Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Liputan Khusus Mengurai Peliknya Persoalan Regenerasi Pesepak Bola di Kediri (2): Harus Lebih Serius Garap Liga Persik

Emilia Susanti • Selasa, 5 Mei 2026 | 06:52 WIB
Ilustrasi pembinaan sepak bola usia dini. (Ilustrasi: Afrizal/JPRK)
Ilustrasi pembinaan sepak bola usia dini. (Ilustrasi: Afrizal/JPRK)
 
Problem regenerasi pemain juga menghinggapi Persik Kediri. Meski klub kebanggaan Kota Tahu itu masih ikut berkompetisi di kasta tertinggi Tanah Air, pembinaan usia dininya juga memprihatinkan. 
 
Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri, tim elite pro academy  (EPA) Persik Kediri saat ini menggunakan pihak ketiga untuk pembentukan skuadnya. Tak hanya itu, sebagian besar pemain juga bukan talenta asli Kediri.
 
Kondisi tersebut memang sah-sah saja. Sebab, tidak ada kewajiban untuk merekrut pemain dari Kediri.
 
Namun, sangat disayangkan karena ada banyak talenta muda Kediri yang antusias untuk bisa jadi pemain profesional.
 
Hal tersebut salah satunya bisa dilihat dari keberadaan SSB di Kediri. Masing-masing ada 13 SSB di Kota Kediri dan 30 SSB lebih di Kabupaten Kediri. Sayangnya, tidak banyak dari mereka yang masuk EPA Persik Kediri.
 
Selebihnya, Liga Persik yang digulirkan untuk U15 dan U17 dan jadi wadah untuk menjaring tim EPA Persik Kediri musim 2026/2027 menuai kritik keras.
 
Salah satunya dari Suswanto, legenda Persik Kediri. Dia menyoal tentang konsistensi liga.
 
Baca Juga: Kurang Satu Poin Lagi, Persik Kediri Dapat Amankan Tempat di BRI Super League
 
"Jangan sampai terulang lagi seperti yang usia U15 dan U17 kemarin. Kami sudah ikuti semua, banyak peserta yang ikut, baru berjalan empat kali pertandingan, sudah selesai. Nggak ada kelanjutannya," sesal Suswanto yang kini menjabat Exco Pembinaan di Askot PSSI Kediri.
 
Untuk diketahui, Persik Kediri pernah menggelar kompetisi dengan nama Liga Internal Persik pada 2024 silam.
 
Nahas, kompetisi yang menjadi harapan bagi pemain muda ini terhenti begitu saja. Tanpa ada kejelasan dari pihak manajemen. Demikian pula terkait nasib uang deposit dari tim-tim yang sudah mendaftar.
 
"Dari manajemen sudah mengumpulkan peserta, bu Farina juga mengatakan uang deposit akan dikembalikan, tetapi ternyata sampai sekarang belum dikembalikan,” keluh Suswanto.
 
Karenanya, begitu Persik Kediri menyatakan membuat kegiatan serupa, muncul banyak pertanyaan dari insan sepak bola.
 
Kala itu, deposit untuk satu tim Rp 500 ribu. Jika mengikutsertakan dua KU, harus membayar Rp 1 juta.
 
Suswanto mengaku tidak mempermasalahkan biaya untuk ikut kompetisi tersebut.
 
Syaratnya, manajemen harus serius menggelar kompetisi. Dengan tidak adanya kejelasan pada liga sebelumnya, Suswanto mengaku ragu untuk mengikutsertakan anak asuhnya di Liga Persik tahun ini.
 
"Nama Persik ini nama besar, tidak main-main. Kalau serius, dimatangkan. Baru dilaksanakan," warning-nya.
 
Terpisah, Direktur Persik Kediri Souraya Farina Alhaddar enggan memberi penjelasan mengenai Liga Persik. Dia menolak diwawancarai terkait hal tersebut.
 
"Lewat Galuh (media officer Persik) saja pertanyaannya,” elak Farina ditemui pasca launching Liga Persik di Stadion Brawijaya pertengahan April lalu.
 
Terpisah, owner Persik Kediri Arthur Daniel Irawan menyadari ada kekecewaan dari kompetisi yang digelar Persik sebelumnya.
 
Baca Juga: Pelatih Persik Kediri Marcos Reina Apresiasi Brace Ernesto Gomez, Harap Bisa Jaga Performa hingga Akhir Musim
 
"Ketika kita memulai sesuatu pasti nggak ada yang sempurna. Yang pasti, manajemen maupun tim teknis Liga Persik bakal evaluasi dan tetap membenerkan (memperbaiki) liga agar lebih baik kedepan. Tidak ada yang sempurna di awal," kilahnya.
 
Dia memastikan, manajemen akan mengevaluasi pelaksanaan Liga Persik. Arthur juga berjanji akan memberi ruang untuk putra daerah di tim EPA Persik Kediri.
 
Bahkan di tim senior Persik Kediri. Catatannya, pemain tersebut harus benar-benar layak.
 
"Talenta muda nggak bisa ditemukan begitu aja. Bayu Otto kan pemain spesial, semoga kami bisa menemukan pemain-pemain lagi kayak Bayu Otto, Adi Eko, Faris. Jadi kami harus cari, harus sabar, bukan berarti kami harus memaksa, tapi kalau ada pemain Kediri itu memang layak untuk Persik, pasti peluang terbuka sangat lebar," bebernya.
 
Arthur juga menegaskan, Liga Persik menjadi salah satu upaya manajemen terkait pembinaan pemain. Hal tersebut menurutnya penting untuk menciptakan iklim sepak bola yang sehat.
 
Termasuk mewadahi bibit-bibit pemain Kediri dalam membuka peluang menembus kompetisi kasta tertinggi Tanah Air.
 
"Kediri ini punya bibit. Yang harus dilakukan adalah kita cari bibit-bibit ini, untuk memberi panggung untuk kedepannya semoga bisa main untuk Persik Kediri. Tetap semangat, tetap bekerja keras, karena di Persik pasti kesempatan itu ada,” tegasnya. (emilia susanti/ut) 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#pembinaan persik kediri #pembinaan pemain persik #liga persik #liga internal persik #persik kediri