Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ikut menjamah masyarakat bawah. Di antaranya adalah pelaku industri makanan khas masyarakat Indonesia, tahu dan tempe. Meskipun mayoritas berskala industri kecil tapi bahan bakunya, kedelai, sangat bergantung impor.
Mufid duduk terdiam. Warga Dusun Bulur, salah satu dusun di Desa Ngreco, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri itu terdiam sesaat ketika ditanya soal harga bahan makanan yang dia produksi, tahu dan tempe. Sebelum mengatakan bahwa dia memutuskan tak bakal menaikkan harga. Meskipun kurs dolar Amerika Serikat menguat bila dibanding rupiah. Bahkan sudah menyentuh Rp 17.700 per dolarnya.
"Nggeh mboten napa-napa, sing penting mlampah (Ya tidak apa-apa, yang penting usaha masih bisa jalan, Red)," ujarnya dengan nada datar.
Pria ini adalah satu dari sekian produsen tahu dan tempe. Tentu saja, skalanya masih industri kecil. Hasil produksinya sebatas dipasarkan di pasar-pasar terdekat. Pemasarnya pun sebatas dilakukan oleh sang istri.
Ironinya, meskipun tergolong industri kecil bahan baku tahu-tempe, kedelai, sangat bergantung impor. Maka, ketika kurs dolar menguat harga kedelai pun jadi selangit.
“Ini harganya (satu kilogram kedelai) Rp 10.700,” aku pelaku UMKM berusia 63 tahun ini.
Harga itu memang belum menyentuh harga acuan pemerintah (HAP) yang sebesar Rp 12 ribu per kilogramnya. Toh, sudah membuat pelaku industri tahu-tempe seperti dirinya mulai kelimpungan. Lebih-lebih, mereka tak berani menaikkan harga. Melainkan mengurangi margin keuntungan.
Kenaikan harga kedelai impor ini bukan yang pertama dirasakan pelaku usaha. Pernah harganya menyentuh Rp 12 ribu. Itu terjadi tiga tahun lalu. Ketika harganya sudah seperti itu responnya sedikit bertambah. Yaitu mengurangi komposisi kedelai dalam setiap pembuatan tahu dan tempe.
“Kalau ukurannya tetap, komposisi bahannya yang berubah. Kalau naik tinggi, kedelainya dikurangi seperempat (kilogram),” aku Mufid.
Hal sama dilakukan pasangan Mukhanan dan Hariyati. Pasangan suami istri (pasutri) yang juga tinggal di dusun yang sama dengan Mufid ini merelakan keuntungannya tergerus terlebih dahulu. Tidak serta merta mengurangi komposisi kedelai atau menaikkan harga tahu dan tempe jika terjadi kenaikan harga kedelai.
"Sekarang (harga kedelai) sebelas ribu (rupiah). Termasuk mahal, bisa-bisa naik lagi," keluh Hariyati.
Dia dengan ringan menjawab bahwa dirinya rela mengurangi keuntungannya dari berjualan tahu dan tempe. Alasannya disampaikan dengan jelas. Yakni takut kehilangan pelanggan jika mengurangi irisan tempe maupun tahunya.
"Kalau kekecilan nggak laku. Ya bisa ngurangi (ukuran) tapi (risikonya) nggak laku," kilahnya.
Dalam sehari, pasutri ini membutuhkan lebih dari 30 kilogram kedelai impor. Sebagian besar, 20 kilogram, untuk kebutuhan produksi tempe.
Bagaimana bila harga semakin tinggi, misal menyentuh Rp 12 ribu atau bahkan lebih? Pasutri ini memilih mengurangi produksi. Yang penting, usahanya bisa tetap jalan.
"Pokoke jek isa panggah nempur, istilahe (yang penting masih bisa beli beras, istilahnya, Red)," tandas Mukhanan.
Sementara, Rina Rahayu, penyedia tempat produksi tahu di Desa Canggu, Kecamatan Badas mengatakan bahwa dirinya menjual kedelai ke pengrajin sebesar Rp 10,8 ribu. Menurutnya, harga tersebut belum tergolong mahal. Tetapi juga tidak bisa dibilang murah.
"Harganya sedengan (cukupan, tidak mahal atau murah, Red). Kalau sebelas ribu ke atas itu mahal," katanya.
Dia berharap, harga kedelai tidak mengalami kenaikan lagi. Sebab, jika mencapai Rp 12,5 ribu seperti beberapa tahun lalu pelaku usaha akan kesulitan. Mereka bisa mengurangi komposisi kedelai hingga mengurangi ukuran.
"Ada yang harganya dinaikkan tapi irisannya dibesarkan sedikit. Misalnya standarnya awalnya seribuan, sekarang lima ribu dapat tiga dengan ukuran yang lebih besar. Ada yang awalnya satu cetakan 3 kilogram jadi 2,6 kilogram. Kalau yang ingin untung besar ada yang masih dikurangi lagi (komposisi kedelainya)," beber wanita yang akrab disapa Rina itu.
Ibu satu anak itu mengatakan, respon setiap pengrajin tahu berbeda-beda. Namun yang pasti, turunnya harga kedelai tidak serta merta membuat harga tahu menjadi turun. Karenanya, para pengrajin di tempatnya saat ini masih belum banyak merespon atas harga kedelai yang sudah dibandrol Rp 10,8 ribu.
"Sekarang belum sambat (mengeluh, Red) karena ya harga tahu wis dinaikkan, efek kedelai yang dua tahun lalu pas tembus Rp 12,5 ribu," tandasnya.
Terlepas dari itu, semua kedelai yang dimaksud dalam tulisan ini adalah kedelai impor. Pelaku usaha tempe ataupun tahu, yang ada di Desa Ngreco maupun Canggu, sama-sama masih mengandalkan kedelai impor. Para pengrajin enggan menggunakan kedelai lokal karena banyak kondisi kedelai yang banyak 'sampah'-nya.
"Biasanya ada campurannya seperti lemah (tanah, Red) atau lempung. Misalnya satu kilo kedelai campuran lebu (debu, Red) ada satu ons apa ya nggak berkurang hasilnya?" kata Mufid.
Oleh karenanya, kedelai impor masih menjadi andalan pengrajin tempe dan tahu. Di samping produksi lokal yang belum bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri. Hal inilah yang pada akhirnya membuat harga kedelai terus berfluktuasi mengikuti ketersediaan stok secara global. Begitupun dengan kondisi nilai tukar rupiah. Yang mana, jika rupiah terus melemah, harga kedelai secara juga akan mengalami kenaikan. Jika itu terjadi, para pengrajin tempe dan tahu akan terimbas langsung. (emilia susanti/fud)
Editor : Mahfud