (IKB TGP) Brigade XVII cabang Kediri.

Sebagai ketua IKB TGP, Hendro jelas paham dengan yang terjadi saat itu. Setidaknya berdasarkan kisah dari para pelakunya saat itu.

“Karena itu kami berharap 22 Mei bisa menjadi ikon sejarah sendiri. Bisa untuk mengedukasi masyarakat,” lanjutnya.

Momentum itu, selama ini, seakan tenggelam oleh kisah heroik pertempuran kemerdekaan yang lain.

Padahal, sepenggal perjalanan perjuangan itu tergolong sangat krusial. Menjadi bagian perlawanan terhadap pasukan Belanda yang berupaya memperkuat lagi cengkeraman penjajahannya di Nusantara.

Menariknya, pejuang tidak hanya mengandalkan pasukan bersenjata. Juga strategi penghadangan, penghancuran jalur pergerakan musuh, serta dukungan masyarakat.

Paling penting adalah peran TGP, yang memiliki skill Teknik dalam mendukung kebutuhan persenjataan.

Seperti halnya cerita perlawanan di tempat lain, Serangan Umum (SU) Pare juga punya banyak kisah pendukung.

Baca Juga: SMPN 4 Pare Jadi Saksi Perjuangan Tahun 1949, Ada Peristiwa Apa Waktu Itu?

Khususnya tentang peran TGP dalam memberi dukungan persenjataan.

Sejak sebelum kemerdekaan, di Pare berdiri sekolah teknik. Namanya Ambachts School.

Didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 1918. Sekolah kejuruan ini sengaja diperuntukkan bagi pribumi.

“Keputusan itu tertuang pada lembaran negara Hindia Belanda nomor 776 tahun 1918 bertanggal 15 November 1918,” jelas pensiunan guru IPS SMPN 4 Pare ini. Gedung sekolah itu sekarang masih kokoh berdiri. Kini menjadi Gedung SMP Negeri 4 Pare.

Siswa di sekolah itu dididik jadi tenaga terampil. Mereka disiapkan mengisi kebutuhan pekerja di berbagai perusahaan milik pemerintah kolonial.

Sebab, bila seluruh kebutuhan tenaga kerja didatangkan dari Eropa, biayanya akan sangat mahal.

“Karena Belanda punya berbagai industri. Seperti pabrik gula, perkebunan hingga perusahaan kereta api. Sehingga mereka membutuhkan orang-orang yang mampu mengoperasikan, memperbaiki dan mengerjakan berbagai peralatan,” jelasnya.

Ketika Jepang datang, dan mengambil alih kekuasaan dari Belanda pada 1942, kendali sekolah  tersebut di bawah Kogyo Gakko.

Di masa ini pelajar tak  hanya diberi pengetahuan Teknik. Namun juga pelajara disiplin, fisik, serta kemampuan militer.

Mereka juga dilibatkan dalam berbagai organisasi. Seperti Seinendan, Keibodan, Heiho, hingga pembela tanah air (PETA).

Baca Juga: Ada Sumur Rahasia di SMPN 4 Pare, Ini Fungsinya saat Serangan Umum 1949

Tujuannya jelas, upaya mobilisasi pasukan pendudukan terhadap warga pribumi untuk menghadapi lawan.

“Mereka juga diajari militer. Dulu ada lapangan di Pare itu jadi tempat untuk melatih. Termasuk juga ada di lapangan di Papar,” ujar laki-laki kelahiran 1965 itu.

Proklamasi 17 Agustus 1945 mengubah keadaan. Indonesia menyatakan kemerdekaan.

Tapi perjuangan justru baru mulai. Belanda datang kembali bersama pasukan Sekutu. Berniat kembali mencengkeram Nusantara.

Perlawanan pun berkobar di mana-mana. Termasuk dari pelajar sekolah Teknik di Pare. Mereka memanfaatkan keterampilannya untuk membantu para pejuang dan tantara.

Mesin-mesin yang dulu untuk membuat peralatan kerja menjadi pencetak peralatan perang.

