Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Mengapa Petani Enggan Migrasi ke Pupuk Organik? (1) : Enggan Ribet, Takut Panenan Jeblok

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Senin, 25 Mei 2026 | 07:06 WIB
Salah satu petani di Desa Muneng, Purwoasri yang menerapkan pupuk organik. (Foto Diana Yunita Sari)
Salah satu petani di Desa Muneng, Purwoasri yang menerapkan pupuk organik. (Foto Diana Yunita Sari)

Ancaman yang mengintai sektor pertanian tak hanya susutnya lahan saja. Melainkan juga kesuburan tanah yang kian berkurang. 

Sayangnya, mayoritas petani enggan berpindah ke model pertanian organik yang lebih pro-alam. Mengapa?

Hasil kajian dari Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri ini sebenarnya bisa menjadi acuan.

Seperti apa besarnya ancaman pada sektor pertanian di daerah yang diimpit Gunung Kelud dan Gunung Wilis ini. Makin lama kesuburan tanah semakin berkurang. 

Simak saja data hasil kajian tentang indeks kesuburan tanah, atau kandungan bahan organik (C-Organik) pada 2023.

Mayoritas dari 34 ribu hektare lebih lahan pertanian ternyata punya C-Organik di kisaran hanya 1 hingga 2 persen!

Padahal, agar bisa disebut subur, kadar C-Organik lahan harus mencapai 2,51 persen. Artinya, kondisi tanah pertanian di Bumi Panjalu dalam kondisi tidak subur!

Bahkan, ada yang berstatus lahan kritis. Yaitu yang indeks kesuburan tanahnya di bawah 1 persen!

Baca Juga: Lipsus Hari Buku Nasional (1) : Tren Kedai Kopi Sediakan Koleksi Buku, Tumbuhkan Gairah Literasi atau Cuma Pindahkan Ruang Baca?

“Karena itu kami mendorong agar petani bisa beralih ke pertanian organik. Menggunakan pupuk non-kimia,” kata Kepala Bidang (Kabid) Pengolahan Pangan Dispertabun Kabupaten Kediri Rini Pudyastuti.

Ya, salah satu cara mengembalikan kesuburan tanah jelas dengan beralih ke pertanian organik.

Menggunakan pupuk yang terbikin dari alam. Masalahnya, masih banyak petani yang enggan melakukannya. 

Mengapa? (Bertani) organik itu lebih ribet. Harus telaten karena prosesnya panjang,” kata Juwari.

Juwari adalah petani di Desa Muneng, Kecamatan Purwoasri. Dia adalah satu dari sedikit petani yang berani menerapkan pertanian organik di lahannya, sejak 2016.

Dari pengalamannya, tidak mudah bagi petani menerapkan organik. Paling penting, harus lahan milik sendiri.

“Kalau sewa sulit karena terlalu lama pakai pupuk kimia. Menetralkannya butuh waktu lama,” kata petani dengan lahan sekitar 150 ru-satu ru setara 14 meter persegi-ini.

Ketertarikan Juwari ke pertanian organik bermula dari rasa prihatin. Kondisi lahan setiap tahun semakin berkurang kesuburannya. Padahal dia ingin tanah itu bisa diwariskan ke anak cucu dan tetap subur.

Selain itu Juwari juga beternak sapi. Limbahnya itu bisa dimanfaatkan untuk memupuk sawah.

Sebenarnya, biaya pertanian organik lebih murah. Tidak perlu membeli pupuk kimia. Namun, proses dan perawatannya memang lebih rumit.

Baca Juga: Lipsus Daycare (1): Bangun Kepercayaan, Daycare di Kediri Ramai-Ramai Pasang CCTV

Setiap minggu harus menyemprot pupuk hayati. Juga, setiap pergantian tanam butuh bokasi hingga 1 ton. Itu hanya untuk lahan seluas 100 ru.

Masalahnya, bila sebelumnya lahan terbiasa pupuk kimia, masa konversinya butuh waktu lama.

 Panenan bisa anjlok di awal cara tanam organik. Bisa dua tahun baru mengembalikan produktivitas seperti semula.

“Ibaratnya tanah itu sakitnya sudah berat. Kalau baru satu tahun organik hasilnya pasti turun drastis,” lanjutnya.

