Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Melongok Kampung-Kampung ‘Keren’ yang Hidup Segan Mati pun Enggan (1): Kunjungan Wisatawan Turun, Pamor pun Meredup

Emilia Susanti • Selasa, 16 Juni 2026 | 03:39 WIB
Ilustrasi Kampung Tematik Kota Kediri.
Ilustrasi Kampung Tematik Kota Kediri.

Dulu, kampung-kampung ini diberi titel Kampung Keren, kreatif dan independen. Memiliki keunggulan khas yang bisa memacu kemandirian ekonomi. Sayang, banyak di antaranya yang ‘terbenam’.

Kampung ini berada di Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Kota, Kota Kediri. Terdiri dari gang-gang sempit, yang hanya bisa dilewati sepeda motor. Rumah warganya, tentu saja, berimpitan. Nyaris tak ada ruang kosong di antaranya.

Di antara rumah-rumah itu tertempel papan kayu. Bertuliskan ‘Jamune’, yang hurufnya hijau. Di bagian bawah papan tertulis pula nama sang pembuat.

“Punya saya lepas,” aku Sukadi.

Kampung tersebut bernama Kampung Kauman. Dan, Sukadi adalah salah satu warganya yang sekaligus bekerja sebagai pembuat jamu. Pria ini kemudian menunjuk papan nama ‘Jamune’ yang dia taruh di atas lemari. Sambil mengatakan papan nama itu dibuat kala kampungnya mulai dikenalkan sebagai Kampung Jamu.

Di Kauman memang banyak warganya yang menjadi pembuat jamu. Jumlahnya puluhan. Tersebar di gang-gang yang ada.

Sukadi kemudian menunjuk beberapa rumah di sekeliling yang berjualan jamu. Di depan, samping kiri, samping kanan, juga di belakang rumah.

Baca Juga: Lipsus Melongok Kampung-Kampung ‘Keren’ yang Hidup Segan Mati pun Enggan (2): Perkuat Potensi Unggulan dengan Lebih Organik

"Di sini aja ada lima. Di gang-gang lain juga banyak yang jualan jamu," terang  pria yang rumahnya di ujung Gang 1 Kauman.

Kini, Sukadi melanjutkan cerita, aktivitas kelompok penjual jamu telah vakum. Sejak dua tahun lalu. Tidak ada lagi pertemuan atau kegiatan seperti bazar. Tak ada pula pesanan dari Pemkot Kediri maupun wisatawan yang datang.

"Dulu ya biasanya ada event di pemkot ikut," ingatnya pria yang usaha jamunya dilakukan bersama sang istri.

Mengapa jadi vakum? “Tak ada lagi orang yang mengoordinasi,” sebutnya pelan.

Dulu, saat terbentuk Kampung Jmau, ada warga bernama Hanifa yang mengemban tugas itu. Setiap pesanan kemudian diinformasikan ke kelompok pembuat jamu.

"Jadi digilir, misalnya ada pesanan nanti ditunjuk siapa yang ngisi (memasok, Red). Kalau nggak bisa nanti dilempar ke lain, pasti kebagian semua," ceritanya.

Sambil bercerita, Sukadi menunjukkan stiker yang masih tersisa. Dulu, stiker itu akan ditempel di botol, sebagai brand.

Sayang, sang koordinator akhirnya melepas masa lajang. Setelah itu, aktivitas Kampung Jamu pun menurun tajam.

“Pokoknya, setelah Mbak Hanifa nikah, itu mulai vakumnya,” sebut Sukadi.

Baca Juga: Mengulik Lebih Detail Hasil Jawa Pos Radar Kediri River Expedition 2026 (9) Warga Harus Kelola Sendiri Limbah Rumah Tangganya

Setelah itu warga Kampung Kauman yang membuat jamu beraktivitas seperti biasa. Hanya berjualan keliling. Tidak ada lagi pesanan pemkot. Tidak ada lagi event-event bazar seperti sebelumnya.

Kondisi serupa juga terjadi di Kampung Tahu, di Kelurahan Tinalan, Kecamatan Kota. Setelah kelompok sadar wisata (pokdarwis)-nya vakum, kunjungan wisatawan pun berkurang. Tak ada pula event yang digelar.

Supingi, anggota paguyuban Kampung Tahu Tinalan, menyebut kevakuman itu sejak pandemi Covid-19. Ketika keramaian dilarang. Sayang, ketika pandemi berakhir pokdarwisnya tak pulih lagi.

“Kebanyakan pengurusnya sudah fokus pekerjaannya masing-masing,” ungkap Pingi-panggilan akrabnya.

