Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Parkir Digital (2) : Minimalkan Kebocoran tapi Masih Ada Ketimpangan, Apa Itu?

Hilda Nurmala Risani • Minggu, 3 Mei 2026 | 15:51 WIB
JURU PARKIR: Salah seorang jukir dari Dishub Kota Kediri sedang bertugas di Jalan Dhoho.
JURU PARKIR: Salah seorang jukir dari Dishub Kota Kediri sedang bertugas di Jalan Dhoho.

 

KEDIRI, JP Radar Kediri - Pembayaran parkir digital memang menuai pro dan kontra. Ada yang menilai lebih praktis dan meminimalkan kebocoran retribusi parkir. Namun, tak menampik juga ada yang menganggap metode ini tak ramah untuk semua kalangan usia.

“Penggunaan QRIS untuk parkir sebenarnya memiliki banyak manfaat,” ujar pengamat ekonomi Kota Kediri Subagyo.

Pertama, mendorong transaksi non-tunai. Penggunaan QRIS dalam membayar parkir ini lebih efisien, cepat, dan transparan. Petugas tidak perlu mencari pengembalian dan pengendara tidak dirugikan jika uang kembalian kurang.

Kedua, mengurangi kebocoran retribusi parkir. Sehingga potensi PAD meningkat.

Baca Juga: Perumda Pasar Joyoboyo Kota Kediri Target 4 Pasar Pasang Parkir Digital 

Ketiga, memperkuat akuntabilitas pengelolaan parkir. Terutama parkir jalanan yang selama ini rawan informalitas. Kemudian, yang keempat, mengubah perilaku masyarakat menuju cashless society.

Apakah berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi? Subagyo menyebut sangat berpengaruh. Itu karena mempermudah transaksi, memperluas akses pasar termasuk wisatawan asing atau domestic, serta mendorong inklusi keuangan masyarakat masuk sistem perbankan digital.

Efek multipliernya perputaran uang lebih cepat. Berdampak pada aktivitas ekonomi lokal yang meningkat,” imbuhnya.

Meski demikian, perlu diwaspadai bahwa pembayaran parkir digital ini ke depannya juga memiliki banyak tantangan. Seperti literasi digital masyarakat yang masih timpang. Terutama pada usia lanjut dan pekerja sektor informal.

Baca Juga: Launching Parkir Digital, Mbak Wali Tingkatkan Transparansi dan Kenyamanan bagi Masyarakat Kota Kediri

Kemudian, ketergantungan pada internet dan perangkat smartphone. Resistensi pelaku lapangan serta biaya merchant discount rate (MDR) yang terkadang dianggap beban. “Juga berkaitan dengan keamanan dan kepercayaan. Serta integrasi dengan sistem daerah yang belum seragam,” tandasnya.

Oleh karena itu, kedepannya perlu dilakukan beberapa upaya. Pertama, edukasi masif dan pendampingan langsung kepada jukir yang dinilai masih kesulitan.

Kedua, skema insentif yang jelas. Ketiga penguatan infrastruktur dengan menyediakan jaringan internet yang stabil di titik-titik transaksi. Baik di pasar, tempat parkir, maupun kawasan wisata.

Keempat adanya integrasi sistem. Misalnya QRIS terintegrasi dengan dashboard PAD pemerintah daerah.

“Kelima harus ada kolaborasi antara pemerintah daerah, perbankan, dan stakeholder terkait,” pungkasnya.

Baca Juga: Kebocoran Parkir Tamat! Perumda Joyoboyo Kota Kediri Terapkan Sistem Ticketing Digital

Sementara itu, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri mengakui pembayaran parkir melalui QRIS memang belum optimal. Namun, bila dibandingkan di awal penerapannya sekarang sudah mengalami peningkatan yang signifikan.

"QRIS parkir ini kontribusinya 12,25 persen dari seluruh total penerimaan retribusi parkir," ungkap Deputi Kepala KPw BI Kediri Deasi Surya Andarina.

Di Kota Kediri, menurutnya, penerapan QRIS untuk bayar parkir berlangsung dua tahun. Di awal, 2024, nilainya masih kecil. Sebab, pada tahun tersebut masih dalam tahap percobaan.

Dalam perjalanannya, BI Kediri melakukan evaluasi. Kode QRIS yang awal mulanya dicetak seperti name tag telah diganti menjadi rompi. Di bagian dada rompi berwarna orange terdapaat kode QRIS.

Baca Juga: Dishub Kota Kediri Akan Kelola Parkir Hasanuddin Jalan Turun Kelas, Ini yang Sedang Dilakukan Pemkot!

"Kalau name tag kan bisa dipindahkan ke orang ya, bisa jatuh. Kena hujan itu luntur. Jadi (penggantian ke rompi) lebih ke brand identity," terang Dea.

Dia mengakui kontribusi parkir melalui QRIS memang belum terlalu besar. Namun, hal itu tidak bisa menampik fakta terkait adanya perubahan perilaku di masyarakat saat ini. Tentu saja ini menjadi kabar baik. Sebab, transaksi melalui QRIS ini akan membuat penerimaan retribusi parkir semakin transparan. Sekaligus mencegah terjadinya kebocoran.

"Masyarakat juga lebih praktis, tidak perlu kembalian dan sebagainya," tekannya.

Dea menerangkan, Kota Kediri menjadi daerah pertama di wilayah kerja BI Kediri yang menerapkan pembayaran parkir melalui QRIS. Ke depan, beberapa daerah lain rencananya juga akan mengadopsi program ini. Kabupaten yang sudah menunjukkan ketertarikannya yaitu Nganjuk dan Ngawi.

Baca Juga: Kota Kediri hanya Punya 3 Kantong Parkir yang Resmi, Ini Lokasinya!

"Kami ada rencana untuk memperluas program ini ya di beberapa daerah di wilayah kerja BI Kediri," jelas Dea. Menurutnya penerapan pembayaran parkir melalui QRIS juga bergantung pada awarness dari kepala daerah masing-masing.

Tak hanya pembayaran parkir, BI Kediri terus mendorong penggunaan QRIS dalam berbagai hal. Tidak hanya di sisi masyarakat atau dunia usaha. Melainkan juga di pemerintah daerah. Misalnya dalam hal belanja maupun penerimaannya. Selain untuk mendorong transparansi, penggunaan QRIS juga akan lebih efisien. (hilda nurmala risani/emilia susanti/fud)

Editor : Andhika Attar Anindita
#dishub kota kediri #qris #pad #parkir digital #kota kediri