Beragam Kisah Diaspora Kota Kediri Merawat Kenangan Tanah Kelahiran (3) Tiap Pulang Seakan Kembali ke Masa Kecil 

Ayu Ismawati • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 21:32 WIB
Reddy Aldino bersama keluarga saat berada di Prancis. (Dok. Reddy Aldino)
Reddy Aldino bersama keluarga saat berada di Prancis. (Dok. Reddy Aldino)

Lebih dari satu dekade Reddy Aldino menetap di Paris, Prancis. Membangun karir di bidang Information Technology (IT) Finance. Namun, bagi pria asal Kelurahan Mojoroto, Kecamatan Mojoroto ini, Kediri tetaplah jadi tempat yang dia sebut rumah.

Status sebagai diaspora tak membuatnya melupakan tanah air. Reddy tetap meluangkan pulang tiap ada kesempatan. Dan, Kota Kediri selalu jadi tujuan pertama.

Baginya, keluarga adalah hal paling dia rindukan semenjak tinggal di Negeri Menara Eiffel itu. Pulang ke Kota Kediri menjadi caranya membayar waktu yang hilang semenjak memutuskan tinggal di luar negeri.

"Saya juga rindu dengan suasana masyarakat Kediri yang akrab dan penuh kekeluargaan. Hubungan dengan tetangga maupun teman terasa dekat. Dan itu merupakan sesuatu yang mungkin baru benar-benar terasa nilainya ketika tinggal jauh dari kampung halaman," ujar pria 36 tahun itu. 

Baca Juga: GOR Joyoboyo Dipadati Lautan Manusia karena Ini

Setiap kepulangan ke Kediri Reddy selalu merasakan nostalgia tersendiri. Meskipun sudah banyak yang berubah, namun rasa nyaman yang mengingatkannya pada masa kecil tetap tak berganti.

“Setiap kembali ke Kediri rasanya seperti kembali ke masa kecil. Ada rasa nyaman yang sampai sekarang masih tetap sama,” akunya. 

Jarak yang jauh membuat Reddy dan keluarganya hanya bisa pulang ke Indonesia sekitar satu kali dalam kurun satu hingga dua tahun. Selebihnya, rasa rindu bisa diobati lewat teknologi.

Video call rutin dilakukan agar tetap bisa mengikuti momen-momen penting bersama keluarga di Kediri.

“Saya juga masih sering berkomunikasi dengan teman-teman di Kediri dan mengikuti perkembangan kota melalui media sosial maupun berita,” katanya. Tak ayal, dia mensyukuri perkembangan digital yang bisa menjembatani dua negara yang terpisah belasan kilometer sekalipun. 

Baca Juga: Ribuan Orang Tumpah Ruah Ikut Meriahkan Pesta Rakyat di Jalan Stasiun Kota Kediri

Untuk mengobati kerinduan dengan kampung halaman, kerap kali alumnus SMPN 1 Kediri itu menghadirkan makanan khas Indonesia di meja makan keluarganya. Tak terkecuali menu favorit asal Kediri.

Dengan cara itu, sang anak juga bisa mengenal cita rasa sekaligus budaya dari tanah kelahirannya.

"Bagi saya, menjaga hubungan dengan kampung halaman bukan hanya soal seberapa sering pulang. Juga bagaimana budaya, bahasa, dan nilai-nilai yang kami bawa tetap hidup di dalam keluarga," tandas alumnus SMAN 2 Kediri itu.

Dalam beberapa kali kepulangannya, Reddy melihat Kota Kediri berkembang cukup pesat. Infrastruktur semakin baik, fasilitas publik bertambah, dan suasana kota yang semakin hidup.

Yang juga menggembirakan baginya adalah karakter masyarakatnya yang tak berubah di antara pesatnya perkembangan fisik itu. Orang-orang Kediri menurutnya tetap ramah, sederhana, dan menjunjung tinggi nilai kekeluargaan.

Baca Juga: Mengupas Sejarah Pecel Tumpang Khas Kediri

Pengalaman tinggal di Prancis juga memberinya sudut pandang baru. Menurutnya, pelayanan publik yang sederhana dan efisien bisa membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih nyaman. 

“Mudah-mudahan hal-hal seperti itu juga bisa terus berkembang di Kediri, seiring dengan pembangunan yang sedang berjalan,” harapnya. 

Dengan perkembangan saat ini, alumnus ITS Surabaya itu optimistis Kota Kediri bisa semakin maju dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.

Dengan infrastruktur yang terus dibangun dan konektivitas yang semakin baik, dia yakin akan semakin banyak peluang yang terbuka bagi masyarakat maupun dunia usaha. 

“Menurut saya, digitalisasi juga akan memegang peranan penting. Bukan hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi benar-benar membuat pelayanan publik, pendidikan, maupun dunia usaha menjadi lebih cepat, lebih transparan, dan lebih mudah diakses masyarakat,” harap Reddy. 

Baca Juga: Dhoho Night Carnival 2026 Hadirkan Rute Baru, Beri Pengalaman Berbeda dan Kenalkan Potensi Kota Kediri

Yang tak kalah penting, dia berharap perkembangan Kota Kediri tak menghilangkan identitasnya. Baginya, menjadi kota yang modern bukan berarti harus kehilangan budaya, rasa kekeluargaan, serta semangat gotong royong.

Melainkan hal itu harus dipertahankan sebagai bentuk identitas masyarakat. Dan dia yakin, akan semakin banyak anak-anak muda Kediri yang bisa berkembang dengan potensi yang ada. 

“Kalau saya bisa membangun karier sampai ke Prancis, saya percaya banyak generasi muda Kediri yang juga bisa meraih kesempatan yang sama, bahkan mungkin lebih jauh lagi. Yang penting terus belajar, menguasai bahasa asing, mengikuti perkembangan teknologi, dan berani mencoba hal-hal baru,” pesannya. 

Kini, meski tinggal hanya sekitar lima kilometer dari Menara Eiffel, setiap kali ada yang bertanya asalnya, jawaban Reddy tidak pernah berubah.

Baca Juga: Upaya Desa-Desa di Kediri Menghidupkan ‘Roh’ Pancasila di Masyarakat, Anak Muda Antusias Ikut Gotong Royong dan Siskamling Karena Ini !

"Saya selalu menjawab dengan bangga, 'Saya dari Kediri'," tandasnya. 

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun di baliknya, tersimpan makna bahwa sejauh apapun seseorang melangkah, selalu ada kampung halaman yang menjadi tempat untuk kembali.

Dan bagi Reddy Aldino, kampung halaman itu bernama Kota Kediri.

“Mudah-mudahan ke depan semakin banyak putra-putri Kediri yang bisa membawa nama baik daerahnya ke tingkat internasional. Dan suatu saat nanti ikut berkontribusi membangun kota yang kita cintai,” pungkasnya. (ayu isma/fud)

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri
sman 2 kediri diaspora kota kediri menara eiffel nostalgia prancis