Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus (1) Derita Bahasa Jawa, ketika Riuh Keinginan Memasukkan Bahasa Prancis dalam Kurikulum Pendidikan

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Senin, 8 Juni 2026 | 06:02 WIB
Ilustrasi muatan lokal Bahasa Jawa di dunia pendidikan (Ilustrator: Afrizal/JPRK)
Ilustrasi muatan lokal Bahasa Jawa di dunia pendidikan (Ilustrator: Afrizal/JPRK)

JP Radar Kediri - Ada keriuhan di dunia pendidikan, ketika Presiden berwacana memasukkan Bahasa Prancis jadi salah satu mapel. Sementara, di sisi lain, Bahasa Jawa sebagai muatan lokal masih terpinggirkan. Akankah Bahasa daerah ini kian termarginalkan?

Ini survei kecil yang dilakukan Jawa Pos Radar Kediri terkait sikap siswa pada Bahasa Jawa. Yang ditanya adalah puluhan guru Bahasa Jawa di Kabupaten Kediri. Pertanyaanya sederhana, seperti apa sih pemahaman siswa terkait Bahasa Jawa?

Ada empat indikator untuk mengukur jawaban yang didapat. Mulai tidak baik, kurang baik, sedang, dan yang tertinggi adalah baik. Hasilnya? Dari 26 responden, hanya 11 yang menyebut muridnya punya pemahanan dalam skala sedang. Sedangkan yang menyebut baik lebih sedikit lagi, hanya empat!

Baca Juga: Lipsus Menelisik Kasus Teror Pocong di Kediri, Terencana atau Sekadar FOMO? (1) Awalnya Ngeprank, Akhirnya Ditangkap Warga  

Sisanya? Sembilan guru menegaskan muridnya memiliki pemahaman kurang baik pada Bahasa Jawa. Dua guru lagi menyebut punya pemahaman yang tidak baik.

Sekarang, pertanyaan sedikit berubah. Apakah siswa menggunakan Bahasa Jawa Krama Inggil ketika berkomunikasi dengan orang tua maupun guru? Hasilnya, dari jumlah responden yang sama, 80,8 persen mengatakan sudah menerapkan tapi jarang.

“Siswa menganggap materi yang diajarkan di sekolah hanya formalitas untuk di sekolah saja,” ujar Mir, salah seorang guru Bahasa Jawa di sekolah yang berada di lereng Gunung Kelud. 

Baca Juga: Lipsus Menelisik Kasus Teror Pocong di Kediri, Terencana atau Sekadar FOMO? (2) Imbas Kecemasan akibat Tekanan Ekonomi dan Perubahan Sosial Cepat

Masih menurut sang guru, siswa menganggap bahwa pelajaran bahasa Jawa hanya formalitas belaka. Akhirnya tidak dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Keadaan yang justru membuat siswa kian sulit menerima materi Bahasa Jawa dengan sempurna. 

“Khususnya (soal) unggah-ungguh (tata krama atau sopan-santun, Red),” imbuh guru berusia 31 tahun itu. 

Karena itulah para guru merasa penguatan bahasa daerah justru perlu lebih diutamakan. Dibandingkan harus memasukkan materi Bahasa asing lagi seperti Prancis yang diwacanakan orang nomor satu di Indonesia.

Baca Juga: lipsus Label Nutri-Level Pada Minuman Manis Kekinian, Urgensi atau Cuma Formalitas?(1)

Sebenarnya, dinas pendidikan (disdik) sudah melakukan berbagai upaya. Salah satunya melalui pembelajaran rutin di sekolah. Bahasa Jawa sendiri bukan mata pelajaran pilihan. Di Kabupaten Kediri, Bahasa Jawa berstatus sebagai muatan lokal wajib yang diajarkan mulai jenjang SD hingga SMP.

Kepala Disdik Kabupaten Kediri Mokhamat Muhsin melalui Kasi Kurikulum SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Wawan Sarudi menjelaskan, kebijakan tersebut mengacu pada Peraturan Gubernur Jawa Timur. Di tingkat SMP, Bahasa Jawa diajarkan selama tiga jam pelajaran setiap pekan. Sementara di tingkat SD, durasi pembelajarannya disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.

“Bahasa Jawa muatan lokal wajib. Ada pergub (peraturan gubernur, Red)-nya,” jelas Wawan.

Baca Juga: Lipsus Ketika Industri Tahu-Tempe Kembali Terjerat Kurs Dolar yang Kian Menguat (1): Mending Untung Sedikit daripada Hilang Pelanggan

Meski demikian, tantangan terbesar bukan terletak pada keberadaan mata pelajarannya. Melainkan bagaimana membuat siswa mengaplikasikan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, kemampuan berbahasa Jawa tidak cukup hanya dipelajari di ruang kelas. Perlu pembiasaan yang terus dilakukan di lingkungan sekitar.

Menurut Wawan, pemerintah melalui jalur pendidikan sebenarnya telah memiliki konsep yang mengatur posisi bahasa daerah di tengah perkembangan zaman. Yakni melalui Trigatra Bangun Bahasa. Konsep tersebut menempatkan bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing dalam posisi yang sama pentingnya.

“Trigatra Bangun Bahasa itu ada tiga pilar. Mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, serta menguasai bahasa asing,” terangnya.

Baca Juga: Lipsus Mengapa Petani Enggan Migrasi ke Pupuk Organik? (1) : Enggan Ribet, Takut Panenan Jeblok

Karena itu, menurut dia, penguasaan bahasa asing tidak seharusnya menggeser keberadaan bahasa daerah. Sebaliknya, ketiganya harus berjalan beriringan. Bahasa Indonesia menjadi alat komunikasi nasional, bahasa daerah menjaga identitas budaya, sementara bahasa asing menjadi sarana menghadapi persaingan global.

Sejumlah sekolah juga berupaya menumbuhkan kebiasaan berbahasa Jawa melalui berbagai program. Jika sebagian sekolah memiliki hari khusus penggunaan bahasa Inggris, beberapa sekolah di Kabupaten Kediri juga menerapkan program serupa untuk bahasa dan budaya Jawa.

Salah satunya melalui program Kamis Berbudaya. Dalam kegiatan tersebut siswa dibiasakan menggunakan bahasa Jawa, memainkan permainan tradisional, hingga mengenakan pakaian adat.

Baca Juga: Lipsus Hari Buku Nasional (1) : Tren Kedai Kopi Sediakan Koleksi Buku, Tumbuhkan Gairah Literasi atau Cuma Pindahkan Ruang Baca?

“Ada beberapa sekolah yang menerapkan seperti itu. Kegiatannya permainan tradisional, pemakaian bahasa Jawa dan lain-lain,” ungkapnya. 

Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan sekolah-sekolah di Indonesia menerapkan Bahasa Prancis sebagai mata pelajaran usai dia melakukan lawatan ke negara yang dipimpin Emmanuel Macron. Namun seberapa urgensinya bahasa asing itu untuk diterapkan di semua jenjang? Terlebih, pemahaman bahasa daerah pada anak muda sekarang masih minim. 

 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#bahasa prancis #muatan lokal #kabupaten kediri #pendidikan #bahasa jawa