Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Liputan Khusus Mengurai Peliknya Persoalan Regenerasi Pesepak Bola di Kediri (1): Wadah Minim, Talenta Muda Lari ke Luar Daerah

Emilia Susanti • Selasa, 5 Mei 2026 | 06:53 WIB
Ilustrasi pembinaan sepak bola usia dini. (Ilustrasi: Afrizal/JPRK)
Ilustrasi pembinaan sepak bola usia dini. (Ilustrasi: Afrizal/JPRK)
 
Kediri menjadi salah satu daerah yang diperhitungkan dalam peta sepak bola nasional. Tak hanya karena Persik saja. Melainkan juga karena kiprah sejumlah pemain asal Kediri. Sayangnya, pembinaan yang minim membuat talenta-talenta muda lari ke luar daerah.
 
Saat ini pemain putra daerah memang masih mewarnai kompetisi kasta tertinggi di Indonesia. Super League. Persik Kediri memiliki Faris Aditama, Vava Mario Yagalo, Krisna Bayu Otto, serta Wigi Pratama. Lalu, di Bali United FC ada Yusuf Meilana, Borneo FC Samarinda ada M. Khanafi dan Nadeo Arga Winata. Sedangkan Persis Solo memiliki Satria Bagaskara.
 
Yang membanggakan, nama Nadeo Arga Winata dan Satria Bagaskara sukses menembus Tim Nasional (Timnas) Indonesia. Kiprah para pemain itu membuat Kediri disebut sebagai salah satu daerah gudangnya pemain. Pun disegani dalam kompetisi kasta bawah maupun di kelompok usia (KU) dini.
 
Masalah muncul setelah dibalik nama-nama mentereng itu, regenerasi pemain di Kota Tahu kian tidak pasti. Pemain muda yang kini ada di tim senior Persik Kediri hanya Wigi Pratama. Adapun Haikal Rikha Riza tengah dipinjamkan ke klub Championship atau kompetisi kasta kedua.
Baca Juga: Liputan Khusus Mengurai Peliknya Persoalan Regenerasi Pesepak Bola di Kediri (2): Harus Lebih Serius Garap Liga Persik
 
Sedikitnya pemain muda putra daerah yang berlaga ini menandakan adanya persoalan pelik dalam regenerasi pemain di Kediri. Terutama terkait pembinaan pemain. Baik itu pembinaan dari Asosiasi Kabupaten Kabupaten (Askab) maupun Asosiasi Kota (Askot) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Kediri.
 
Demikian juga dari Persik Kediri sebagai klub profesional yang sedang berkontestasi di Super League. Notabene mereka juga punya tanggung jawab untuk melakukan pembinaan.
Di sisi lain, prestasi sepak bola dari tim-tim Kediri bisa dibilang meredup. Pada ajang Piala Soeratin 2025 lalu, tim dari Askab maupun Askot Kediri gagal menembus final di tingkat Provinsi Jawa Timur. Mayoritas kandas di babak penyisihan. Prestasi terbaiknya hanya berhasil masuk babak delapan besar.
 
"Yang ke provinsi nggak ada yang sampai final. Yang U13 di 16 besar, U15 di delapan besar, yang U17 juga delapan besar," aku Tomi Ari Wibowo, ketua Askot PSSI Kediri.
 
Prestasi itu berbanding terbalik dengan jumlah sekolah sepak bola (SSB) di Kota Kediri terbilang banyak. Tomi-sapaan akrabnya, menyebut ada 23 SSB yang tercatat di Askot PSSI Kediri. Dari puluhan itu, hanya 13 SSB saja yang pembinaannya berjalan.
 
Meski hampir separo SSB pembinaannya mandek, masih ada ratusan anak yang menaruh minatnya terhadap olahraga beregu ini. Karenanya, kompetisi untuk KU tetap rutin digelar. Termasuk di dalamnya Piala Soeratin. Selebihnya, Kota Kediri juga memiliki kompetisi Askot Super League.
Tahun ini, Askot Super League dibuka untuk KU 9, 11, 13, dan 15 tahun.
 
"Askot Super League ini SSB-nya harus punya binaan karena kompetisi panjang, tujuh sampai delapan bulan," lanjutnya sembari menyebut hingga Mei ini masih ada beberapa turnamen yang berlangsung.
 
Kecenderungannya, tutur Tomi, talenta-talenta muda terbaik dari SSB di Kota Kediri berkumpul di Football Class. Yakni tim sepak bola dari SMP Negeri 2 Kota Kediri. Tim ini pula yang beberapa kali menjuarai Piala Soeratin di Kota Kediri.
 
"Setelah dari Football Class ini, wadah pemain sudah nggak ada. Habis dari SMP Negeri 2 itu mereka putus, harusnya ada seperti SMA Negeri Olahraga, atau yang bisa menaungi itu. Akhirnya kami tampung di Inter Kediri itu, nanti muaranya ke U17 dan porprov itu," lanjut Tomi.
 
Saking minimnya wadah di Kota Kediri, beberapa pemain Football Class ada yang memilih bergabung ke tim elit pro academy (EPA). Baik ke EPA Persiku Kudus, Deltras FC, serta Persekat Tegal. Fakta ini ironis karena Persik Kediri juga memiliki EPA.
 
"Di luar (di provinsi, Red) itu persaingannya lebih berat, bagus-bagus timnya, karena mereka punya akademi, kayak Deltras, Persebaya, Arema, paling berat itu. Jadi akademinya tim-tim profesional, ketemunya di situ, di kita nggak ada," bebernya sembari menyebut beberapa orang tua di Kota Kediri memilih memasukkan anaknya ke akademi sepak bola di luar Kota Kediri.
 