Dia pun mengalami hal itu. Di awal konversi, dia hanya panen lima kuintal padi dari lahan 100 ru. Padahal sebelumnya  mencapai 12 kuintal!

“Panenan perlahan meningkat seiring kondisi tanah yang pulih,” jelasnya.

Belum lagi, lahan organik juga tidak bisa sembarangan ditanami komoditas. Ada beberapa jenis tanaman yang sulit untuk diterapkan karena ketergantungan pupuk kimianya sangat tinggi. Khususnya untuk tanaman selingan setelah padi.

“Biasanya kalau organik (selingan tanamannya) biasanya kacang tanah atau sayuran. Kalau jagung butuh pupuk kimia banyak. Nanti repot memulihkan kondisi tanahnya,” terang Trimo, petani organik di Desa Pandansari, Kecamatan Purwoasri, yang memiliki lahan sekitar satu hektare.

Ketergantungan pada pupuk kimia, serta keinginan tanam cepat dan efisien itulah yang membuat petani enggan berpindah ke organik. Meskipun dalam jangka panjang hasilnya lebih menguntungkan.

“Kalau (bertani) organik itu prosesnya lama dan butuh tenaga ekstra,” aku Harun Pasahadi. Petani di Desa Nambakan, Kecamatan Ringinrejo ini salah satu yang enggan berpindah ke sistem organik.

Bagi Harun, pupuk kimia membuat pertumbuhan tanaman mudah diprediksi.

Baca Juga: Lipsus Parkir Digital (1) : Bayar Parkir Pakai Cara Digital, Bisakah Jadi Alat Pendongkrak PAD?

Apalagi, secara turun-temurun dia hanya mendapatkan pengetahuan tanam an-organik itu. Ketika berpindah ke organik, dia merasa risikonya terlalu besar.

“Takutnya malah gagal panen,” dalihnya.

Menurut laki-laki 25 tahun itu, persoalan lain muncul ketika lahan yang terbiasa menggunakan pupuk kimia langsung dialihkan ke sistem organik. Pada fase awal, hasil panen justru cenderung turun drastis.

Hal itu terjadi karena tanah membutuhkan waktu penyesuaian cukup panjang. Bahkan, menurutnya, untuk mendapatkan hasil organik yang bagus dibutuhkan waktu bertahun-tahun dengan pola yang konsisten.

“Kalau sudah lama pakai kimia terus langsung organik, hasilnya biasanya jelek,” jelas Harun.

Bagaimana dengan fakta bahwa kesuburan tanah makin mengkhawatirkan? Suyono, petani di Kecamatan Pare, memilih jalan kompromistis. Mengurangi penggunaan pupuk kimia.

“Kalau full organik belum. Saya baru mengurangi pupuk dan pestisida kimia saja. Juga untuk menekan biaya,” kilah Suyono.

Menurutnya, proses konversi dari an-organik ke organik butuh bertahun-tahun. Karena itu harus dilakukan bertahap.

“Yang utama itu membenahi tanahnya dulu. Karena tanah kita sudah terkontaminasi kimia yang tidak bisa langsung terurai,” dalih ketua Asosiasi Petani Cabai Indonesia (APCI) Kabupaten Kediri ini.

Baca Juga: Lipsus Hari Bumi (1): Timbulan Sampah di Kota Kediri Kian Tak Terkendali, Mampukah Program Joglangan Jadi Solusi?

Tantangan seperti itulah yang harus dihadapi dispertabun dalam mendorong penerapan sistem organik.

Namun demikian, pemerintah merasa yakin akan berhasil. Setidaknya karena terlihat peningkatan dalam satu dekade ini.

Menurut Rini, lahan organik di Kabupaten Kediri terbagi dalam tiga klaster. Kediri barat di Kecamatan Semen, utara di Kecamatan Purwoasri, dan selatan di Kecamatan Kepung.

“Pengembangannya difokuskan di tiga wilayah itu. Kalau ada petani yang ingin belajar organik bisa mendekat ke klaster tersebut,” jelas Kabid Pengolahan Pangan Dispertabun Kabupaten Kediri tersebut.

Bila dari luasan lahan yang sudah organik, saat ini mencapai 157 hektare. Meningkat dibanding awal program, pada 2016, yang hanya setengah hektare saja. 

Editor : Andhika Attar Anindita
#petani organik #panenan jeblok #petani #dispertabun #pupuk organik