Sudah setahun ini Jalan Stasiun menggeliat. Punya wajah baru yang disertai beragam event membuat kawasan ini lebih hidup. Tapi, ke mana sejatinya arahnya?
Jarum jam mengarah pukul 19.00. Kursi-kursi dan meja kecil sudah tertata di bahu Jalan Stasiun. Beberapa tersebar di sepanjang pedestrian.
Tak sedikit dari kursi-kursi itu yang sudah terisi. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Semua membaur di tepi jalan. Menikmati secangkir kopi maupun minuman dingin sembari bercengkerama.
Di antara orang-orang itu, Daru, 51, juga nampak menikmati ketenangan di tengah hiruk-pikuk suasana. Sebagai penghubung pusat Kota Kediri dengan Stasiun Kediri, ruas jalan itu memang hampir selalu ramai.
Baca Juga: Parkir Liar Bayangi Jalan Stasiun Kediri, Ini Yang Dilakukan Dishub!
Yang berbeda, keramaian itu kini tak lagi sebatas pengguna kereta api yang lalu lalang. Juga masyarakat yang memilih singgah sejenak.
Menikmati suasana Jalan Stasiun yang–sebagian orang bilang–mirip jalan ikonik di Jogjakarta: Malioboro.
“Saya dari lahir sudah di sini. Diawali ibu buka toko di sini sejak 1971,” cerita Daru.
Puluhan tahun tinggal di sana, dia turut menyaksikan bagaimana perekonomian di ruas jalan itu tumbuh. Sebagian besar bangunan difungsikan sebagai tempat usaha, tempat berdagang. Jadi toko-toko seragam, alat tulis, hingga warung makan.
Sejak wajah baru Jalan Stasiun diresmikan di awal 2026 lalu, sorotan terus diarahkan kawasan itu. Termasuk dari Pemerintah Kota Kediri yang seolah menggeser atensinya dari Jalan Dhoho–yang lebih dulu dikenal sebagai jalan ikon Kota Kediri–menuju ruas jalan tersebut.
Yang terbaru, pemkot berencana menghadirkan agenda rutin car free night di tempat ini. Meski pada akhirnya harus ditunda karena beberapa alasan.
Menyikapi ambisi pemkot menata kawasan itu, Daru tetap menyambut baik. Hanya saja, dia menyoal beberapa hal yang masih jadi persoalan di lapangan.
Di antaranya soal pengaturan dan pengawasan arus lalu lintas, serta parkir yang dirasa masih semrawut. Akibatnya, ruas jalan itu sering macet.
Khususnya di waktu-waktu tertentu, seperti menjelang kedatangan kereta api maupun saat akhir pekan.
“Seperti di depan lokomotif itu kan sebenarnya dilarang parkir. Tapi terkadang orang jemput, parkir di situ. Jadinya crowded,” keluhnya.
Warga, seperti Daru layak mengeluh. Sebab, dampaknya juga mengular ke kawasan sekitar. Banyak kendaraan penjemput penumpang kereta yang parkir di depan pertokoan.
Karena itu menurutnya, yang paling penting sebelum melakukan penataan kawasan adalah mempersiapkan fasilitas umum (fasum) penunjang.
“Yang penting fasumnya seperti tempat parkir itu segera dibangun. Kan katanya mau dibangun gedung parkir. Jadi ya sebelum jalan (penataan kawasan, Red) dibangun dulu tempat parkirnya,” saran Daru.
Dia memang mengakui, semenjak Jalan Stasiun dirombak perekonomian di sana semakin bergeliat. Khususnya di sektor kuliner yang mulai menjamur.
Hanya saja, beberapa usaha seperti angkringan dan berbagai kuliner itu memanfaatkan trotoar dan bahu jalan sebagai tempat berjualan maupun area kursi-meja pengunjung.
Dan sebagian besar dari mereka juga warga setempat yang memanfaatkan peluang ramainya Jalan Stasiun untuk berjualan makanan.
“Bagus-bagus saja kalau banyak usaha kuliner, karena mendukung perputaran ekonomi juga. Cuma kalau bisa jualannya jangan di trotoar,” pintanya.
Masih belum teraturnya penataan kawasan itu juga dibenarkan Dion, 47, juga warga Jalan Stasiun. Meskipun sudah diatur satu arah, masih banyak yang melanggar dengan melawan arah.
Potensi crowded pun semakin tinggi. Terlebih saat jam-jam sibuk. Dan warga pun tidak bisa berbuat apa-apa.
“Kadang kalau diingatkan (yang melanggar arus, Red) malah lebih galak mereka,” ungkapnya.
Baca Juga: DPRD Kota Kediri Soroti Aturan Jalan Stasiun Kediri, Minta Utamakan Aspek Ekonomi Warga
Melihat perkembangan objek wisata tematik di beberapa daerah seperti Kayutangan Heritage di Malang atau Malioboro di Jogjakarta, dia tak menampik implementasi seperti itu juga dia harapkan. Namun, menurutnya, kondisi warga yang cenderung majemuk akan jadi tantangan tersendiri. Termasuk dari latar belakang usaha yang sangat beragam.
“Masalahnya di sini itu campuran. Kalau di Kayutangan itu kan khusus kafe-kafe saja. Kalau di sini kan dari awal memang untuk usaha, jadi sentra penjualan seragam. Dan warga sini juga banyak yang kerja kantoran jadi nggak ada ide untuk bikin inovasi. Apalagi kalau mau mengadakan acara apa-apa juga kadang izinnya sulit,” sambung Dion.
Kendala pengembangan itu juga menurutnya datang dari konsep yang belum matang. Pemkot harus memperjelas rencana tata kelola dan konsep pengelolaan kawasannya. Yang tak kalah penting, tetap melibatkan warga setempat.
“Yang penting penataan dan konsepnya jelas. Ini kan belum jelas sama sekali. Setelah ini (pembangunan kawasan) selesai terus mau diapakan itu kan tidak ada progresnya sama sekali,” tandasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita