Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

lipsus Label Nutri-Level Pada Minuman Manis Kekinian, Urgensi atau Cuma Formalitas?(1)

Ayu Ismawati • Minggu, 31 Mei 2026 | 19:50 WIB
Ilustrasi minuman manis dan label Nutri-Level yang diterapkan Kemenkes. (Ilustrator: Afrizal)
Ilustrasi minuman manis dan label Nutri-Level yang diterapkan Kemenkes. (Ilustrator: Afrizal)

Kementerian Kesehatan menggaungkan penerapan label Nutri-level pada minuman manis kekinian. Pertanyaannya, apa itu label nutri-level? Serta, apakah sudah sangat urgen atau sekadar formalitas? 

Botol kemasan minuman berpemanis buatan itu tertempel sebaris warna-warna. Bermula dari hijau muda, hijau tua, kuning, serta paling akhir merah. Lengkap dengan urutan empat huruf awal dalam alfabet, ABCD. 

Masing-masing huruf berada di kotak yang berbeda warna itu. Salah satunya diberi lingkaran dengan ukuran yang juga diperbesar. Menjadi tanda seberapa tinggi kadar gula dalam minuman tersebut.

Misal, ketika huruf A-yang berada di kotak warna hijau-dilingkari dan diperbesar ukurannya, itu artinya minuman tersebut paling rendah kandungan gula, garam, dan lemak (GGL). Ini yang dianggap paling sehat.

Sedangkan bila D-warna merah- yang seperti itu maka kandungan GGL-nya sangat tinggi. Harus sangat dibatasi konsumsinya.

Baca Juga: Heboh Pendaftaran CPNS Kemenkes 2026, Tenang, BKN Buka Suara!

Harusnya, label seperti itu sudah menempel di setiap kemasan minuman. Seperti yang digaungkan oleh Kementerian Kesehatan. Seperti yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) Nomor HK.01.07/MENKES/3012026. Tujuannya untuk menekan munculnya penyakit kronis seperti diabetes.

Faktanya? Label seperti itu belum ada ditemukan di kafe-kafe besar di Kota Kediri. Termasuk yang berjejaring  nasional. Padahal, sebagian besar pengunjung kafe menganggap hal itu sangat penting. 

“Menurutku perlu, sih. Karena tidak semua barista bisa menjelaskan kandungan gulanya seberapa. Apalagi sekarang jenis-jenis minuman di kafe itu semakin banyak,” kata Bella, 26, pengunjung salah satu  kafe yang juga warga Kelurahan Mojoroto.

Baca Juga: Tiga Bulan Awal 2026, Dinkes Kota Kediri Temukan 65 Kasus HIV Baru

Senada dengan Bella, Lusiana, 30, warga Kelurahan Ngronggo Kota Kediri menyebut masyarakat sekarang berada dalam kondisi darurat gula. Sebab gula tak hanya ditemui pada minuman atau makanan yang terlihat manis saja.

Melainkan hampir di seluruh makanan yang dikonsumsi. Sehingga asupan gula pun bisa berlebihan tanpa disadari.

“Apalagi orang-orang banyak yang masih minim literasi. Jadi kalau ada kebijakan itu (label Nutri-Level, Red), menurutku bisa jadi wadah sosialisasi ke masyarakat untuk lebih bijak konsumsi makanan,” Lusiana beralasan. 

Karena itulah dia menyoal kebijakan yang terkesan hanya formalitas belaka itu. Sebab, dia belum pernah menemui kafe maupun restoran modern yang menerapkan aturan tersebut. Apalagi pada usaha-usaha kafe kecil. 

“Mungkin masyarakat (pelaku usaha) juga masih bingung ya karena belum ada informasi soal teknisnya. Sosialisasinya sepertinya belum masif dan belum ada kebijakan yang mengikat,” duganya. 

Baca Juga: Saat 100 Relawan Sosial Turun Lapangan ‘Bersihkan’ Data Kemiskinan DTSEN (1), Punya Kos-kosan dan Banyak Emas tetapi Ngaku Miskin

Soal kebijakan itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri mengakui bila belum ada tindak lanjut di level daerah. Juga, penerapannya nanti memang baru menyasar usaha skala besar.

“Saat ini belum ada instruksi pelaksanaan dan pengawasannya sampai ke daerah,” aku Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kabid Kesmas) Candra Jaya. 

Jawaban serupa disampaikan Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kediri. Meski begitu, kebijakan itu rencananya akan dimasifkan sosialisasinya di daerah. Termasuk di Kediri. 

Sayangnya, Kepala BPOM Kediri Winanto belum membeber lebih lanjut terkait skema penerapan kebijakan itu di daerah. Pihaknya masih akan menunggu arahan dari Pusat terkait pelaksanaan di Kediri.

“Kebijakan label Nutri-Level ini masih akan ada sosialisasi ke daerah,” kilah Winanto. 

Editor : Andhika Attar Anindita
#nutri-level #minuman manis #kemenkes #dinkes #diabetes