Minyak kemasan berlabel ‘Minyakita’, khususnya yang bersubsidi, kini sulit didapatkan. Kondisi yang kian menyulitkan masyarakat di tengah harga-harga barang yang kian meroket. Lalu, mengapa itu bisa terjadi?
Ummah menggelengkan kepala. Pedagang di Pasar Setonobetek, Kota Kediri itu menjawab tidak ada ketika ditanya Minyakita kemasan 1 liter.
“Biasanya ada tapi dua bulan terakhir ini hanya dikirim yang ukuran 2 liter,” ucapnya.
Baca Juga: Lipsus Minyakita Subsidi Langka di Pasaran, Mengapa? (2): KDKMP Dulu, Pengecer Kemudian
Beda dengan yang kemasan 1 liter, Minyakita 2 literan relatif lancar. Meskipun sebenarnya, pasokannya juga menurun disbanding dulu yang bisa dikirm 50 karton setiap minggu. Sedangkan sekarang hanya 13 sampai 15 karton.
Padahal, animo warga membeli masih tinggi. Sering belum seminggu sudah ludes. Karena itu, dia mulai membatasi pembelian. Hanya dua pouch per orang alias maksimal 4 liter per hari.
“Dulu masyarakat bisa membeli 1 sampai 2 karton. Sekarang saya utamakan pelanggan dan hanya boleh membeli 4 liter saja,” imbuh perempuan domisili di Kecamatan Kota ini.
Baca Juga: Pedagang Tolak Wacana Kenaikan Harga Eceran Minyak Goreng Minyakita, Ini Alasannya!
Pembatasan itu kadang membuat pembeli berusaha mengelebuhi. Pernah dia melihat ada beberapa orang yang membeli secara bergantian. Anehnya, sepeda motor yang dikendarai sama. Setelah ditelusuri, mereka berkumpul di parkiran.
“Ternyata akan dijual lagi,” terangnya.
Ummah mengakui, berkurangnya stok Minyakita, terutama yang subsidi, menyulitkan. Dia sering mendapat keluhan warga. Sebab, harga minyak lain sedang mahal-mahalnya.
Lalu, berapa harga Minyakita di kios Ummah? Menurut pedagang ini, sesuai harga eceran tertinggi (HET) Minyakita kemasan 1 liter adalah Rp 15.700. Bila kemasan 2 liter berarti Rp 31.400.
Baca Juga: Dapati Distributor Minyakita Lebihi HET, Satgas Pangan Kediri Gencarkan Inspeksi Mendadak
Pernah menjual di atas HET? Ummah mengaku pernah. Yaitu ketika dia beli dari distributor bukan dari Bulog. Karena bukan subsidi dari mereka sudah Rp 18.300. Akibatnya, ke konsumen dia menjual antara Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu.
“Untungnya stok (Minyakita) subsidi lancar. Hanya, kalau habis sebelum waktunya ya harus ambil di distributor (yang bukan subsidi),” akunya.
Sri, pedagang lain, mengakui bila pengiriman dari Bulog untuk Minyakita subsidi menyusut. Hanya belasan karton per minggi. Padahal peminat yang subsidi sangat banyak.
“Sekarang ini minyak curah saja Rp 21 ribu (per kilogram),” ucap Sri, pedagang yang berusia 40-an tahun itu.
Baca Juga: Sidak Pangan di Kediri, Temukan Distributor yang Jual Minyakita di Atas HET, Begini Penjelasannya
Zubaidah, pedagang lain di pasar yang sama, bahkan sering dimarahi pelanggan. Penyebabnya apa lagi kalau bukan Minyakita yang sering habis sebelum datang pengiriman baru.
“Ya mau bagaimana lagi, realitanya pasokan berkurang sementara peminatnya tinggi. Jadi, siapa cepat dia dapat,” kata perempuan yang biasa disapa Idah ini.
Bagaimana dengan wacana HET Minyakita akan dinaikkan? Idah berharap jangan. Sebab, yang susah nanti justru masyarakat.
“Kasihan rakyat sudah sengsara jangan ditambah (sengsara) lagi,” ucap pedagang ini lirih.
