Fenomena bunuh diri di kalangan remaja tidak terjadi secara tiba-tiba. Di baliknya ada proses panjang yang kerap luput dari perhatian orang sekitar.
Pemicu utamanya adalah gangguan kesehatan mental, terutama depresi.
Depresi, terutama yang kondisi berat, membuat orang hilang harapan hidup.
Merasa tidak berguna, tak memiliki masa depan, hingga diliputi rasa bersalah berlebihan. Membuat munculnya dorongan mengakhiri hidup.
“Berpikirnya untuk apa hidup? Orang enggak punya masa depan. Untuk apa hidup? Orang selalu gagal hidupnya,” sebut KBP (P) dr Roni Subagyo SpKJ(K), psikiater dari RS Bhayangkara Kediri, mengurai pemikiran mereka yang depresi.
Baca Juga: Darurat Kesehatan Mental di Kediri: 3.500 Warga Alami Gangguan Jiwa Karena Tekanan Ekonomi
Selain depresi, menurut dr Roni, gangguan jiwa berat seperti psikotik atau skizofrenia juga menjadi pemicu bunuh diri.
Pada kondisi ini, seseorang bisa mengalami halusinasi atau waham yang mendorong tindakan ekstrem.
Ia menegaskan, tindakan bunuh diri hampir tidak pernah terjadi secara tiba-tiba. Ada proses yang berlangsung dalam hitungan hari, minggu, bahkan bulan sebelumnya. Tanda-tanda awal pun sebenarnya dapat dikenali.
Gejala yang sering muncul di antaranya perubahan perilaku, seperti murung berkepanjangan, menarik diri, enggan beraktivitas, sulit tidur, hingga tidak mau sekolah.
Namun, kondisi tersebut kerap disalahartikan sebagai sikap malas atau sekadar masalah biasa.
Baca Juga: Imbas Kondisi Ekonomi Sulit, Ratusan Warga Kota Kediri Alami Gangguan Jiwa
“Tidak ada penyakit tanpa gejala. Tapi seringkali kita tidak menyadari, menganggap itu hal biasa,” ujarnya.
Padahal, deteksi dini menjadi kunci utama pencegahan. Saat gejala mulai terlihat, orang terdekat diharapkan segera mengambil langkah.
Mulai dari mengajak berbicara, memberikan dukungan emosional, hingga membawa ke tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater.
Ia juga menekankan bahwa pemicu gangguan mental pada remaja sangat beragam. Tidak hanya persoalan asmara. Juga hubungan keluarga, tekanan pertemanan, hingga lingkungan sosial.
Karena itu peran sekolah dan keluarga sangat penting.
Pendekatan yang keliru justru berisiko memperburuk kondisi mental siswa. Anak yang tidak mendapatkan ruang aman cenderung menutup diri dan enggan bercerita.
Baca Juga: UPT PPA Kota Kediri Fokus Pulihkan Mental Dua Kakak MAM, Bocah Korban Penganiayaan di Ngronggo
Karena itu, sekolah diharapkan menjadi ruang yang nyaman bagi siswa untuk mengekspresikan perasaan. Tidak hanya melalui layanan BK, tetapi juga melalui sistem pembelajaran yang lebih peka terhadap kesehatan mental.
Menurutnya, edukasi kesehatan mental juga penting diberikan sejak dini. Meski tidak harus menjadi mata pelajaran khusus, pengetahuan dasar terkait gejala gangguan mental perlu dikenalkan kepada siswa.
“Minimal anak-anak tahu tanda-tandanya, supaya bisa lebih cepat mencari bantuan,” ujarnya.
Pada akhirnya, kunci utama pencegahan terletak pada kepedulian lingkungan. Baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat perlu meningkatkan empati dan kepekaan terhadap kondisi sekitar.
Baca Juga: Ngeri-Ngeri Sedap! Suka Duka Petugas Evakuasi ODGJ Liar: Butuh Mental Baja dan Fisik Ekstra
Sementara itu, pengintegrasian kesehatan mental dalam semua pendidikan formal memiliki tantangan sendiri. Yaitu, rasio guru BK yang tidak sepadan dengan jumlah siswa.
Guru BK selama ini juga memiliki tanggung jawab sebagai pengajar. Hal itu yang disinyalir juga menjadi kendala pendampingan siswa di sekolah.
Menurut Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri Mandung Sulaksono, melalui Kepala Bidang Pendidikan Dasar Achmad Wartjiantono, idealnya satu guru BK mengampu paling banyak tiga kelas saja. Kenyataannya, rasio jumlah siswa dengan guru BK saja masih jauh dari ideal.
“Ada beberapa sekolah yang masih kurang guru BK-nya. Itu juga jadi tantangan bagi kami,” tegasnya.
Menurutnya, sedianya guru BK harus mendampingi dan memberikan konseling siswa yang menghadapi permasalahan. Dan siswa bisa memanfaatkan BK untuk curhat.
Namun diakuinya, sering kali permasalahan yang berakar dari luar lingkungan sekolah sulit terdeteksi.
“Terkadang yang sering terjadi itu permasalahan anak yang dari luar sekolah atau keluarga itu belum sempat terdeteksi oleh sekolah, tapi sudah mencuat seperti yang di Burengan itu,” ungkap pria yang akrab disapa Anton itu.
Dinas pendidikan– lanjut Anton– tak tinggal diam dengan kejadian itu. Evaluasi menyeluruh akan dilakukan dengan melibatkan guru-guru di sekolah, khususnya guru BK.
Termasuk merumuskan standar minimal layanan konseling yang harus dilakukan di sekolah.
“(Guru BK) kalau kami akui di beberapa lembaga mungkin belum efektif. Selama ini beberapa masih terlalu fokus pada masalah akademiknya saja, atau kejadian-kejadian yang di sekolah. Jadi penanganan belum sampai menyentuh dasar,” akunya.
Baca Juga: Siapkan Kuota 1 Persen untuk Lulusan 2025, Wadahi Siswa Gap Year di SPMB SMA/SMK Tahun Ini
Karena menurutnya, penanganan permasalahan siswa tidak bisa hanya di permukaannya saja. Dan untuk menggali penyebab mendasar gangguan mental anak, perlu kerja sama banyak pihak.
Editor : Andhika Attar Anindita