Ambisi membangun koridor wisata di jantung Kota Kediri itu semakin nyata. Jalan Stasiun direvitalisasi, salah satunya, agar bisa diintegrasikan dengan Jalan Dhoho: jalan ikonik di pusat Kota Kediri.
Kemiripan latar belakang kawasan Jalan Dhoho dan sekitarnya dengan Kayutangan Heritage menjadikan area ini punya modal cukup untuk dikembangkan jadi wisata tematik baru. Dan membangun kawasan destinasi wisata baru itu perlu diawali dengan penataan kawasan. Termasuk Jalan Dhoho.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Kediri Endang Kartika Sari mengatakan, gagasan penataan Jalan Dhoho datang dari berbagai masukan masyarakat.
Khususnya soal upaya menghidupkan kembali Jalan Dhoho yang jejeran pertokoannya sudah banyak tutup karena ditinggalkan pemiliknya.
Baca Juga: 5 Usulan Penataan Jalan Dhoho
“Jadi nanti dengan direvitalisasinya Jalan Dhoho diharapkan toko-toko banyak berubah ke kuliner, tempat tongkrongan anak-anak muda, kemudian nasi pecel juga masih ada di situ. Untuk aktivitas di malam hari tentunya,” kata Endang.
Kuliner memang masih menjadi potensi andalan yang ingin diangkat pemkot dari Jalan Dhoho dan sekitarnya. Dengan harapan bisa menghadirkan wisata tematik, pihaknya sudah merencanakan pembangunan sarpras penunjang.
Salah satunya gedung parkir tiga lantai di lahan eks-pacific yang direncanakan bisa terealisasi pembangunannya tahun depan.
“Jadi walaupun Kota Kediri bukan Jogjakarta, bukan Malioboro. Tetapi perlu diingat bahwa nama Jalan Dhoho itu juga hanya di Kota Kediri. Jadi itu juga merupakan ciri khas kota kita yang nanti akan menyatu dengan Jalan Stasiun dan didukung gedung parkir,” terang Endang, terkait upaya pemkot mendorong transformasi fungsi kawasan itu menjadi pusat kuliner dan ruang berkumpul masyarakat.
Terkait konsep penataan kawasan tersebut, Endang menyebut integrasi tidak hanya sebatas dua ruas jalan itu saja.
Baca Juga: Pemkot Kediri Ancang-Ancang Menata Jalan Dhoho Kota Kediri, Targetkan Terealisasi Tahun 2027
Melainkan juga menghubungkan berbagai destinasi dalam satu pengalaman wisata. Sebelum mengarah ke sana, menurutnya pemkot masih perlu menyelesaikan persoalan tata ruang seperti kabel-kabel di udara yang masih semrawut.
“Jadi biar seperti Jalan Stasiun. Di atas itu rapi, kabel semua ada di bawah tanah, baik itu kabel fiber optic maupun kabel PLN,” tandasnya.
Adapun koridor tersebut akan dimulai dari Stasiun Kediri. Kemudian tersambung ke Jalan Dhoho, kawasan wisata religi Mbah Wasil, hingga sentra kuliner yang tersebar di sirip-sirip Jalan Dhoho.
Termasuk di antaranya yang tersebar di kawasan pecinan di Kelurahan Pakelan yang memiliki jejak sejarah komunitas Tionghoa.
"Sekarang pun di sirip-sirip Jalan Dhoho sudah mulai ada embrio-embrio untuk jadi kedai kopi atau tempat-tempat kuliner seperti di Jalan Dr Wahidin itu. Jadi nanti kita satukan atau integrasikan di situ,” terang Endang.
Baca Juga: Pecinan Kediri Bakal Punya Wajah Baru! 'Gerebek Kutha' Siap Jadi Magnet Wisata Anyar
Konsep ini diharapkan membuat wisatawan dapat menikmati berbagai destinasi dalam satu kawasan yang saling terhubung. Pengunjung tidak hanya bisa berbelanja atau menikmati kuliner saja.
Tetapi juga bisa mengakses wisata sejarah dan religi dalam satu perjalanan atau one stop service.
Meski sudah merancang konsep besar, sayangnya realisasi revitalisasi Jalan Dhoho belum dapat dilakukan dalam waktu dekat. Keterbatasan anggaran akibat berkurangnya dana transfer dari pemerintah pusat membuat pemkot harus melakukan pembangunan secara bertahap.
“Tapi kami tetap menyicil dengan membangun gedung parkir dulu. Sehingga nanti kalau gedung parkir dibangun, kemudian Jalan Dhoho direvitalisasi, sudah ada tempat untuk parkir. Sehingga masyarakat sudah tidak bingung lagi,” ungkapnya. Fasilitas yang sudah terbangun itu juga bisa jadi opsi menampung pedagang pecel Jalan Dhoho sewaktu nanti pekerjaan revitalisasi berjalan.
Baca Juga: Tak Boleh Getok Harga! PKL Jalan Dhoho Kediri Wajib Pasang Daftar Harga
Keistimewaan kawasan Jalan Dhoho dan Jalan Stasiun untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata tematik juga didukung jejak sejarah yang tersimpan di sana.
Ada bangunan Stasiun Kediri yang sudah berusia lebih dari 100 tahun. Bangunan dengan gaya arsitektur Indische Empire itu jadi bukti jejak kolonialisme Belanda di Kediri.
Ada juga bekas perusahaan penerbitan buku milik Tan Khoen Swie di Jalan Dhoho. Keberadaan perusahaan bernama Boekhandel Tan Khoen Swie itu punya peran penting dalam perkembangan literasi Jawa dan Melayu di Indonesia, khususnya pada awal abad ke-20.
