Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Situs-Situs Besar Kediri yang Ekskavasinya Terhenti : Begini Menurut Pemkab dan Pengamat!

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Selasa, 30 Juni 2026 | 13:42 WIB
Situs Tondowongso yang ekskavasinya belum rampung. (Foto Diana Yunita)
Situs Tondowongso yang ekskavasinya belum rampung. (Foto Diana Yunita)

Upaya Pemkab Kediri untuk melanjutkan ekskavasi sejumlah situs mendapat dukungan luas.

Salah satunya dari para pegiat sejarah. Mereka menilai situs-situs yang merekam sejarah Bumi Panjalu itu bisa menjadi ikon wisata baru.

Pegiat Sejarah KRA Bimo Dewobroto Hadiningrat mengatakan, Situs Tondowongso dan Situs Adan-Adan yang memiliki nilai yang sangat tinggi.

Jika keduanya bisa diekskavasi secara utuh, situs tersebut diyakini bisa menjadi ikon pariwisata baru di Kabupaten Kediri.

Sekaligus memperkuat bukti bahwa wilayah ini pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan besar. Serta peradabannya yang maju.

“Kalau kedua situs itu bisa dibuka secara utuh, potensinya luar biasa. Bukan hanya menjadi bukti bahwa Kediri memiliki peradaban yang besar, tetapi juga bisa menjadi ikon pariwisata Kabupaten Kediri,” ujar pria yang juga anggota Dewan Kebudayaan Kabupaten Kediri (DK3) Bidang Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) Bagian Ritus dan Tradisi.

Lebih jauh Bimo mengatakan, salah satu keistimewaan Situs Adan-Adan terletak pada temuan arca dan makara yang tergolong langka. Ukurannya juga jauh lebih besar dari lainnya.

Temuan-temuan tersebut menurutnya jadi petunjuk penting tentang perkembangan seni, arsitektur, dan kebudayaan masyarakat pada masa lalu.

Baca Juga: Lipsus Minyakita Subsidi Langka di Pasaran, Mengapa? (2): KDKMP Dulu, Pengecer Kemudian  

Karenanya, Bimo menilai ekskavasi dan restorasi dua situs tersebut harus menjadi prioritas.

Selain menyelamatkan tinggalan budaya, langkah itu juga menjadi wujud komitmen menjaga bukti fisik sejarah agar tidak hilang dimakan waktu.

“Ini (dua situs) merupakan bukti fisik kemajuan peradaban, seni, dan arsitektur masa lampau. Kalau tidak diselamatkan, warisan yang sangat berharga ini bisa hilang ditelan zaman,” tegasnya.

Jika ekskavasi terus tertunda, menurut Bimo risiko kerusakan situs diperkirakan akan semakin besar.

Struktur bangunan, terutama yang berbahan bata seperti Situs Tondowongso, rentan mengalami pelapukan akibat cuaca, erosi, lumut.

Hingga tumbuhan liar seperti ficus yang akarnya dapat merusak susunan bata.

Selebihnya, tertundanya ekskavasi juga masyarakat sekitar tidak bisa merasakan manfaat ekonomi dari keberadaan situs tersebut.

Pengembangan kawasan cagar budaya, menurut Bimo mampu menggerakkan berbagai sektor usaha. Mulai jasa parkir, penyewaan perlengkapan wisata, kuliner hingga usaha mikro lainnya.

“Saya pernah mewawancarai penyewa tikar di kawasan Candi Prambanan. Hanya dari menyewakan tikar, mereka mampu menyekolahkan empat anaknya sampai lulus perguruan tinggi. Itu membuktikan keberadaan candi bisa memberikan dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat sekitar,” beber pendiri perkumpulan seni dan budaya Ndalem Dewobroto itu.

Dia menduga lambatnya ekskavasi karena keterbatasan pendanaan. Namun, hal tersebut tidak boleh jadi alasan ekskavasi mandek.

Dia meminta Pemkab Kediri mencontoh Provinsi Jawa Tengah yang melakukan ekskavasi secara bertahap hingga destinasi wisata sejarah mereka dikenal luas.

“Kalau di Jawa Tengah banyak situs yang terus diekskavasi dan direstorasi. Sementara di Jawa Timur sering kali hanya digali beberapa hari, lalu ditimbun kembali,” sesalnya.

Baca Juga: Lipsus Proyek Jembatan Kaliombo 1 : Ubah Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat, Labirin Gang Durian pun Jadi Jalan Utama!

Kabupaten Kediri, tutur Bimo, butuh ikon sejarah yang mampu ‘bertutur’ kepada masyarakat dalam bentuk fisik.

“Kabupaten Kediri butuh ikon. Kedua situs ini bisa menjadi bukti bahwa Kediri pernah memiliki kerajaan besar dengan peradaban yang luar biasa. Tinggal bagaimana keseriusan semua pihak untuk mewujudkannya,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri Mustika Prayitno Adi menyebut, pemkab akan melakukan perbaikan di area situs secara bertahap, menyesuaikan kemampuan anggaran.

Menurut Mustika setiap tahun Pemkab Kediri selalu mengalokasikan anggaran untuk penambahan maupun perbaikan fasilitas di situs-situs yang dikelola.

Namun, kebijakan efisiensi anggaran membuat pembangunan harus dilakukan berdasarkan skala prioritas.

Adapun tahun ini pengembangan Museum Sri Aji Jayabaya menjadi salah satu fokus utama.

“Memang belum ada kegiatan yang skala besar atau masif di situs. Tetapi insyaallah setiap tahun ada perbaikan dan penambahan fasilitas di situs-situs yang kami kelola. Semua menyesuaikan kemampuan anggaran, apalagi saat efisiensi seperti sekarang,” jelasnya.

Kendala terbesar untuk melanjutkan ekskavasi secara menyeluruh, ungkap Mustika, bukan hanya persoalan pendanaan.

Melainkan, pembebasan lahan juga menjadi pekerjaan besar yang harus diselesaikan sebelum proses penggalian dapat dilakukan lebih luas.

Khusus untuk Situs Adan-adan, hingga kini lahan yang diduga menyimpan tinggalan purbakala masih berstatus milik warga.

Baca Juga: Lipsus (1) Derita Bahasa Jawa, ketika Riuh Keinginan Memasukkan Bahasa Prancis dalam Kurikulum Pendidikan

Kondisi itu membuat proses ekskavasi belum dapat dilakukan secara menyeluruh.

Pemerintah pun belum melakukan pembebasan karena masih menunggu hasil penelitian mengenai sebaran pasti kawasan situs.

“Dulu Adan-adan memang belum dibebaskan karena masih dalam penelitian untuk mengetahui sebaran situsnya. Itu juga menjadi kendala bagi pemerintah maupun pemilik lahan,” paparnya.

Meski demikian, Pemkab Kediri mulai menyiapkan langkah lanjutan.

Pembebasan lahan Situs Adan-adan direncanakan mulai diusulkan pada tahun depan sebagai bagian dari upaya membuka peluang ekskavasi yang lebih luas.

“Rencana tahun depan akan kami ajukan proses pembebasan tanahnya,” tegas Mustika. 

Editor : Mahfud
#kabupaten kediri #situs tondowongso #situs adan adan #situs sejarah