Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ketika Luka Psikologi Siswa Membayangi Peringatan Hari Pendidikan Nasional di Kediri (1) ‘Agen’ Bestie dan Ibu Kantin pun Jadi Detektor Dini

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Sabtu, 2 Mei 2026 | 11:45 WIB
Ilustrasi pelajar yang menghadapi permasalahan mental. (Ilustrasi: Afrizal)
)
Ilustrasi pelajar yang menghadapi permasalahan mental. (Ilustrasi: Afrizal) 

 

Mereka, para pelajar, dituntut meraih prestasi setinggi-tingginya. Sementara, tekanan mental juga menerjang dari berbagai arah. Menimbulkan luka psikologis yang berbahaya dan seringkali tak terdeteksi.

 

Jumat petang (24/4), ada kado pahit menjelang tibanya Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Nasib  tragis remaja berusia 15 tahun yang  masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).

Di salah satu masjid di Kota Kediri remaja itu memilih menghilangkan nyawanya. Menggantung dirinya sendiri, alias bunuh diri.

Bikin nelangsa adalah secarik kertas berisi pesan emosional. ‘Surat cinta’ itu ditujukan ke teman perempuannya. Menegaskan persoalan yang membelit sang pelajar adalah tekanan asmara.

Sejatinya, sang remaja juga sempat menunjukkan gejala depresi sebelum  kejadian itu. Sempat menghilang, kabur dari rumah.

Petunjuk yang seharusnya cepat ditangkap orang terdekat, termasuk yang ada di lingkungan sekolah. Sayangnya hal itu tak terjadi.

Baca Juga: Sejarah Hari Kartini: Menilik Jejak Perjuangan Emansipasi dan Pendidikan Perempuan Indonesia

“Ada banyak momen di sekolah yang sering menjadi trigger mental. Paling sering itu ketika teman-temanku sarkas dengan kata-kata yang kasar. Bahkan sampai mengejek fisik,” aku Nabila, seorang pelajar SMA di Kota Kediri.

Pengakuan Nabila menjadi satu petunjuk. Bahwa pelajar memiliki banyak problem yang butuh pendampingan.

Sayangnya, menurut si pelajar, hal itu kurang diberikan oleh sekolah. Baik dari guru bimbingan dan konseling (BK) maupun wali kelas.

Gadis ini menegaskan lagi, kerap kasus perundungan yang menimpa mereka di kelas  tak terdeteksi. Seolah diabaikan begitu saja.

“Kalau melapor, terkadang jadi lebih rumit. Ujung-ujungnya pelaku pem-bully ini dipanggil juga. Padahal kami cuma ingin curhat,” kisahnya.

Kegelisahan Nabila ini cermin dari perasaan serupa yang dimiliki pelajar lain. Sekaligus memunculkan pertanyaan baru, bagaimana standar pelayanan psikologis atau mental dilakukan di sekolah?

Apakah setiap sekolah sudah memiliki terobosan untuk pendampingan kesehatan mental siswa dan melakukan deteksi dini?

Baca Juga: Anggaran Pendidikan 20 Persen Dipangkas Demi MBG? Pakar Hukum Sebut Program MBG 'Salah Kamar' di Sidang MK

Kepala SMPN 6 Kota Kediri Boedi Pramono mengatakan, pendampingan kesehatan mental siswa zaman sekarang tak bisa hanya melalui guru BK. Harus melibatkan siswa dan warga sekolah lainnya. 

Dan, menurut Boedi, mereka telah melakukan dalam beberapa bulan terakhir. Melibatkan siswa untuk menjadi detektor dini. 

“Kami ada program namanya Bestie BK. Tujuannya untuk mendeteksi permasalahan pada anak. Mereka ini otomatis menjadi agen guru BK di kelas-kelas untuk mengetahui lebih dini permasalahan anak,” urai Boedi. 

Di tiap kelas biasanya ada tiga siswa yang menjadi ‘agen’ guru BK. Cara ini dinilai lebih efektif dalam deteksi dini dan penyelesaian masalah. Juga tidak terlalu mengintimidasi siswa untuk mengutarakan persoalan. 

Baca Juga: Lipsus Menelusuri Jejak Sejarah Peradaban Barat Sungai Era Kekuasaan Belanda (3), SDN Mojoroto 3 Merajut Pendidikan di Gedung Tua Era Kolonial Belanda

“Konselingnya itu bukan lagi anak yang bermasalah dipanggil ke BK. Melainkan ada beberapa anak bersama bestie-bestie-nya BK itu dan guru BK untuk menangani bersama-sama,” beber sang kepala sekolah.

Boedi menyodorkan fakta menarik. Beberapa gejala kesehatan mental siswa terlihat dari anak yang enggan masuk sekolah.

Rata-rata pemicunya justru persoalan di keluarga. Karena itu, lingkungan sekolah yang suportif, seperti adanya konselor sebaya, sangat dibutuhkan. 

“Itu tugasnya anak-anak Bestie BK. Untuk mengetahui lebih dini apa permasalahannya. Nanti dirangkul bareng-bareng dan akhirnya mau masuk sekolah,” tandas pria yang juga pernah menjadi guru BK ini. 

