Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Liputan Khusus: Bagaimana Sekolah Minim Murid Menjaga Bara Semangat Belajar Anak ?

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Minggu, 19 Juli 2026 | 06:01 WIB
SDN Mojosari 1 di Kecamatan Kras yang siswa kelas I-VI totalnya hanya 12 anak. Saat MPLS seluruh siswa diikutkan agar siswa baru tidak berkecil hati. (Foto Wahyu Adji)
SDN Mojosari 1 di Kecamatan Kras yang siswa kelas I-VI totalnya hanya 12 anak. Saat MPLS seluruh siswa diikutkan agar siswa baru tidak berkecil hati. (Foto Wahyu Adji)

 Jika sejumlah sekolah berlabel favorit harus menolak ratusan hingga ribuan pendaftar, lembaga yang jumlah siswanya minim harus berjibaku menjaga semangat belajar anak di kelas yang sunyi. Guru-guru pun berkreasi agar anak merasa nyaman saat mendapat kelas ‘privat’ secara gratis itu.

Jarum jam menunjukkan pukul 10.00. Idealnya sekolah akan riuh rendah suara anak-anak yang sedang bermain di jam istirahat. Namun, kondisi SDN Mojosari 1 di Kecamatan Kras itu lengang.

Kompleks gedung yang memiliki enam kelas dan beberapa ruang lain itu memang hanya dihuni oleh 12 anak.

Rinciannya, siswa kelas I dua anak, siswa kelas 2 dan kelas 5 nol atau kosong. Sedangkan siswa kelas 3 dan 4 masing-masing dua anak dan tiga anak. Isi kelas terbanyak di kelas VI dengan lima anak.

“Yang kelas satu itu ada anak penjaga sekolah dan satu lagi warga sekitar,” kata Kurnia Dewi, guru kelas IV SDN Mojosari 1.

Sekolah ini sebenarnya berada di tengah permukiman warga.

Baca Juga: Liputan Khusus: Merasakan Berbelanja di Gerai KDMP yang Sudah Beroperasi, Sepi Pembeli tapi Klaim Omzetnya Bisa Jutaan

Namun, lokasinya yang diapit beberapa sekolah negeri itu membuatnya kalah bersaing.

Jaraknya dengan SDN Mojosari 2 hanya sekitar 800 meter. Belum lagi ada dua madrasah ibtidaiyah (MI) yang jaraknya hanya sekitar 500 meter dan 600 meter.

“Anak usia sekolah lumayan banyak. Tapi arahnya ke MI karena memang masyarakatnya religius. Ada pondok juga di sini,” lanjut Dewi.

Dengan jumlah siswa yang hanya 12 anak untuk semua kelas, Dewi dan guru-guru lainnya harus menyusun strategi tersendiri agar anak-anak bisa mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) dengan nyaman.

Baca Juga: SDN di Puncu Nol Pendaftar, 15 SD di Kabupaten Kediri Kekurangan Murid

Seluruh siswa diajak untuk mengikuti kegiatan bagi siswa baru itu. Dengan demikian, dua siswa kelas 1 yang baru tidak merasa sendirian.

“Biar anak-anak baru tidak merasa kecil hati karena muridnya sedikit,” tuturnya.

MPLS juga dikemas semenarik mungkin agar siswa tidak jenuh. Misalnya, perkenalan antarsiswa dilakukan lewat permainan dan lagu. Dengan demikian mereka tidak merasa canggung. 

Sedangkan pengenalan lingkungan sekolah dibuat dalam bentuk permainan berburu harta karun.

Siswa dibagi dalam kelompok yang berisi campuran kelas bawah dan kelas atas.

Tim ini harus menyelesaikan tantangan di setiap pos. “Anak kelas satu didampingi kakak kelasnya. Jadi mereka tidak merasa sendiri,” papar Dewi.

Meski saat MPLS digabung, pembelajaran tetap dilakukan di masing-masing kelas.

