Akses informasi yang jelas tentang kandungan gula dalam minuman, agaknya, memang sudah waktunya diterapkan. Sangat diperlukan oleh masyarakat. Terutama bagi mereka yang rentan terkena diabetes.
Fakta saat ini, penyakit diabetes memang membayang-bayangi masyarakat. Menjadi salah satu penyakit yang banyak ditemui.
Bahkan, masuk top five alias lima besar penyakit terbanyak di Kota Kediri.
Edukasi kepada masyarakat tentang pola makan sehat dan bijak mengonsumsi minuman tinggi gula itulah yang harus digalakkan. Menjadi langkah yang jauh lebih penting.
Di Kota Kediri, tren kasus diabetes terus mengalami peningkatan tiap tahunnya. Bahkan, mulai banyak ditemui pada anak muda.
Baca Juga: Penderita Diabetes Wajib Tahu! Ini dia Buah yang Perlu Dibatasi dan Alasannya
Data dinkes, sebagian besar kasus diabetes yang ditemukan saat ini merupakan diabetes melitus tipe 2. Kondisi tersebut erat kaitannya dengan pola hidup tidak sehat yang berlangsung dalam jangka panjang. Salah satunya konsumsi makanan tinggi gula.
“Diabetes itu tidak muncul tiba-tiba. Saat seseorang diketahui gula darahnya tinggi, proses resistensi insulin biasanya sudah terjadi sejak 10 sampai 15 tahun sebelumnya,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Kediri Hendik Supriyanto.
Menurut Hendik, diabetes tipe 2 tidak semata-mata dipicu oleh konsumsi minuman manis. Namun juga kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi kalori secara berlebihan.
Hal itulah yang menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya resistensi insulin.
Baca Juga: Dinkes Kota Kediri Temukan 1.600 Kasus TBC Selama 2025, Tahun Ini akan Masifkan Penelusuran
Saat kondisi itu terjadi, sel-sel tubuh tidak lagi merespons insulin secara optimal. Akibatnya, glukosa yang seharusnya masuk ke dalam sel justru menumpuk di aliran darah dan memicu diabetes.
Karena itu, Hendik menilai edukasi mengenai kandungan gula dalam makanan dan minuman perlu terus diperkuat. Terlebih, saat ini sumber gula tidak hanya berasal dari minuman manis.
Melainkan juga berbagai produk olahan berbahan tepung, roti, kue, hingga makanan siap saji yang banyak dikonsumsi masyarakat.
“Gula sekarang ada di mana-mana. Tidak hanya minuman manis. Karbohidrat dari roti, tepung, dan makanan olahan juga bisa berkontribusi kalau dikonsumsi berlebihan,” terangnya.
Baca Juga: Tiga Bulan Awal 2026, Dinkes Kota Kediri Temukan 65 Kasus HIV Baru
Terkait pengendalian diabetes, Hendik mengatakan Kementerian Kesehatan selalu menetapkan target tiap tahunnya. Tujuannya agar potensi kasus yang masih tinggi ini bisa dideteksi lebih awal, salah satunya melalui skrining.
Di tahun 2026 ini, Kota Kediri ditarget menemukan 10.223 kasus. Adapun hingga empat bulan awal 2026, temuan kasus diabetes di Kota Kediri sudah mencapai 4.375 kasus, atau 43 persen.
“Tujuan skrining memang supaya kasus diketahui lebih awal. Jangan sampai baru terdeteksi saat sudah terjadi komplikasi, misalnya luka pada kaki atau bahkan amputasi,” tandas Hendik.
Hendik juga menyoroti perubahan pola konsumsi generasi muda yang semakin akrab dengan minuman kekinian dan makanan instan. Di sisi lain, konsumsi buah dan sayur masih relatif rendah.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena tren kasus diabetes terus meningkat hampir di seluruh daerah, termasuk Kota Kediri. Bahkan, merambah kalangan anak muda.
Diabetes—lanjut Hendik— termasuk salah satu penyakit yang perlu diwaspadai karena dapat memicu berbagai komplikasi serius.
Kadar gula darah yang tidak terkendali berisiko menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, hingga gangguan ginjal.
Karena itu, edukasi mengenai pola makan sehat dinilai sama pentingnya dengan pengobatan. Kehadiran label Nutri-Level pada produk pangan dan minuman pun diharapkan menjadi salah satu instrumen yang membantu masyarakat lebih sadar terhadap kandungan gula yang dikonsumsi setiap hari.
“Kalau yang sehat, kami edukasi supaya tidak terkena diabetes. Kalau yang sudah terdeteksi, kami dampingi agar gula darahnya terkendali sehingga tidak terjadi komplikasi,” pungkas Hendik.
Editor : Andhika Attar Anindita