Pengurus pokdarwis memang bukan datang dari pengusaha atau pengrajin tahu.Itu memang disengaja karena para pengrajin atau pengusahanya sibuk mengelola bisnis. Mereka juga tergabung dalam paguyuban.

Pokdarwisnya yang hilang. Untuk paguyuban ya masih jalan,” terang salah satu anggota paguyuban ini.

Meskipun paguyuban tetap eksis, yang dibahas tak lagi menyinggung menghidupkan Kampung Tahu. Lebih fokus pada kondisi usaha. Tentang harga kedelai ataupun harga tahu di pasaran.

Supingi jelas menyayangkan kevakumnya pokdarwis di Kampung Tahu. Dampaknya begitu terasa, termasuk oleh anggota paguyuban.

“Dulu kalau ada pameran di pemkot itu ya pokdarwis yang meng-handle, kami yang men-supply produknya,” ujarnya bernada sesal.

Baca Juga: Mengulik Lebih Detail Hasil Jawa Pos Radar Kediri River Expedition 2026 (11) Bersihkan Sungai Kedak di Puncak Rangkaian Ekspedisi

Dia sejatinya sangat senang dengan kehadiran pokdarwis tersebut. Selain bisa memasok tahu ke berbagai event, juga memicu kunjungan wisatawan. Karena Kampung Tahu jadi salah satu destinasi wisata edukasi. Kini, kunjungan pelancong jauh menurun.

Setiap bulan (sebenarnya) masih ada kunjungan. Biasanya langsung kontak ke pengusahanya lewat media sosial, ada juga yang ke saya. Kalau misalnya saya nggak bisa, nanti dilempar ke yang lain,” jelasnya.

Bergeser ke Kampung Pecut, di Kelurahan Kemasan, situasinya setali tiga wang alias sama saja. Sedikit berbeda, pemicunya tak sekadar pengurus yang vakum. Lebih rumit lagi karena terkait keterlibatan paguyuban.

Ketua Pecut Samandiman Moh. Hanif, yang juga Ketua Kampung Pecut, mengatakan bahwa aktivitas kesenian pecut masih berjalan seperti biasa. Terlepas dari ada atau tidaknya identitas Kampung Pecut.

Sejak 1998 dirinya terus bergerak menyebarluaskan seni Pecut Samandiman. Berkeliling daerah lain, menampilkan kesenian Pecut Samandiman. Bahkan hingga di luar Jawa.

"Di Kota Kediri kemarin itu ada seribu pecut di Klotok. Ada kirab pecut yang kemarin ada Mbak Wali (Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, Red)," beber Hanif.

Anggota pecut di Kota Kediri jumlahnya hampir seratus orang. Anak-anak mudanya juga masih rutin berlatih. Seminggu dua kali di Jumat-Sabtu, untuk putri. Bagi pemecut putra latihannya lebih fleksibel.

"Yang latihan dari SD sampai SMA ada," katanya saat ditemui di rumahnya.

Lalu, bagaimana dengan identitas Kampung Pecut? Ketika ditanya hal itu, Hanif seperti sedikit terusik. Terkesan enggan membicarakan.

Mengapa? Dia merasa tak dilibatkan dalam pembangunan gapura Kampung Pecut usai anggaran dari Program Pemberdayaan Masyarakat (Prodamas) turun. "Saya ketuanya, SK-nya turun dua tahun setelah Kampung Pecut diresmikan. Tetapi saat anggarannya turun, tiba-tiba dibangun itu (gapura Kampung Pecut, Red)," ujarnya.

Baca Juga: Perbaikan Gedung Pemkab Kediri yang Dibakar Massa Selesai, Bupati dan Wabup Bisa Segera Pindah Kantor

Menurutnya, gapura yang berlokasi di Jalan Moh. Husni Thamrin itu tak sesuai dengan logo Pecut Samandiman untuk Kota Kediri. Padahal, baginya, logo menjadi hal sensitif lantaran memiliki arti mendalam.

"Pembangunan tidak diajak ngomong. Pecut kan ada filosofi. Coba lihat di depan kelurahan itu yang dipakai logo Pecut Samandiman Blitar, bukan milik Kota Kediri," akunya.

Hal itulah yang membuatnya diam, seolah menjaga jarak dengan pihak kelurahan maupun kelompok masyarakat seperti karang taruna atau semacamnya. Terutama dalam urusan Kampung Pecut.

