Di dalam tanah Kediri tersimpan jejak peradaban tinggi yang belum terungkap. Berada di situs-situs purbakala yang, diyakini, berukuran besar dan luas.
Sayangnya, narasi sejarah itu belum sepenuhnya tergali, yang masih menyisakan banyak misteri.
Namanya Situs Tondowongso. Lokasinya ada di Desa Gayam, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri.
Situs ini diyakini sebagai penemuan arkeologi klasik Hindu-Syiwa terbesar di Jawa Timur dalam beberapa dekade terakhir. Menyimpan nilai historis luar biasa.
Mengenai masa transisi peradaban Jawa Tengah ke Jawa Timur. Bila melihat gambaran di atas, situs ini bisa menjadi destinasi wisata sejarah yang sangat besar.
Menjadi magnet bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Sayangnya, ternyata fakta yang tersaji tidak seperti itu.
Bukan saja karena proses ekskavasi yang belum tuntas, fasilitas penunjang sebagai tujuan wisata juga masih minimalis.
Jalan yang menjadi akses ke tempat ini belum memadai. Belum lagi fasilitas penunjang seperti toilet, di lokasi, yang belum ada. Padahal, setiap hari sebenarnya ada saja yang datang.
Baca Juga: Lipsus HANI 2026 (1) : Ketika Kediri Jadi ‘Tambang Emas’ Pengedar Sabu, Ini Alasannya!
“Kalau pengunjung ya rata-rata 10 sampai 20 orang per hari. Tidak hanya wisatawan, kadang malam juga ada yang (melakukan) ritual,” ujar Edi Saputro, juru pelihara Situs Tondowongso.
Situs ini sudah ditemukan pada akhir 2006, oleh seorang warga secara tidak sengaja. Setelah itu pihak berwenang melakukan ekskavasi perdana pada 2007.
Disusul penelitian secara bertahap hampir setiap tahun, hingga 2014. Setelah sempat terhenti beberapa tahun, ekskavasi kembali dilakukan pada dekade 2020-an ini.
“Terakhir yang 2025 itu, untuk memasang cungkup,” jelas sang jupel.
Hasil beberapa kali ekskavasi itu sebenarnya sangat luar biasa. Arkeolog menemukan sejumlah struktur penting.
Mulai candi induk, tiga candi perwara, satu gapura, hingga struktur pagar yang mengelilingi kompleks. Pada awal penemuan juga ditemukan 14 arca yang kini disimpan di Museum Sri Aji Jayabaya.
Dan, penemuan itu, diyakini hanya bagian kecil dari keseluruhan situs. Baru sekitar 10 persen dari total kompleks. Bagian kaki candinya saja diperkirakan masih terkubur hingga tiga meter di bawah permukaan.
“Kalau digali lagi kemungkinan baru ketemu sekitar tiga meter sampai dasar,” terang laki-laki yang akrab disapa Edi ini.
Mengapa ekskavasi terhenti? Edi terdiam sejenak. Kemudian berucap bahwa proses penelitian arkeologi memang tak bisa dilakukan sekaligus.
Setiap kali ekskavasi hanya berlangsung 10 hari. Belum lagi soal keterbatasan anggaran. Karena peneliti harus membagi waktu dan tenaga dengan situs lain yang tersebar di berbagai daerah.
Jadinya, potensi Situs Tondowongso hingga kini belum bisa dinikmati sepenuhnya. Bila saja bagian kaki candi berhasil digali bentuknya akan terlihat lebih utuh. Sehingga nilai sejarah maupun daya tarik wisatanya akan meningkat.
“Kalau nanti bagian bawahnya sudah kelihatan, tampilannya tentu lebih bagus. Orang datang juga akan lebih tertarik,” katanya.
Kendala lain adalah status lahan. Pemerintah Kabupaten Kediri baru memiliki 9.700 meter persegi, atau belum ada satu hektare.
Padahal, Situs Tondowongso diperkirakan seluas 12 hektare! Jangan heran bila struktur pagar terluar masih berada di tanah milik warga.
