JP Radar Kediri - Lalu, bagaimana dengan anak-anaknya sendiri? Lahir dan tumbuh di lingkungan yang mayoritas menggunakan bahasa Jawa tidak serta-merta membuat anak-anak fasih berbahasa daerah. Fenomena ini terlihat di sejumlah sekolah dasar di Kabupaten Kediri. Sebagian besar siswa masih menggunakan bahasa Jawa ngoko dalam percakapan sehari-hari. Sementara kemampuan berbahasa krama maupun membaca aksara Jawa cenderung terbatas.
Contohnya, di salah satu sekolah dasar di Kecamatan Pagu. Saat jam istirahat, mayoritas siswa berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa ngoko dengan teman sebaya. Namun ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, seperti pedagang di lingkungan sekolah, mereka cenderung mencampurkan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.
“Mbak, aku tumbas pentole 2 ribu,” ujar salah seorang siswa saat membeli jajanan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa anak-anak masih memahami fungsi dasar penggunaan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari. Namun, kemampuan menggunakan tingkatan bahasa yang sesuai dengan lawan bicara mulai berkurang.
Putra, siswa kelas IV, mengaku telah mendapatkan pelajaran bahasa Jawa sejak kelas I sekolah dasar. Mata pelajaran tersebut diajarkan satu kali dalam sepekan. Meski demikian, ia merasa bahasa Jawa menjadi salah satu pelajaran yang sulit dipahami.
“Sudah diajarkan hanacaraka, tapi masih belum hafal dan sulit,” akunya.
Dalam keseharian, Putra lebih sering menggunakan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa Jawa saat berbicara dengan orang tua. Sementara kemampuan bahasa Jawa krama yang dimilikinya masih sangat terbatas.
Baca Juga: lipsus Label Nutri-Level Pada Minuman Manis Kekinian, Urgensi atau Cuma Formalitas?(1)
“Cuma tahu nggih sama mboten saja,” katanya sambil tersenyum.
Hal serupa juga dirasakan Dina, siswi kelas VI. Ia mengaku sesekali menggunakan bahasa krama ketika berbicara dengan guru maupun orang tua. Namun penggunaannya belum lancar.
“Bahasanya campur. Kadang pakai krama ke orang tua dan guru, tapi tidak fasih,” tuturnya.
Menurut Dina, kesulitan terbesar dalam pelajaran bahasa Jawa terletak pada membaca aksara Jawa. Meski masih bisa menuliskannya, ia mengaku tidak terlalu hafal bentuk maupun bunyinya.
Senada dengan itu, Kiki yang juga duduk di kelas VI mengaku hanya memahami sedikit kosakata bahasa krama.
“Sedikit-sedikit bisa bahasa Jawa krama. Pelajaran bahasa Jawa kurang suka karena susah membacanya,” katanya.
Pegiat Bahasa Jawa dan pelestari aksara Kawi Doni Wicaksono melihat ada persoalan yang lebih mendesak disbanding penerapan Bahasa asing baru. Yakni semakin menurunnya kemampuan generasi muda dalam memahami bahasa daerah, khususnya Bahasa Jawa.
Menurut dia, tidak ada yang salah dengan upaya memperkuat penguasaan bahasa asing. Bahasa Prancis, bahasa Inggris, maupun bahasa asing lainnya tetap memiliki manfaat tersendiri. Namun jika berbicara mengenai tingkat kebutuhan saat ini, kondisi bahasa daerah dinilai jauh lebih membutuhkan perhatian.
“Kalau ngomong masalah penting-pentingnya semua penting. Dalam artian Prancis atau bahasa Inggris atau itu semua penting. Cuman kalau kita membahas urgensi ya apa urgensinya untuk bahasa Prancis di Jawa ini kan seperti itu,” ujar Dewan Kesenian Jatim Komite Sastra Periode 2025-2030 itu.
