Kasus kekerasan di tempat penitipan anak atau daycare di Jogjakarta membuat sejumlah orang tua resah. Demi memberi jaminan keamanan dan transparansi, daycare di Kediri ramai-ramai memasang closed circuit television (CCTV).
Nuri, 34, termasuk salah satu orang tua yang langsung waswas dengan viralnya kasus kekerasan di salah satu daycare di Jogjakarta itu. Perempuan asal Pagu, Kabupaten Kediri itu bahkan sempat berencana menarik anaknya dari tempat penitipan.
" Sempat terpikir mau pakai pengasuh pribadi saja di rumah. Setidaknya satu pengasuh fokus satu anak, beda dengan daycare yang satu orang menangani beberapa anak sekaligus," kata Nuri tentang salah satu pertimbangannya.
Senada dengan Nuri, Laila, 35, warga Kecamatan Gurah juga mengaku khawatir anaknya mendapat perlakuan serupa. Namun, setelah berdiskusi dengan pihak daycare, perempuan yang sehari-hari aktif bekerja itu memilih tetap menitipkan anaknya di daycare langganan yang dipercayanya.
Baca Juga: Lipsus Parkir Digital (2) : Minimalkan Kebocoran tapi Masih Ada Ketimpangan, Apa Itu?
"Khawatir pasti ada, tapi saya percaya karena sudah langganan dari anak pertama dan selama ini alhamdulillah aman-aman saja," ungkapnya.
Tidak hanya pelanggan daycare saja yang resah setelah kasus kekerasan anak di tempat penitipan anak Jogjakarta merebak. Para pemilik tempat penitipan anak di Kediri juga langsung merespons cepat untuk ‘menenangkan’ pelanggannya.
Seperti yang dilakukan oleh Rila Maya, 32. Pemilik Daycare Honeybee di Desa Wonosari, Pagu itu mengaku berupaya mengelola tempat penitipan anak miliknya dengan setransparan mungkin. Dia menjaga kepercayaan orang tua dengan memberi akses yang leluasa.
“Saya pasang CCTV dan aksesnya diberikan langsung kepada orang tua secara real time. Mereka bisa memantau kegiatan anak-anak kapan saja,” ungkap Rila.
Tidak hanya itu, orang tua juga bisa langsung mengontak para pengasuhnya. “Kalau ada insiden kecil seperti terjatuh juga kami laporkan,” tuturnya.
Bahkan, untuk menu makanan anak-anak juga dibagikan setiap hari. “Untuk pengasuh juga kami pilih yang usianya matang dan sudah memiliki anak. Mereka juga harus trial dulu untuk melihat kompetensinya,” terang perempuan yang juga berprofesi sebagai guru itu.
Marlina, 50, pemilik Daycare Rumah Kita yang memiliki cabang di Kecamatan Kras dan Ringinrejo juga menerapkan standar ketat. Untuk pemilihan pengasuh, mereka memilih yang sudah berpengalaman.
Khusus untuk bayi, menurut perempuan yang akrab disapa Lina itu juga dilakukan penanganan ekstra. “Harus ada pendamping lain. Tidak boleh ditangani sendirian karena memang butuh perhatian lebih,” paparnya.
Meski kasus kekerasan anak di daycare Jogjakarta merebak, dia bersyukur hal tersebut tidak berdampak pada tempat penitipan anak yang dikelolanya. Meski demikian, dia menyadari benar jika kepercayaan orang tua harus dijaga melalui keterbukaan komunikasi dan pola pengasuhan yang konsisten.
Senada dengan dua daycare tersebut, tempat penitipan anak milik Pemkab Kediri juga memasang CCTV untuk memastikan anak-anak bisa diawasi berlapis. Nono Sukardi, salah satu pengurus Daycare Padmacara milik Pemkab Kediri mengatakan, pihaknya menerapkan standar ketat dalam rekrutmen pengasuh.
Di daycare yang beroperasi sejak Desember 2025 lalu itu, mereka memastikan pengasuhan anak dilakukan secara aman dan nyaman. “Kami lakukan pelatihan untuk calon pengasuh. Mereka juga dites psikologi,” jelasnya.
Daycare di sana, lanjut Nono, dirancang untuk ramah anak. Mulai toilet khusus anak, meja makan berukuran kecil, hingga sudut bangunan yang dibuat aman untuk meminimalkan risiko cedera.
Selebihnya, total ada sembilan CCTV yang bisa diakses langsung oleh orang tua. Kamera pengawas itu dipasang di berbagai titik daycare dan bisa dipantau kapan saja.
“Orang tua juga bisa menyapa anak melalui suara dari CCTV. Fasilitas ini kami siapkan agar orang tua bisa memantau kondisi anak. Kalau anak rewel, biasanya dengar suara mamanya bisa lebih tenang,” paparnya.
Setiap bulan, anak-anak yang berada di Daycare Padmacara juga mengikuti kegiatan posyandu. Mereka mendatangkan dokter, psikolog, dan perawat untuk pemeriksaan kesehatan dan edukasi deteksi dini kekerasan.
“Orang tua juga diajari bagaimana mendeteksi kalau ada tanda-tanda yang mencurigakan,” jelas Nono meminta masyarakat selektif memilih daycare untuk anak-anak mereka.
Untuk memastikan keamanan anak-anak, pria yang juga menjabat sekretaris di Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) itu juga meminta orang tua untuk aktif berkomunikasi dengan anak-anak yang ada di daycare. “Anak itu paling jujur. Kalau ada sesuatu biasanya akan cerita,” tandasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Mokhamat Muhsin menegaskan, seluruh daycare wajib memiliki izin operasional. Proses penerbitan izin juga tidak dilakukan secara sembarangan.
Sebelum penerbitan izin, lembaga harus melalui tahap verifikasi administrasi dan pengecekan lapangan. Mulai legalitas penyelenggara, kurikulum pengasuhan, hingga kesiapan fasilitas akan diperiksa terlebih dahulu.
“Kalau semua persyaratan terpenuhi maka akan diterbitkan izin operasional,” urainya sembari menyebut dinas pendidikan melalui penilik PAUD juga melakukan pengawasan berkala.
Di Kabupaten Kediri, total ada 14 daycare berizin. Selebihnya, dia mengaku belum mendapat laporan tentang keberadaan daycare yang tidak berizin.
Editor : Andhika Attar Anindita