Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Liputan Khusus : Sudah Terdaftar di KONI, Mengapa Cabor-Cabor Ini Masih Tak Aktif? Ternyata Ini Masalahnya

Emilia Susanti • Senin, 6 Juli 2026 | 05:52 WIB
Ilustrasi cabang olahraga sepak takraw. (Ilustrasi: Afrizal/JPRK)
Ilustrasi cabang olahraga sepak takraw. (Ilustrasi: Afrizal/JPRK)

Cabor-cabor ini telah terdaftar di KONI Kota Kediri tapi tak menunjukkan aktivitas sama sekali. Problemanya beragam, mulai kepengurusan mati, anggaran kurang, hingga minimnya minat atlet di olahraga tersebut. Lantas, apakah mereka masih bisa diselamatkan?

Kepengurusan Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Kota Kediri sejatinya masih aktif. Ketua, sekretaris, bendahara, dan pengurus bidang masih lengkap. Kantornya pun ada, di SDN Balowerti 2. Sekaligus jadi tempat latihan.

Sayangnya, cabor yang berciri khas bola rotan dan menggunakan tendangan ini sudah beberapa tahun vakum. Tak ikut pekan olahraga provinsi (porprov).

”Terakhir ikut kalau ndak salah 2022 atau 2023,” ucap Ketua Harian PSTI Kota Kediri Sugeng Prayogo, mengingat-ingat.

Mengapa? Problem utamanya adalah regenerasi. Mereka tak lagi memiliki seorang pun atlet. Jangankan porprov, di semua kompetisi sepak takraw mereka tak pernah ikut.

Baca Juga: Via Ciptalia, Berawal dari Gagal Jadi Atlet Voli kemudian Beralih ke Sepak Takraw

Tak ada upaya mencari atlet? Sugeng menyebut mereka sudah berupaya keras mendapatkan bibit-bibit sepak takraw. Nyatanya, hal tersebut tak mudah.

"Kami masih kesulitan mencari atlet. Mencoba mengadakan kegiatan cari atlet, tapi kegiatannya masih untuk passing. Saya minta juga ke teman guru untuk menanyakan muridnya yang bisa passing, jawabannya nggak ada," dalihnya.

Sugeng tak memungkiri, kesulitan itu karena sepak takraw tak popular. Minat atlet pun kecil. Lebih-lebih, tekniknya memang relatif sulit. Harus bisa juggling sekaligus passing. Bola yang digunakan pun keras.

“Ada yang anaknya mau, orang tuanya yang tidak mengizinkan. Lihat anaknya heading dengan bola yang keras jadi pada kasihan. Beneran, itu ada,” terang Sugeng.

“Maka, nyuwun sewu, (di masyarakat) kalangan atas itu sulit untuk mengembangkan sepak takraw,” lanjutnya.

Kondisi ini berbeda dengan Blitar atau Trenggalek. Sepak takraw populer hingga di desa-desa. Turnamen juga aktif, sehingga mereka tak kesulitan bibit atlet.

"Di Blitar dan Trenggalek itu benar-benar hidup. Pertandingan antar kampung itu pasti meriah walau hadiahnya kadang hanya hewan ternak," ujarnya kagum.

Sebenarnya, Kota Kediri bukannya tanpa potensi. Dulu, mereka sempat mengirim atlet ke Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POP Nas) dan Pekan Olahraga Nasional (PON).

"Yang terakhir itu ya yang PON itu, ada atlet cewek dari (Kelurahan) Bence (Kecamatan Pesantren). Setelah itu nggak ada atlet," ungkap mantan atlet sepak takraw ini.

Baca Juga: Drumband Genta Buana Brawijaya Bakal Semarakkan Opening Kediri Beauty Fest 2025, Catat Tanggalnya!

Idealnya, membina sepak takraw harus sejak SD. Repotnya, antusiasme anak seusia itu masih labil. Memang ada yang menonjol, tapi belum mampu bersinar di kompetisi atau kejuaraan resmi.

"Kami pernah di porpov hanya bisa sampai delapan besar," aku Sugeng, yang mengaku belum menyerah untuk menggairahkan sepak takraw di Kota Kediri ini.