Doni mengaku prihatin dengan kondisi penggunaan Bahasa Jawa di kalangan generasi muda. Bahkan untuk Bahasa Jawa yang digunakan sehari-hari saja, pemahamannya mulai berkurang. Apalagi jika berbicara mengenai Bahasa Jawa kuno maupun aksara Jawa yang semakin jarang dikenal masyarakat.
Baca Juga: Lipsus Daycare (1): Bangun Kepercayaan, Daycare di Kediri Ramai-Ramai Pasang CCTV
“Kalau saya berpendapat ya lebih utama bahasa daerah. bahasa Jawa khususnya bahasa Jawa kuno,” jelasnya.
Fenomena tersebut, menurut Dewan Kebudayaan Daerah Kota Kediri Komite Manuskrip Masa Jabatan 2024-2027 itu, cukup mudah ditemukan di Kediri. Jika generasi yang lebih tua masih terbiasa menggunakan Bahasa Jawa dengan baik, kondisi berbeda justru terlihat pada kelompok usia muda. Penggunaan bahasa krama semakin jarang ditemui dalam percakapan sehari-hari.
“Kalau di Kediri aja, bocah sing basa iki wis angel ngono, kabeh pada ngoko (anak yang berbahasa Jawa krama sudah sulit, semua hanya berbahasa Jawa ngoko, Red) kan seperti itu. Ini sangat memprihatinkan sebenarnya,” tegasnya.
Menurut Doni, persoalan tersebut tidak bisa dipandang sebagai sekadar perubahan kebiasaan berbahasa. Sebab, bahasa daerah merupakan bagian penting dari identitas masyarakat. Di dalamnya tersimpan sejarah, nilai budaya, hingga kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Bahasa daerah adalah cerminan jati diri suatu masyarakat. Lebih dari sekadar alat komunikasi, bahasa ibu menyimpan sejarah, nilai-nilai luhur, dan kearifan lokal yang menjadi fondasi identitas budaya bangsa,” jelas Anggota Komite Sejarah dan Purbakala Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Kediri itu.
Karena itu, dia menilai upaya pelestarian bahasa daerah perlu mendapat porsi yang lebih besar. Terlebih masih banyak kosakata, istilah, hingga pemahaman budaya lokal yang belum dipahami generasi muda. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak penamaan yang menggunakan istilah Jawa namun maknanya tidak lagi dipahami masyarakat.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi indikator bahwa pelestarian bahasa dan aksara daerah masih menghadapi tantangan besar. Karena itu, pemerintah daerah perlu hadir untuk memperkuat upaya pelestarian yang selama ini dilakukan sekolah maupun komunitas budaya.
“Mungkin dengan sistem masuk ke kurikulum tadi, atau penerapan perwali atau perda misal tiap Kamis, Jumat harus berbahasa kromo dan lain-lain,” usulnya.
Doni menilai pembiasaan menjadi kunci penting. Sebab, bahasa tidak cukup hanya diajarkan di ruang kelas, melainkan harus digunakan dalam kehidupan sehari-hari agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Baca Juga: Lipsus Macan Balongjeruk yang Kehilangan Pamor: Pengamat Sebut Harus Kaya Inovasi agar Ramai Lagi
“Ini menunjukkan bahwa di Kediri sendiri ini sangat darurat, darurat bahasa dan darurat aksara,” tandas warga Kecamatan Pesantren itu.
Meski demikian, Doni menegaskan bahwa penguatan bahasa daerah tidak harus dipertentangkan dengan penguasaan bahasa asing. Menurut dia, keduanya dapat berjalan beriringan. Hanya saja, di tengah kondisi kemampuan berbahasa daerah yang terus menurun, perhatian terhadap bahasa ibu tidak boleh dikesampingkan.
“Kalau untuk kepentingan ya semua penting jelas karena bahasa daerah penting, bahasa luar juga penting kan seperti itu untuk dipelajari,” pungkasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita