Punya nama besar dan tinggal di negeri Paman Sam sejak puluhan tahun lalu tak membuat Atiek Prasetyawati lupa dengan Kota Kediri. Perempuan yang akrab dengan julukan Atiek CB ini masih sering pulang ke Kota Tahu, kota tempat dia dilahirkan 63 tahun lalu.
Musisi populer era 80-an ini hampir 25 tahun hidup di Amerika Serikat. Tepatnya di Wilmington, kota terbesar di negara bagian Delaware, Amerika Serikat.
Meski sudah tinggal lama di negara orang, tak membuat ingatan Atiek CB terhadap Kota Kediri memudar. Ia masih hafal setiap sudut jalan, warung langganan, hingga cita rasa kuliner khas yang menemaninya semasa sekolah.
“Sejak tahun sebelum Covid sampai sekarang itu hampir setiap tahun pulang ke Kediri,” aku perempuan kelahiran 1963 itu.
Bicara tentang Kota Kediri, ingatan Atiek seolah kembali ke masa-masa sekolahnya. Setiap pulang ke Kediri, setiap sudut kotanya selalu membawa kesan nostalgia tersendiri.
“Saya masih tahu warung-warung yang sering saya singgahi sewaktu pulang sekolah SMP. Saya tahu semua dan saya datangi semua. Ada beberapa yang masih sama, nggak berubah,” ungkapnya.
Salah satunya warung Mbok Bo di Jalan Joyoboyo. Di sana, menu yang selalu ia rindukan adalah es kelapa muda dan agar-agar yang cita rasanya masih sama seperti waktu dia duduk di bangku SMP.
Warung itu termasuk yang dia jujuki di sela keliling Kota Kediri dengan berjalan kaki yang jadi rutinitasnya setiap kali pulang.
Baca Juga: CB Band Rayakan Perjalanan 50 Tahun di Industri Musik Rock di Kediri
Selain itu, kuliner khas Kediri seperti sambal pecel dan tumpang tentu tak boleh terlewat. Untuk mengobati kerinduan dengan cita rasa kampung halaman, kuliner itu wajib masuk daftar makanan yang disantap setiap kali pulang ke Kediri.
“Dalam hidup saya, yang paling berkesan ya Kediri. Walaupun saya juga pernah tinggal di Blitar semasa kecil saya waktu SD kelas 2. Tapi selebihnya ya saya besar di Kediri,” bebernya tentang Kota Kediri yang bukan sekadar kota kelahiran, melainkan bagian besar dari masa kecilnya.
Saat kembali ke Kediri beberapa waktu lalu, dia sengaja menyusuri jalan-jalan kota seorang diri. Sambil berolahraga, dia jalan kaki keliling Kota.
Mengobati rindu pada suasana yang pernah menjadi bagian dari kesehariannya.
“Kalau dua tahun lalu, saya jalan sendiri dari hotel di Jalan Dhoho sampai ke Gunung Klotok. Jadi saya juga masih sering bolak-balik Gunung Klotok,” akunya.
Baca Juga: Jatuh Bangun Meniti Karir hingga Tembus Ibu Kota, Inilah Sosok Drummer Asal Kediri Axel CB
Bahkan, sang suami juga ikut jatuh hati dengan Kota Kediri. Keramahan masyarakat, suasana kota yang tidak terlalu padat, hingga kuliner yang beragam membuat suaminya memimpikan bisa tinggal dan menghabiskan masa tua di Kota Kediri.
"Suami saya malah menganjurkan saya untuk cari rumah di Kediri. Karena kalau nanti sudah pensiun, pengen bisa tinggal di Jawa Timur, khususnya Kediri,” ungkapnya.
Di mata Atiek, perkembangan Kota Kediri selama puluhan tahun terakhir juga terasa sangat pesat. Termasuk pertumbuhan ekonominya.
Namun begitu, Atiek berharap pertumbuhan ekonomi wilayah ini tidak hanya bertumpu pada sektor industri saja.
Menurutnya, Kota Kediri punya peluang besar mengembangkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Selain agar penopang sektor ekonomi lebih beragam, juga agar tahan menghadapi gejolak global.
Baca Juga: Sunset di Kebun 2026 Hadirkan Perpaduan Musik, Budaya, dan Edukasi Lingkungan di TMII
“Dari sepanjang saya waktu jalan kaki keliling Kota Kediri, saya tanya ibu-ibu penjual gimana ekonominya. Kebanyakan dari mereka menjawab bahwa semasa Covid malah lebih bagus, dan sekarang lebih lesu ekonominya,” ujarnya, yang juga masih terus mengikuti perkembangan sosial masyarakat di Kediri.
Untuk itu, menurutnya Kota Kediri perlu menghadirkan lebih banyak pemantik penggerak perekonomian. Salah satunya di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dengan memanfaatkan potensi yang ada.
Dia menilai kekuatan kuliner, potensi musisi asal Jawa Timur, hingga keindahan alam seperti kawasan Gunung Klotok dan Gunung Wilis dapat menjadi modal untuk menghadirkan agenda wisata berskala nasional.
Misalnya, festival musik tahunan yang tak hanya mampu menarik wisatawan, melainkan juga punya identitasnya sendiri.
Baca Juga: Ari Lasso Siapkan 15 Lagu di Puncak Hari Jadi Kota Kediri Malam Ini!
"Saya lihat Kediri punya kapasitas untuk mengembangkan tourism yang sama bagusnya dengan, misal, Jogja, Solo, atau Malang. Modalnya juga sudah ada. Kulinernya enak, senimannya banyak, alamnya juga bagus,” ungkap Atiek.
Dengan menghadirkan daya tarik tahunan seperti festival musik itu menurutnya juga bisa jadi sarana mewadahi seniman-seniman lokal.
Dampak luasnya, perekonomian daerah juga semakin berputar melalui sektor akomodasi, kuliner, hingga transportasi yang ikut terdongkrak.
“Dan Kediri saya rasa bisa menghadirkan event musik tahunan yang lebih variatif. Misal yang menggabungkan genre dangdut dengan rock, atau pop dan jazz jadi satu. Tapi dibuat sebagai acara annual, yang tiap tahunnya itu ada,” sambungnya.
Baca Juga: GOR Joyoboyo Dipadati Lautan Manusia karena Ini
Harapan lain yang dia titipkan adalah agar Kota Kediri terus berkembang tanpa kehilangan identitas dan kenyamanan yang selama ini membuatnya selalu ingin pulang.
Sebab, bagi seorang diaspora yang telah menghabiskan 25 tahun hidup di luar negeri, Kediri tetap menjadi rumah yang selalu ia rindukan. Rumah yang menyimpan kenangan dan jejak masa kecil yang selalu membawanya pulang. (ayu isma/fud)
Sumber : Radar Kediri