Salah satu persoalan pembinaan sepak bola di Kota Kediri, menurut Tomi muncul saat atlet masuk di KU17. Hal serupa juga terjadi di Kabupaten Kediri. "Kompetisi untuk U17 itu nggak ada, di Piala Soeratin itu hanya U13 dan U15 yang digelar di kabupaten atau kota. Yang U17 langsung ke provinsi," ungkap Sekretaris Askab Kediri Sugianto.
 
Dalam cataan Piala Soeratin 2025 lalu, tim dari Bumi Panjalu gagal menembus babak final. Baik dari KU 13, 15, dan 17. Adapun U17 hanya sampai di juara 3 . Posisi ini membuat tim Kabupaten Kediri tidak bisa melanjutkan ke tingkat nasional. Prestasi dari U17 2025 juga menurun dibanding musim sebelumnya. Pada 2024 Persedikab Kediri berhasil menjadi juara 3 di Piala Soeratin U17 Nasional.
 
"Persedikab U17 itu juara di Piala Soeratin U17 berturut-turut. Tetapi di nasional, yang 2023 itu gagal, masih di babak penyisihan aja. Kalau yang 2024 itu yang juara 3 itu," sambung Mursalim, yang saat itu menjadi Ketua Pelaksana Persedikab League.
 
Terkait penurunan prestasi di U17, menurut Mursalim ada indikasi proses pembentukan timnya tidak maksimal. Tahapan seleksi, terang Legenda Persedikab itu, kurang bisa melihat talenta para pemain muda. Hal tersebut berbeda jika seleksi dilakukan dengan menggelar kompetisi panjang. Tak hanya menyeleksi kemampuan pemain, ajang ini juga bisa mengasah mental pemain, hingga jam terbangnya.
 
Seolah kompak dengan Mursalim, Sugianto juga berpendapat sama. Penjaringan pemain dengan cara seleksi saja menurutnya belum cukup. Perlu wadah kompetisi untuk melihat kualitas pemain.
Karenanya, Sugianto berharap Asosiasi Provinsi (Asprov) Jawa Timur menginstruksikan kabupaten atau kota menggelar Piala Soeratin U17. Seperti halnya di U13 dan 15 tahun.
 
"Hasil seleksi itu kurang maksimal," tuturnya sembari menyebut penjaringan pemain Persedikab Kediri selama ini diurus oleh manajemen Persedikab Kediri. Pihaknya hanya menjalankan agenda-agenda resmi dari Asprov. Salah satunya menggelar Piala Soeratin.
 
Baca Juga: Kurang Satu Poin Lagi, Persik Kediri Dapat Amankan Tempat di BRI Super League
 
Untuk diketahui, minimnya kompetisi U17 ini membuat beberapa pemain berpaling. Mereka memilih meninggalkan dunia sepak bola. Di antaranya banyak yang fokus melanjutkan pendidikan atau kuliah. Fenomena ini membuat stok pemain di Kabupaten Kediri ini terhenti di U17. Jumlah pemain yang ada pun kian terbatas.
 
"Di usia 17 itu, setelah Soeratin U17, kalau yang terus itu butuh waktu (untuk ke profesional, Red). Tapi ya itu, biasanya habis kelas 3 SMA itu kuliah, mungkin setelah itu fokus di kuliahnya. Kompetisi juga begitu, di Liga 4 diisinya banyak pemain senior, kenapa kok nggak ngasih wadah buat anak-anak (U17, Red)," sesal Musikan, legenda Persik Kediri, di tempat terpisah.
 
Dalam hal regenerasi pemain, Musikan melihat ada dua hal penting yang menjadi tantangan saat ini. Pertama terkait kualitas kompetisi usia dini. Pria yang juga memiliki SSB di Kabupaten Kediri ini pun menyoroti adanya biaya untuk mengikuti tim Persedikab Kediri U17.
 
"Mohon kayak Persedikab itu nggak bayar, lha sekarang U17 bayar. Saya dengar-dengar satu kompetisi itu ada yang seribu lima ratus (Rp 1,5 juta), dua juta, itu untuk ikut Soeratin. Gimana ini,” keluhnya.
 
Mekanisme pembayaran biaya ini membuat talenta berbakat yang tidak mampu tidak bisa bergabung. Dalam jangka panjang, hal tersebut juga berdampak pada regenerasi pemain yang kukrang maksimal.
 
Untuk Kabupaten Kediri, Musikan menilai wadah kompetisi di tingkat Askab maupun Askot sudah mencukupi. Bahkan Piala Soeratin juga sudah berkembang. Terutama dengan adanya Piala Soeratin U13 dan U15. Jika kompetisi tersebut dijalankan dengan serius, menurutnyaproses penjaringan pemain tidak sulit.
 
"Jadi mohon buat PSSI, Liga 4 jangan diisi pemain senior. Lha mbok ya diisi dari U17, U20, atau U21, supaya ada wadahnya buat anak-anak yang nggak ada EPA. Kecuali yang orang tuanya mampu ya ikut EPA, kalau nggak mampu kan ada wadahnya," kritiknya.
 
Tantangan lain yang tak kalah penting menurut Musikan adalah dari individu pemain sendiri. Terutama terkait keseriusan para atlet-atlet muda. Perkembangan teknologi membuat anak-anak kecanduan game online yang menyita waktu tidur. Hal tersebut akan memengaruhi kebugaran dan kondisi fisik pemain.
 
"Terus ada anak di SSB saya juga yang keluar katanya nggak bisa ngafe," sesalnya mengurai banyak problem regenerasi sepak bola. (emilia susanti/ut)
 
 
Editor : Andhika Attar Anindita
#Regenerasi pemain sepak bola kediri #regenerasi persik #pembinaan U17 Kediri #persik kediri #sepak bola kediri