Beragam Kisah Diaspora Kota Kediri Merawat Kenangan Tanah Kelahiran (1) Kangen Suasananya dan, Tentu Saja, Sega Tumpangnya

Ayu Ismawati • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 21:31 WIB
Ali Musthofa bersama keluarga saat di Qatar. (Dok. Ali Musthofa)
Ali Musthofa bersama keluarga saat di Qatar. (Dok. Ali Musthofa)

Menjadi profesional di QatarEnergy membuat Ir Ali Musthofa, MMSI berada ribuan kilometer jauhnya dari kampung halaman. Namun, Kota Kediri tetaplah ‘rumah’ baginya. Berusaha pulang setahun sekali, melepas rindu suasana tenang dan, tentu saja, pada sambal tumpang kesenangannya.

Lebaran hampir selalu jadi momentumnya menengok tanah kelahiran, Kota Kediri. Praktis sejak dia memutuskan tinggal di Qatar 21 tahun silam. Kecuali tahun ini.

Penyebabnya adalah konflik di Timur Tengah. Menjadikan rencana pulang kampungnya urung. Menundanya untuk sementara waktu.

“Sebenarnya, Insya Allah setiap tahun pulang. Bahkan terkadang bisa lebih dari sekali kalau perlu,” ujar Ali, yang asal Kelurahan Bandarkidul, Kecamatan Mojoroto ini. 

Baca Juga: Lipsus HUT JP Radar Kediri ke-27 (1) Literasi, Gen-Z, dan Budaya Scroll: Baca pun Butuh di Tempat Nyaman dan Instagramable

Ali menetap di Qatar sejak 2005. Seiring pilihannya berkarir sebagai profesional migas di QatarEnergy. Meski begitu, dia bersama keluarga tetap meluangkan waktu pulang ke tanah air tiap tahun. Baginya, pulang adalah obat rindu yang tak bisa ditawar. 

Masa pulang kampungnya tak lama. Antara dua sampai tiga minggu. Dan, waktu sesingkat itu dia manfaatkan sebaik-baiknya. Mengunjungi kerabat dan teman lama, mencicipi kembali kuliner-kuliner khas Kediri, hingga sekadar keliling kota. Sesuatu yang tentu tak bisa dia dapatkan selama menjadi diaspora di luar negeri. 

“Yang paling saya kangeni itu suasananya. Kota Kediri itu tenang tapi hangat. Orang-orangnya ramah. Yang istimewa, kota ini punya suasana belajar yang kondusif dan enak untuk pelajar,” ungkapnya. 

Ali tak hanya lahir di Kota Kediri. Dia juga mengenyam pendidikan dasar hingga menengah atas di Kota Tahu. Itulah sebabnya alumnus SMAN 2 Kediri ini tahu betul bagaimana rasanya menjadi pelajar di Kota Kediri.

Baginya, menyaksikan kota ini tumbuh menjadi salah satu kota dengan iklim pendidikan yang terus berkembang menjadi kebanggaan tersendiri.

Baca Juga: Lipsus HUT JP Radar Kediri ke-27 (2) Transformasi dan Kredibilitas Kunci Media Cetak Mampu Bertahan

Tinggal di luar negeri juga membuatnya sadar betapa istimewanya kuliner-kuliner Kota Kediri. Alumnus SMPN 4 Kediri ini bisa menyusun daftar panjang makanan yang paling dikangeni.

Paling utama adalah nasi tumpang. Menu ini bahkan wajib jadi makanan ‘penyambut’ setiap kali pulang kampung. 

“Sampai sekarang lidah saya itu masih lidah Kediri. Sega tumpang itu favorit saya. Jadi kalau ke Kediri nyaris setiap hari saya makan nasi tumpang. Terkadang dikasih pecel, kadang-kadang hanya tumpang saja,” jlentrehnya, diikuti tawa kecil. 

Saking sukanya, Ali bisa dengan percaya diri menyebut semua sambal tumpang di Kediri itu enak. Pokoknya, hanya ada enak atau enak banget. 

Baca Juga: Ari Lasso Siapkan 15 Lagu di Puncak Hari Jadi Kota Kediri Malam Ini!

“Keluarga saya di Kediri juga tahu banget. Kalau saya di Kediri, biasa disambut dengan nasi tumpang. Kalau datangnya malam, biasanya sudah disediakan nasi tumpang. Dan kalau sarapan pagi besoknya itu hampir pasti ada tumpangnya,” beber Ali. 

Ada juga kerupuk goreng pasir yang juga selalu dikangeni. Alumnus SD Islam Bandarkidul itu lebih sering menyebut kudapan ini dengan nama opak konyol. Kerupuk yang juga banyak dijadikan oleh-oleh itu praktis selalu jadi jujukannya setiap pulang ke Kediri. 

“Itu kalau dikasih sambel pecel enak banget. Saya suka banget itu,” akunya. 

Untungnya, beberapa makanan favoritnya itu masih bisa didatangkan atau dibuat sendiri meski di luar negeri. Bisa sedikit jadi pengobat rindu saat belum bisa pulang ke Kediri. 

Baca Juga: Dhoho Night Carnival 2026 Hadirkan Rute Baru, Beri Pengalaman Berbeda dan Kenalkan Potensi Kota Kediri

“Setiap ada kesempatan pulang, biasanya saya berkunjung ke sekolah lama. Dan saya dulu sempat jadi ketua Ikatan Alumni SMAN 2, jadi terkadang ketemu teman di situ,” kata pria kelahiran 1966 itu. 

Kedekatan yang masih terjaga dengan teman-teman lama di Kediri juga jadi cara Ali tetap dekat dengan kota ini. Bagaimana pun juga, Ali lahir dan tumbuh di Kota Kediri. Seberapa jauh dia pergi, pada akhirnya tempatnya pulang adalah Kota Kediri.

“Ibaratnya itu ya memang rumahnya di situ, kampungnya di situ. Jadi merasa nyaman di sana,” tandas alumnus Geologi Universitas Padjadjaran Bandung itu. 

Seiring waktu, dia menyadari kota kelahirannya itu juga semakin berkembang. Ruang-ruang publik semakin banyak ditemui. Akses masyarakat terhadap fasilitas publik pun semakin terbuka.

“Itu sesuatu yang menggembirakan kalau menurut saya. Itu menunjukkan bahwa Kediri sudah semakin terbuka untuk pengunjung,” sambungnya. 

Baca Juga: Ribuan Orang Tumpah Ruah Ikut Meriahkan Pesta Rakyat di Jalan Stasiun Kota Kediri

Hanya saja, perkembangan kota itu menurutnya tetap harus mengutamakan aspek kebermanfaatan bagi masyarakat, bukan sekadar ‘maju’ saja.

Dan, di usia Kota Kediri yang mencapai 1.147 tahun di 2026 ini, dia berharap kota ini bisa semakin maju serta mampu memberikan manfaat untuk semua. 

“Saya berharap Kediri tetap menjadi tempat yang sangat kondusif untuk belajar, untuk mondok, untuk membentuk karakter. Dan saya berharap ke depan kalau bisa, Kediri menjadi salah satu center of excellence-nya Jawa Timur,” harapnya. 

Dengan banyaknya guru-guru dan ulama-ulama hebat di Kota Kediri, menurutnya kota ini punya modal mewujudkan ekosistem pendidikan yang lebih maju.

Sehingga bisa semakin meningkatkan kualitas generasi muda yang menempuh pendidikan di Kota Kediri. (ayu isma/fud)

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri
sman 2 kediri diaspora kota kediri sambal pecel Qatar tumpang