Cabor yang juga vakum aktivitas adalah drumband. Yang ini bahkan kepengurusan Persatuan Drum Band Indonesia (PDBI) Kota Kediri sudah mati sejak 2025.

Sulaiman, ketua harian PDBI Kota Kediri, mengatakan pihaknya sebetulnya masih ingin menghidupkan drum band. Tapi tidak dalam waktu dekat. Salah satu penyebabnya adalah rasa traumatis pasca-kasus korupsi dana hibah KONI Kota Kediri beberapa waktu lalu.

"Kami nggak tahu apa-apa, tetapi kami ikut dipanggil kejaksaan. Ya di situ ada trauma," aku Sulaiman.

Dari situ, PDBI Kota Kediri memilih berhenti. Tak mengambil jatah dana cabor dari KONI Kota Kediri. Kompetisi drum band pun tak ada. Termasuk tak turun di Porprov Jatim IX 2025.

"Event terakhir kami itu Mei 2024, itu kami adakan kejurkot (kejuaraan kota)," ingatnya.

Penyebab yang lain, pengurus provinsi (pengprov) PDBI Jawa Timur juga masih memiliki persoalan yang pelik. Kepengurusannya kerap berganti.

"Di provinsi itu intinya juga ada permasalahan," katanya tanpa menjelaskan lebih detail.

Mutasi yang terjadi di kepolisian memengaruhi jalannya organisasi. Sebab, posisi ketua umum biasanya diambil oleh Kasatbinmas. Sehingga, pergantian ketua umum tak bisa dielakkan lagi bila terjadi mutasi. Nah, hal-hal inilah yang membuat drum band sulit untuk berkembang. Pasalnya, karakter dari setiap ketua umum berbeda-beda.

"Tetapi sebetulnya untuk atlet-atletnya itu ada. Sekolah-sekolah masih aktif latihan," tambah Efni Tuani Lubis, pelatih utama drum band.

Lebih dari itu, pelatih-pelatih drum band di Kota Kediri juga memiliki semacam klub. Dalam cabor drum band dikenal dengan satuan drum band. Saat ini total yang tercatat mencapai 59 satuan drum band. Hanya saja, aktivitas pembinaan yang hidup tak sampai setengahnya.

"Drum band itu ya masih aktif dengan kegiatannya masing-masing. Tetapi untuk kepengurusannya memang SK-nya sudah habis," kata Efni.

Masih terkait kendala, faktornya adalah anggaran. Kebutuhan untuk drum band selalu besar.

"Sekali berangkat bisa ratusan juta rupiah. Kejurprov (kejuaraan provinsi) itu kami biaya sendiri," ceritanya sembari menyebut jumlah atlet yang dibutuhkan biasanya sekitar 25 atlet.

Kendati demikian, Sulaiman kembali menekankan bahwa pihaknya ingin menghidupkan lagi kepengurusan PDBI Kota Kediri. Namun itu akan dilakukan secara perlahan. Pihaknya akan memulai langkahnya dengan melakukan studi banding ke Kabupaten Malang.

Cabor vakum lainnya adalah bola voli. Saat ini kepengurusan Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Kota Kediri mulai ditata. Musyawarah kota (muskot) pembentukan pengurus baru berlangsung Selasa (23/6) lalu. Sebelumnya, klub-klub voli di Kota Kediri terpaksa harus mengurus izin ke Polda Jatim bila ingin mengikuti ajang kejuaraan resmi seperti kejurprov.

Baca Juga: Hasil Cemerlang, PP PBVSI Pertahankan Reidel Toiran untuk Nakhodai Timnas Voli Putra Indonesia

"Atlet bila ingin keluar untuk mengejar prestasinya itu tidak ada jembatannya. Jadi kami minta izinnya ke Polda bukan dari Kota Kediri. Alhamdulillah-nya ke Polda itu bisa," terang Welly Bagus Priyandana, pelatih klub voli Joyoboyo. (emilia susanti/fud)

Editor : Mahfud
#liputan khusus radar kediri #cabor mati di kota kediri #cabor sepak takraw #drumband kota kediri #koni kota kediri