Tak hanya itu, seluruh warga sekolah juga dilibatkan dalam pemulihan luka psikologis anak. Termasuk ibu kantin hingga penjaga sekolah yang justru kerap bersinggungan dengan siswa. Khususnya saat di luar jangkauan guru. 

Baca Juga: Fraksi NasDem Usul Stop Penyertaan Modal Bank Jatim, Minta Anggaran Dialihkan ke Pendidikan dan Infrastruktur

“Terkadang kan ada anak yang diam saja di kantin, ternyata anak itu ada masalah berat. Itu kan juga perlu pertolongan. Kalau ibu kantin misalnya hanya diam saja dan tidak peduli kan juga berbahaya,” beber Boedi. 

Tak hanya mengandalkan peran BK juga dilakukan SMPN 3 Grogol, Kabupaten Kediri. Mereka mengintegrasikannya ke sistem pembelajaran. Menyisipkan di semua mata pelajaran.

“Penekanannya mencegah bullying, membangun empati, serta membiasakan siswa saling menghargai perbedaan,” terang Waka Humas SMPN 3 Grogol Riyos Aldi Juniawan.

Di awal masuk kelas 7 sekolah melakukan tes psikologi. Melibatkan tenaga ahli dan orang tua. Menjadi bagian deteksi dini potensi gangguan mental.

Peran guru BK juga diubah. Bukan lagi sebagai polisi sekolah. Melainkan lebih sebagai pendamping.

Baca Juga: Hari Autisme Sedunia, Anak-Anak masih Minim Wadah, Lembaga Pendidikan Khusus Tertatih-tatih dengan Subsidi Silang

Siswa yang menunjukkan gejala seperti sering menangis, bolos, atau tampak tidak nyaman, akan diajak berdialog secara personal.

Demikian pula dengan wali kelas dan guru mata pelajaran. Mereka turut dilibatkan. Menjadi bagian dalam pola pendampingan yang terpadu.

Menurut pria yang biasa dipanggil Riyos itu, penguatan mental siswa dilakukan lewat berbagai cara. Seperti guru menyisipkan nilai anti-bullying dalam pembelajaran, menggunakan bahasa yang positif, serta menciptakan suasana kelas yang aman.

Selain itu, ada kesepakatan kelas yang dibuat bersama siswa untuk menjaga kenyamanan. Di akhir pembelajaran, siswa juga diberi ruang refleksi untuk menyampaikan perasaan mereka.

“Tentu juga dilakukan kolaborasi dengan orang tua melalui komunikasi rutin tekrait perkembangan sikap dan kondisi anak,” jelasnya.

Baca Juga: Kisah Atlet Tarung Derajat Kota Kediri Tangguh Setiawan Sabet Medali Emas di Tiga Porprov Beruntun, Bisa Tempuh Pendidikan di Sekolah Idaman

Pemantauan berlangsung setiap hari. Guru juga melihat mood dan perubahan perilaku siswa. Selain itu komunikasi dengan orang tua terus dijalin.

Kepala SMPN 2 Ngasem Sulistyo Wulandari menyebut, hingga saat ini memang belum ada kurikulum resmi khusus yang mengatur kesehatan mental.

Namun, arah kebijakan pendidikan sudah mendorong hal tersebut. Fokus pada nilai dan peringkat dikurangi. Gantinya, penekanan kematangan emosi dan kemampuan pengelolaan diri melalui pembelajaran mendalam.

Deteksi dini pun dilakukan. Salah satunya melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG). 

“Kami bekerja sama dengan puskesmas atau psikolog,” jelas perempuan yang akrab disapa Sulis itu.

Sulis mencontohkan kasus. Ketika ada pertengkaran siswa, sekolah tak langsung memberi sanksi.Tapi melakukan konseling klasikal.

Mendengar penyebab konflik dari masing-masing pihak. Setelah itu dicari solusi bersama dan pendampingan serta evaluasi masa damai.

Baca Juga: Salur Aspirasi, DPRD Kota Kediri Dorong Pemkot Kediri Fokus Tingkatkan Mutu Pendidikan Dasar

Sementara itu, Waka Kesiswaan SMPN 2 Semen Luluk Agustina menilai, langkah awal yang harus dilakukan adalah mengenali kondisi setiap siswa secara lebih mendalam.

“Diharapkan BK memiliki data setiap siswa terutama tentang masalah hidup yang paling berat menurut siswa saat ini,” ujarnya.

Di tingkat kebijakan, Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri juga telah mendorong penguatan kesehatan mental melalui program Gerakan Sekolah Sehat (GSS). Salah satu fokus utamanya adalah sehat jiwa.

Yakni menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan ramah anak, sekaligus membantu siswa mengelola stres.

Program ini merupakan bagian dari implementasi Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026.

Baca Juga: MBG dan Pendidikan: BGN Pastikan Anggaran Program Makan Bergizi Tidak Ganggu Pagu Kementerian Lain 

“Mereka (guru BK) membantu mengelola stres, emosi, serta mengatasi masalah pribadi maupun akademik untuk menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif” jelas Kasi Kurikulum SMP Wawan Sarudi. 

Editor : Ayu Ismawati
#kesehatan mental #dinas pendidikan #hardiknas #perundungan #Hari Pendidikan Nasional