Karena di lahan milik warga, tentu tak bisa dimaksimalkan pemanfaatan dan penelitiannya. Sedangkan warga juga tak bisa memanfaatkan lahan itu dengan maksimal untuk kepentingan yang lain.
“Yang masih berada di lahan warga itu bagian tembok terluarnya. Perkiraan luas keseluruhan situs sekitar 12 hektare,” ujar Edi.
Edi menyebut, belum ada kepastian kapan ekskavasi kembali dilakukan. Rencana terdekat adalah pemasangan cungkup pada bangunan candi induk.
Sedangkan ekskavasi lanjutan masih menyesuaikan kemampuan anggaran yang tersedia.
Hal serupa juga terjadi di Situs Adan-adan, objek arkeologi bernilai tinggi yang ada di Desa Adan-adan, Kecamatan Gurah.
Bedanya, kendala utama di situs ini bukan hanya ekskavasi yang terhenti, juga seluruh kawasan bersejarah itu ada di lahan warga.
Jupel Situs Adan-adan Ikhwan menjelaskan, ekskavasi sebenarnya telah dilakukan lima kali sejak ditemukan pada 2016.
Penelitian berlangsung hampir setiap tahun, hingga 2022. Hanya berhenti ketika pandemi Covid-19.
Setelah itu, kegiatan yang dilakukan lebih banyak berupa pemasangan cungkup pelindung. Serta ekskavasi di Dusun Genuk yang menemukan tempayan kuno.
“Terakhir tahun 2022. Waktu itu pemasangan cungkup sama penggalian di Dusun Genuk yang menemukan tempayan. Setelah itu belum ada lagi,” ujarnya.
Sama seperti Tondowongso, Situs Adan-Adan juga punya potensi nilai sejarah tinggi. Luasnya bahkan melebihi kawasan Candi Borobudur.
Salah satu yang terlihat adalah ukuran makara yang lebih besar dibandingkan yang ada di Borobudur. Sayangnya, bagian yang berhasil diungkap masih sangat kecil. Area utara dan barat sama sekali belum pernah diekskavasi.
“Kalau persentasenya masih sangat kecil. Yang bagian utara sama barat itu belum pernah dibuka sama sekali,” jelasnya.
Mengapa? Penyebabnya ada karena teknis ada pula non-teknis. Salah satunya keberadaan pemakaman umum di sisi utara. Membuat proses ekskavasi terkendala.
Karena pilihannya adalah relokasi makam atau penentuan titik penggalian baru.
“(Titik penggalian) itu kan di bawahnya makam,” jelasnya.
Kendala lain soal status lahan.
“Masih milik pribadi semua. Belum ada yang dibebaskan,” jelasnya.
Sebenarnya, situasi ini juga menyulitkan warga pemilik lahan. Mereka tak bisa memanfaatkan tanahnya dengan maksimal.
Bidang yang telah dipasangi pelindung situs tidak lagi dapat ditanami. Padahal kepastian pembebasan lahan juga belum ada.
Selain itu, kelanjutan ekskavasi sepenuhnya bergantung pada kebijakan pemerintah dan ketersediaan anggaran.
“Kalau soal ekskavasi kami menunggu instruksi dari dinas. Pendanaan juga dari sana,” ungkapnya.
Padahal, menurut Ikhwan, jika seluruh kompleks berhasil diungkap dan direkonstruksi, Situs Adan-Adan berpotensi menjadi salah satu destinasi wisata sejarah terbesar di Jawa Timur.
Apalagi, situs tersebut memiliki temuan Arca Mahakala yang tergolong langka. Contohnya saja, beberapa waktu lalu ada konten di medsos yang menarasikan Situs Adan-adan dan jadi viral.
Jika sebelum adanya konten itu kunjungan di Situs Adan-Adan sangat sepi, kini bisa sampai sekitar 300 pengunjung saat hari libur.
“Kalau bisa dibuka (digali, Red) semua saya yakin banyak yang tertarik datang ke sini. Bisa lebih ramai seperti Borobudur ataupun Prambanan,” tuturnya.
Editor : Mahfud