Pemerintah masih melihat model mina padi jadi solusi terbaik bagi lahan persawahan berkategori basah. Sebab, potensinya petani bisa mendapatkan double income. Karena itu, mereka akan mencoba model ini di desa lain yang punya karakteristik lahan seperti itu.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kediri Nurhafid membenarkan bahwa beberapa desa di Kabupaten Kediri sudah tidak lagi menerapkan sistem mina padi. Misalnya di Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo. Dia menyebut, desa ini sejatinya sudah berhasil panen sebanyak dua kali. Namun, bencana banjir membuat desa tak lagi melanjutkan sistem tersebut.
"Karena banjir itu, tanggulnya jebol, jadi rusak," jelasnya.
Kabar baiknya, Desa Putih selama ini telah berkomunikasi dengan pihaknya. Nurhafid menyebut, desa telah berencana untuk melanjutkan sistem mina padi lagi. Konon, pihak desa akan bekerja sama dengan badan usaha milik desa (bumdes) dalam pengelolaan.
Baca Juga: Lipsus Hari ASI Sedunia (2) : Sibuk Kerja, Motivasi Beri ASI Ekslusif Rendah, Ini Alasannya!
Sementara, di Desa Canggu memiliki case berbeda. Masyarakat di desa tersebut sudah fokus budidaya ikan. Hanya saja, petani tak serta merta meninggalkan pertanian padi.
"Pada suatu musim juga masih tanam padi. Jadi di Canggu itu untuk perikanan juga ada semacam musiman. Mereka kan menyediakan benih untuk tambak. Lha ketika tidak ada permintaan, itu dialihkan ke padi dulu," jelasnya.
Lebih jauh, Nurhafid menerangkan bahwa tidak semua daerah di Kabupaten Kediri bisa mengadopsi pertanian dengan sistem mina padi. Pasalnya, lahan yang digunakan memiliki kriteria khusus. Harus memiliki ketersediaan air yang stabil sepanjang tahun.
Selain Desa Canggu dan Putih, daerah lain yang juga sudah menjalankan minapadi adalah di Desa Sambirejo, Kecamatan Gampengrejo. "Makanya kemarin (program mina padi) diletakkan Putih dan Sambirejo. Kan karena airnya terus ada," tekannya.
Nurhafid menuturkan, sistem mina padi merupakan salah satu bentuk dari integrated farming atau sistem pertanian terpadu. Kotoran ikan akan menjadi pupuk alami untuk tanaman padi. Hal ini penting untuk menjaga kesuburan tanah. Di sisi lain, ikan juga bisa memakan hama-hama yang ada di tanaman.
"Jadi hama-hama yang kecil itu dimakan oleh ikan," ujarnya sembari menyebut bahwa panen terlebih dahulu dilakukan terhadap ikan.
Berdasarkan evaluasi di Desa Putih dan Sambirejo, penerapan mina padi telah membawa keuntungan. Dalam satu kali panen, ikan yang diperoleh bisa mencapai dua ton. Karena itulah pihaknya menyambut baik bila pertanian sistem mina padi kembali diterapkan di desa tersebut.
Pemkab juga berencana mengembangkan minapadi. Program itu akan menyasar daerah baru. Yakni di Kecamatan Purwoasri, tepatnya di Desa Muneng dan Karangpakis. Luas lahannya diperkirakan sekitar 10 hektare.
"Tahun ini kami dimintai usulan dari kementerian untuk pengembangan mina padi. Karena Kementerian Perikanan itu punya program namanya perikanan tematik. Nah Kediri yang diusulkan dari tim survei kami itu di Purwoasri," terangnya.
Sejauh ini, dua desa tersebut dinilai cocok untuk program mina padi. Tentu salah satunya dilihat karena ketersediaan air yang bagus. Di sisi lain, dia juga memerlukan komitmen dari kelompok tani yang ada. Sehingga program minapadi bisa berjalan secara berkelanjutan.
"Lahan nanti itu akan dibuat kolam di pinggir itu sekitar satu meter, keliling itu. Lha, itu kalau petani nggak mau kan nggak bisa maksa. Dari hasil survei itu yang berminat dari Desa Muneng dan Karangpakis itu," ujarnya.
Nantinya, bila usulan pengembangan mina padi di dua desa tersebut disetujui, pembiayaan akan dilakukan Pemerintah Pusat. Kendati demikian, pihaknya tidak akan lepas tangan begitu saja. Nurhafis menyebut bahwa Dinas Perikanan tetap melakukan pendampingan.
"Kami akan mendukung dalam pendampingan masalah teknis budidaya dan sebagainya," tandasnya.(*)
Editor : MahfudSumber : Jawa Pos Radar Kediri