Dengan jumlah siswa yang sedikit, menurut Dewi justru menguntungkan murid dan guru.

Sebab, setiap anak bisa mendapat perhatian yang lebih tak ubahnya kelas privat.

Baca Juga: Nasib 10 SDN Kota Kediri di Ujung Tanduk, Pendaftar Tak Sampai Sepuluh, Terancam Dimerger Tahun Ini

Hasil pembelajaran pun menurut Dewi juga lebih baik. “Pernah ada anak yang belum bisa membaca sama sekali, akhirnya bisa lebih cepat karena pendampingannya intensif,” ujarnya sembari memastikan bahwa para siswa tetap mendapatkan haknya.

Untuk membuat siswa semakin betah belajar, sekolah juga memaksimalkan berbagai fasilitas dan program pembiasaan. Di antaranya, pembelajaran memanfaatkan papan interaktif digital. Selebihnya, mereka juga memperbanyak kegiatan di luar kelas.

Di antaranya, rutin mengajak anak-anak salat Duha berjamaah, salat Zuhur berjamaah, hingga tambahan pelajaran baca tulis Alquran, hafalan surat pendek, dan ekstrakurikuler kaligrafi.

“Kami berusaha membuat anak-anak senang datang ke sekolah. Jadi bukan hanya belajar di kelas, tapi juga banyak kegiatan yang menarik dan penguatan pendidikan agama,” tandasnya.

Tak hanya di SDN Mojosari 1 Kras, SDN Gadungan 2 Puncu yang tahun ini tidak mendapat siswa baru juga tetap menggelar MPLS.

Bedanya, sebanyak 30 anak yang merupakan siswa kelas 2 hingga kelas 6 itu mengikuti masa pengenalan lingkungan kelas atau MPLK.

“Kegiatannya berisi penyesuaian lingkungan kelas baru, penyusunan jadwal piket, hingga pembentukan kepengurusan kelas,” ujar Plt Kepala SDN Gadungan 2 Nur Edy.

Dengan mengikuti MPLK, anak-anak tetap bisa beradaptasi dengan kelas barunya.

Pun dengan kegiatan yang baru. “Hak anak-anak tidak boleh dikurangi. Pembelajaran tetap harus diberikan sesuai hak mereka. Kalau guru kurang, ya teman-teman guru membagi diri.

Misalnya kelas II dan III dirangkap karena jumlah siswanya sedikit,” lanjut Edy tentang tenaga guru di sana yang hanya ada tiga orang itu.

Baca Juga: Hari Pertama MPLS Sekolah Rakyat! Di Kota Kediri, Siswa Sulit Tidur, di Kabupaten Kediri, Bupati Dhito Kunjungi SR Plosoklaten

Jika salah satu dari tiga guru berhalangan, Edy juga langsung menggantikan mengajar di kelas. Prinsipnya kelas tidak boleh kosong. Tidak boleh ada jam kosong.

Ia mengakui, membangun kembali kepercayaan masyarakat tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.

Sejak ditugaskan sekitar tiga bulan lalu, Edy langsung blusukan ke taman kanak-kanak (TK) hingga berkoordinasi dengan pemerintah desa. Namun, hasilnya belum bisa langsung dirasakan.

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan sekadar menambah jumlah siswa baru.

Melainkan juga memastikan seluruh peserta didik tetap mendapat layanan pendidikan yang layak dan tidak merasa berbeda dengan sekolah lain.

Senasib dua sekolah lainnya, SDN Bedug Ngadiluwih yang hanya mendapat dua siswa juga harus berjibaku menjaga semangat belajar mereka.

 Caranya, dengan mengajak siswa 2 untuk digabung kegiatan MPLS dengan murid baru. “Agar siswa kelas 1 yang baru tidak merasa sendiri,” beber Kepala SDN Bedug Siti Aminah Dien Afrina. (*)

 

 

 

 

 

Editor : Mahfud
Sumber : Radar Kediri
sdn sepi peminat strategi mpls kreatif