Baca Juga: Minyakita di Atas HET Jadi Atensi Disperdagin, Ini Yang Akan Dilakukan Kepada Pelanggar
Masyarakat pun langsung menolak bila nanti HET Minyakita dinaikkan. Sebab, mereka memilih Minyakita karena harganya yang miring. Tujuannya menekan pengeluaran yang kini semakin besar.
“Kalau jadinya sama dengan harga minyak premium, ya buat apa?” kata Wahyuni, warga Kecamatan Pesantren, dengan nada tanya.
Saat ini saja, dia selalu mengejar yang Minyakita subsidi. Sebab, yang bukan harganya lebih mahal. Tuti misalnya, warga Kecamatan Kota ini sering mengeluh mendapati Minyakita harganya Rp 20 ribu seliternya.
“Tahunya Minyakita harganya pasti murah. Eh, ternyata ada yang non-subsidi. Repotnya, kemasannya sama persis,” keluh Tuti.
Baca Juga: Dewan Bakal Sidak Minyakita Lampaui HET, Pedagang Klaim Beli dari Agen Sudah Mahal
Bagaimana tanggapan Bulog terkait penurunan suplai tersebut? Menurut Harisun, pemimpin Perum Bulog Kediri, mereka menyesuaikan dengan pengiriman dari produsen. Karena itu jumlahnya kondisional.
“Jadi kemarin produsen masih memenuhi kewajiban untuk Minyakita bantuan pangan. Jadi harus dibagi. Mungkin ini akan stabil lagi. Bulan depan lebih masif menyalurkan Minyakita subsidi di pasar SP2KP (sistem pemantauan pasar dan kebutuhan pokok, Red),” dalih Harisun.
Apakah penurunan stok di pasar tradisional ada kaitannya dengan koperasi desa merah putih (KDMP)? Harisun menjawab memang pihaknya mensupplai Minyakita subsidi di KDMP sesuai perintah dari Pemerintah Pusat.
“Yang pasti itu dulu itu memang sempat banyak penyaluran ke pasar, karena KDMP belum berdiri. Sekarang KDMP kan sudah mulai berdiri banyak, jadi kami juga mendropping. Namun terkait berapa prosentasenya kami belum tau coba nanti mengikuti perkembangan yang ada,” bebernya.
Baca Juga: Sudah Volume Tak Sesuai, Harga Minyakita malah Melampaui HET
Namun, Harisun memastikan stok Minyakita masih aman untuk wilayah Kediri Raya dan Nganjuk. Masih tersedia 60 ribu liter. Penyalurannya diutamakan untuk pasar SP2KP. Di antaranya Pasar Setonobetek di Kota Kediri, Pasar Pamenang Pare di Kabupaten Kediri, serta Pasar Sukomoro untuk Nganjuk. Selain itu, mulai Senin lalu, pihak Bulog diperintah untuk mendropping khusus pasar-pasar SP2KP dan pasar lainnya.
“Kami lakukan penyaluran secara bergilir. Misalkan minggu ini jatahnya Pasar Setonobetek. Kemudian minggu depan Pasar Pamenang Pare dan terus bergulir di Pasar Sukomoro. Kami pastikan Minyakita subsidi di pasar SP2KP stoknya tidak sampai kosong. Baru kalau sudah penuh kami salurkan ke pasar lainnya,” jelenterehnya.
Di lain sisi, dinas perdagangan dan perindustrian (Disperdagin) Kota Kediri juga melakukan pengawasan harga maupun pendistribusian Minyakita subsidi di pasar. Mereka juga melakukan tindakan yang diperlukan. Seperti koordinasi dengan stake holder untuk mendapatkan solusi.
Baca Juga: Disdagin Kabupaten Kediri Temukan Minyakita yang Harganya di Atas HET, Ini Lokasi Pasarnya
“Jadi kami memantau harian harga-harga di pasaran, di samping melihat harga, kami juga mencermati penyebab adanya kenaikan seperti itu. Termasuk kami juga mendengarkan aspirasi dari pedagang, konsumen, atau juga dari produsen atau distributor,” ujar Kepala Disperdagin Kota Kediri M. Ridwan.
Editor : Mahfud