Yang terbaru, Pemkot Kediri melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) mengkaji sebuah objek diduga cagar budaya (ODCB) di Jl Stasiun. Bangunan yang dulu dikenal dengan nama Hongkong Restaurant itu tahun ini diusulkan menjadi cagar budaya.
Butuh Cerita Besar agar Jadi pemikat Wisatawan
Bercermin dari Kayutangan Heritage di Kota Malang, mengembangkan kawasan wisata tematik memang tak mudah dan tak cepat pula.
Akademisi dan praktisi arsitektur asal Malang–yang juga penggagas Kayutangan Heritage–Budi Fathony mengatakan, kajian kawasan itu dimulai dari proyek penelitian dia bersama mahasiswanya pada 2017 lalu.
Cerita perjalanan merintis destinasi wisata tematik itu menunjukkan bahwa di balik ramainya wisatawan yang datang ke Kayutangan saat ini, tersimpan proses panjang yang tidak banyak diketahui masyarakat.
Kayutangan tidak lahir dari proyek pemerintah semata. Melainkan berangkat dari riset, pendampingan, hingga proses membangun kesadaran masyarakat yang berlangsung bertahun-tahun.
Baca Juga: Kembangkan Pecinan Kota Kediri, Usulkan 5 Objek Jadi Cagar Budaya
Dimulai dengan para akademisi dari Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang itu yang mulai menggerakkan warga dengan membentuk kelompok sadar wisata (pokdarwis). Hingga pada akhirnya, pemerintah ikut bergabung dalam misi mengembangkan kawasan tersebut.
“Awalnya saya berusaha melihat dari kacamata umum. Dalam hal ini mahasiswa atau anak muda, karena mereka tidak bisa kita pandang sebelah mata. Ketika mereka selfie di suatu spot, kemudian di-share di media sosial, justru ini menjadi daya tarik. Karena media itu kontinuitas untuk mempublish objek-objek yang dilupakan,” katanya, soal awal mula tertarik mengkaji kawasan itu.
Karena punya modal bangunan-bangunan kuno di area perkampungan, lokasi itu mulai banyak dikunjungi wisatawan. Dengan kondisi kampung yang kumuh dan belum tertata, masyarakat pun semakin kewalahan.
Dari situ, muncul dorongan untuk membangun kawasan itu dengan pendekatan pentahelix. Yakni, melibatkan pemerintah, akademisi, swasta, komunitas, dan media.
Baca Juga: Lestarikan Cagar Budaya, Gus Qowim Ajak Warga Kota Kediri Jaga Jembatan Lama
“Dari kacamata saya sebagai arsitek, di sana memang banyak bangunan-bangunan tua yang memiliki cerita dan bersejarah. Akhirnya kami dampingi,” kenangnya.
Berbeda dengan Kayutangan Heritage, penataan kawasan Jl Stasiun dan Jl Dhoho ini diinisiasi oleh pemerintah. Menurutnya, langkah pemkot itu patut diapresiasi. Sebab, inisiatifnya datang langsung dari pemerintah daerah.
"Kalau memang ini gagasan pemerintah kota, justru menarik. Tinggal bagaimana dikaji secara serius dan disampaikan kepada masyarakat," ujarnya.
Bagi Budi, membangun kawasan tematik tidak cukup hanya dengan mempercantik infrastruktur. Atau, menghadirkan atraksi hiburan saja.
Yang lebih penting adalah menemukan cerita besar yang menjadi alasan mengapa kawasan itu layak dikunjungi. Prinsip itu pula yang dia terapkan saat mendampingi lahirnya Kayutangan Heritage.
“Jadi jangan hanya car free day di Jalan Dhoho saja (yang ditonjolkan). Tetapi ada sesuatu yang bisa menjadi destinasi wisata heritage sebagai nilai jualnya,” tandas Budi.
Itu karena menurutnya, Kota Kediri memiliki peluang yang sama. Terlebih kawasan Jalan Dhoho, Jalan Stasiun, dan sekitarnya sudah memiliki identitas yang kuat. Seperti contohnya, kompleks religi di Setonogedong yang jadi daya tarik tersendiri.
"Jangan sampai identitas yang sudah dikenal masyarakat malah diganti dengan istilah-istilah baru. Dhoho ya tetap Dhoho. Stasiun ya tetap Stasiun. Itu yang menjadi kekuatan kawasan," tegasnya.
Menurutnya, kawasan tematik yang berhasil selalu memiliki lapisan cerita yang lebih dalam dibanding sekadar tempat berfoto atau lokasi berburu kuliner. Karena itu, penataan kawasan tidak boleh berhenti pada koridor jalan utama saja.
"Kalau tidak ada konsep dan cerita yang jelas, cuma ramai saja. Nggak dapat apa-apa, hanya kuliner,” katanya.
Pengalaman di Kayutangan juga menyisakan catatan penting. Budi mengakui, kawasan yang saat ini ramai dikunjungi wisatawan itu sudah berkembang cukup jauh dari konsep awal yang disusun akademisi.
Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah kurangnya pemahaman terhadap konsep pengembangan kawasan oleh pengelola.
Akibatnya, kawasan tersebut memang nampak menjadi lebih hidup secara ekonomi. Namun sebagian gagasan awal mengenai pelestarian sejarah dan edukasi mulai berkurang.
Karena itu, dia mengingatkan agar Kota Kediri tidak terburu-buru mengejar keramaian. Yang lebih penting adalah memastikan arah pengembangan kawasan benar-benar jelas sejak awal.
Blueprint kawasan–lanjut Budi–harus disusun secara matang. Tidak hanya melibatkan pemerintah, tetapi juga akademisi, komunitas sejarah, pelaku usaha, hingga masyarakat sekitar.
Editor : Andhika Attar Anindita