“Mesin produksi ini dialuhfungsikan untuk mesin membuat senjata untuk menyokong pasukan Indonesia,” imbuh Koordinator Lapangan Pengurus IKB Ex TGP Brigade XVII Cabang Kediri Budi Hartoyo.

Perjuangan para pelajar ini kian terarah setelah terbentuk TGP pada 2 Februari 1947. Menjadi wadah formal para pelajar sekolah teknik terlibat dalam pertempuran.

Tugas TGP itu ada empat. Ada pionir, ada robang untuk mengangkut senjata, ada kurir, kemudian yang satu lagi memperbaiki senjata dan peralatan. Yang punya keilmuan teknik itu memang anak-anak sekolah teknik,” jelas Hendro.

Para pelajar sekolah Teknik di Pare akhirnya terhubung dengan sesama TGP dari daerah lain.

Baca Juga: Saat Serangan Umum 1949, SMPN 4 Pare Jadi Tempat Diskusi dan Atur Strategi

Salah satunya dengan TPG di sekolah Teknik Sidoarjo yang terpaksa ‘mengungsi’ ke Pare karena sekolah mereka diserang Belanda.

“Pare itu punya alat. Makanya ketika mereka hijrah dan tahu alat di Pare banyak, mereka datang ke sini,” cerita Hendro.

Akhirnya, para TGP dari sekolah teknik Pare memiliki peran strategis. Mereka membuat dan memperbaiki peralatan tempur. Memanfaatkan material yang ada semaksimal mungkin.

Kebetulan banyak orang tua TGP bekerja di pabrik gula, perkebunan maupun perusahaan kereta api.

Mereka turut menyerahkan selongsong peluru, potongan logam, dan berbagai barang bekas ke anak-anaknya.

“Bahan-bahan itu dimanfaatkan dan dirakit di TGP. Menjadi senjata yang digunakan menyerang Belanda,” tutur Budi lagi.

Di Pare, TGP bersinggungan dengan Batalyon Merak. Dampaknya, Batalyon Merak kian kuat karena suplai perlengkapan tempur dari TGP.

Ini modal menghadapi kekuatan Belanda yang semakin getol mengagresi negara yang baru merdeka ini.

Mereka kembali melakukan agesi militer kedua pada 1948, ditandai dengan pengeboman bandara Maguwo di Jogjakarta serta  pendudukan ibu kota sementara Repbulik Indonesia tersebut.

Pada 1 Maret 1949 TNI menggelar Serangan Umum di Jogjakarta. Beberapa waktu kemudian, pada 22 Mei, giliran pejuang di Pare yang melakukannya.

Menghadang dan menyerang pasukan Belanda yang masuk ke Pare.

“Pasukan Belanda yang mau masuk Pare itu dihadang. TGP bersama Batalyon Merak menyiapkan penghadangan dan serangan. Jadi yang dari Blitar mau masuk ke Pare dihadang, sementara yang sudah berada di Pare juga diserang,” jelas Hendro.

Jangan membayangkan pasukan Indonesia yang menyerang itu ribuan. Yang menghadang mungkin hanya 10 sampai 20 orang. 

"Di tempat lain lima atau sepuluh orang. Setelah menyerang mereka lari, kemudian berpindah lagi. Hit and Run,” lanjut Hendro.

Pola tersebut membuat pasukan Belanda kesulitan bergerak. Jalur yang mereka gunakan telah dipersiapkan untuk menghadang pergerakan.

Pohon-pohon ditebang untuk memperlambat kendaraan. Jembatan menjadi sasaran karena apabila akses tersebut terputus, pasukan yang datang akan kesulitan melanjutkan perjalanan.

“Saat kendaraan ini terganggu, bom buatan TGP ini dibuat menyerang” jelasnya.

Peristiwa 22 Mei itu kemudian menjadi salah satu episode penting dalam rangkaian perjuangan mempertahankan Pare.

“Kalau di daerah lain ada Bandung Lautan Api, Surabaya punya 10 November, Kediri juga sebenarnya punya cerita. 22 Mei itu bisa dijadikan ikon perjuangan Kediri Raya,” tutur Hendro berharap agar 22 Mei bisa jadi peringatan nasional.

 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri
kemerdekaan jepang perjuangan belanda TGP