Kendati demikian, dia mengaku terbuka apabila kelurahan atau LPMK mengajaknya duduk bersama untuk membesarkan Kampung Pecut.

Terlepas dinamika Kampung Pecut, semangat Hanif untuk terus mengenalkan Pecut Samandiman tak pernah padam. Meski harus tampil dengan bayaran kecil sekalipun.

Berbanding terbalik, Kampung ‘Keren’ di Kelurahan Bandarkidul terus menunjukkan eksistensinya. Ya, kampung keren itu adalah Kampung Tenun Ikat Bandar Kidul. Sama seperti kampung keren lainnya, segala aktivitas Kampung Tenun dikelola oleh pokdarwis.

Ketua Pokdarwis Slamet Sugianto mengatakan, mengelola kampung wisata memang membutuhkan perjuangan. Harus aktif mencari informasi. Ikut serta dalam berbagai event. Bahkan harus rela bila harus keluar modal. Tak kalah penting, pokdarwis harus membuat terobosan baru, berinovasi.

“Pokdarwis awalnya kami bentuk untuk menginformasikan atau mempromosikan Kampung Tenun di kalangan nasional maupun internasional,” ujarnya.

Dia menerangkan, pokdarwis yang ada di Kelurahan Bandarkidul ini sudah lebih dulu dibentuk sebelum ada program ‘Kampung Keren’. Telah berkegiatan selama delapan tahun.

Kini, intensitas kunjungan di Kampung Tenun tergolong tinggi. Setidaknya ada satu kali kunjungan dalam kurun waktu dua hari. Dalam seminggu bisa ada 3 sampai 4 kali kunjungan wisatawan.

Baca Juga: Ribuan Siswa Berebut Sisa Kuota SMA Negeri di Kota Kediri, Ini Sisa Jalur yang Masih Dibuka!

“Kami terus berjejaring. Beberapa waktu lalu saya ketemu orang dari Ciputra, lalu kami ajak ke sini. Ternyata oke, setelahnya dia langsung bawa tamu designer dari beberapa negara. Ada dari Jepang, Korea, India, Inggris, Australia, dan masih beberapa lagi,” jelentrehnya.

Kendati demikian, Slamet menyebut proses awal untuk membangun Kampung Tenun tidaklah muda. Saat awal-awal, pokdarwis harus banyak berkorban. Misalnya aktif mengikuti pameran meski harus dengan biaya mahal. Tak hanya di lingkup Jawa Timur, namun juga ke daerah-daerah lain.

“Kami swadaya sejak awal. Dan, jadi ketua itu bukan hanya ujung tombak, tapi juga berani tombok,” kelakarnya.

Lebih lanjut, dia menekankan bahwa konsep kampung wisata tidak bisa bergantung pada industri ungulannya. Dalam hal ini tenun.

Karena itulah, pokdarwis di Kampung Tenun terus mendorong sektor lain untuk turut andil. Misalnya industri olahan makanan. Saat ada wisatawan, produk olahan itu bisa jadi suguhan, sekaligus buah tangan.

Pokdarwis juga harus peka terhadap siapa wisatawan yang datang. Apakah anak sekolah, instansi, atau lainnya. Sebab, perlakuannya akan berbeda. Ada yang dikenai tarif, ada yang tidak.

“Harus tahu yang datang siapa? Kalau pelajar nggak mungkin beli tenun mahal. Jadi konsepnya berbeda. Misalnya (tarif) sekian nanti dapat suvenir, lihat proses tenun, dapat minum, snack, dooprize. Jadi harus beda triknya,” bebernya.

Bagi mereka, kunjungan wisatawan tak melulu ditujukan untuk menaikkan omzet. Namun juga branding produk.

Dengan kata lain, pengelolaan kampung wisata memerlukan perencanaan yang matang. Mulai dari konsep, promosi, hingga dalam pemberian layanan kepada wisatawan. Dan tak kalah penting, Slamet menekankan pentingnya inovasi.

Baca Juga: Puluhan Pendaftar Rela Antre sebelum Sekolah Buka: Pendaftaran Jalur Domisili SMP Favorit Dibanjiri Siswa

“Saat ini kami getol, berinisiasi untuk bikin tenun akademi. Mudah-mudahan ini di-ACC Mbak Wali (Wali Kota Vinanda Prameswati, Red) dan dewan. Sebab, pengrajin tenun ini semuamya mulai berusia uzur. Kalau nggak ada regenerasi akan musnah,” tandasnya. (emilia susanti/fud)

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#kampung keren #kampung tematik #kampung pecut #kampung tahu kediri #pemkot kediri