Konflik geopolitik antara Iran dan dua seterunya, Amerika-Israel, memang nun jauh di Timur Tengah. Tapi, dunia industri arang kayu di Kabupaten Kediri terpengaruh. Omzet mereka turun drastis karena gagal ekspor ke wilayah tersebut.
Gudang di belakang rumah Sukarno terasa hening. Tidak sebising seperti beberapa bulan lalu. Tak ada gemuruh suara mesin pembuat briket arang. Tak ada pula puluhan pekerja yang biasanya beraktivitas, memasukkan bahan arang, memotong, hingga memasukkan ke oven.
“Semua libur, hanya ada dua orang yang kerja untuk kebersihan,” ucap pria warga Dusun Tondomulyo, Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri ini.
Sukarno adalah pengusaha pembuat briket arang kayu. Dia terpaksa meliburkan sebagian besar dari 23 orang karyawannya setelah Hari Raya Idul Fitri beberapa waktu lalu. Penyebabnya pesanan briket arangnya anjlok drastis.
“Omzetnya tidak sekadar turun tapi anjlok drastis. Hampir mencapai 90 persen penurunannya,” ucap Sukarno.
Penyebabnya adalah konflik geopolitik yang terjadi di Timur Tengah. Pertikaian antara Iran menghadapi dua seterunya, Amerika dan Israel, membuat pesanan briket arangnya terhenti. Ya, pasar terbesarnya adalah Qatar, negara tetangga Iran.
Bisnisnya mulai terganggu di awal konflik. Namun, saat itu dia tetap berproduksi. Ternyata situasi belum juga membaik. Membuatnya terpaksa menghentikan produksi.
Saat normal, Sukarno bisa mengirim hingga enam kontainer briket arang kayu. Tiap kontainer berisi sekitar 20 ton, dengan harga sekitar Rp 4 ribu per kilogram. Jadi, nilai satu kontainer sekitar Rp 80 juta.
Tak mencari pasar lain? Dia mengaku telah melakukan. Sayangnya, hal itu tak semudah membalik tangan.
"Kalau teman-teman yang punya kiriman ke Korea atau China (Tiongkok, Red) ya masih lanjut. Kalau saya untuk lokalan saja karena nggak ada teman kirim sana," dalihnya.
Sukarno bukan satu-satunya yang terdampak. Sebab, dusun ini merupakan sentra pembuatan arang kayu di Kabupaten Kediri. Para ‘petani arang’-sebutan warga bagi mereka yang membuat arang-ikut terpengaruh. Sebab, pengusaha yang melakukan ekspor mengambil arang dari produksi rumahan.
Miselan, kepala Dusun Tondomulyo menyebut jumlah 150-an orang yang berkecimpung di industri tersebut. Termasuk yang tergolong pengusaha.
"Untuk pengusahanya (yang melakukan ekspor, Red) jumlahnya antara 5 - 7 orang," terang Miselan.
Kini, dia mengakui, pengusaha maupun ‘petani’ arang kebingungan. Sementara ini hanya mengandalkan permintaan lokal. Karena itu banyak yang mencoba mencari sumber pendapatan lain.
"Petani arang yang kecil-kecil ini sudah mulai cari kerjaan lain, takutnya ini berimbas lama. Kalau yang jadi pekerja itu memang ada yang dirumahkan, tapi itu tidak dirumahkan terus itu tidak. Jadi sifatnya kan harian. Kalau ada kerjaan masuk, kalau nggak ada libur dulu," ungkapnya.
Miselan sebenarnya juga ikut terdampak. Memang, dia bukan ‘petani’ arang. Namun dia punya tungku untuk membuat arang. Tungku itu dia sewakan.
Sang kasun mengurai, permintaan arang di dusunnya menurun drastis saat ini. Semuanya dampak konflik Timur Tengah. Terutama ekspor yang ke negara wilayah itu seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Oman, Dubai, dan lainnya.
"Sekarang permintaannya tinggal 15 persen,” beber Miselan.
Kondisi itu dibenarkan oleh Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih. Melalui Kepala Bagian Perdagangan Roni Jatmiko, kendala utama penurunan itu adalah jalur logistik yang terganggu. Membuat biaya menjadi lebih mahal dan proses pengiriman lama. Permintaan ekspor pun banyak yang batal.
“Tiga bulan ke belakang ini belum ada laporan ke kami untuk ekspor,” jelas Roni.
Roni menjelaskan, arang memang jadi komoditas ekspor dari Kabupaten Kediri. Namun, volumenya tidak besar dan bukan andalan Kabupaten Kediri. Pada 2025 lalu misalnya, nilai ekspor komoditas ini sebesar 72.860,93 US Dollar. Bila kurs Rp 16 ribu untuk 1 US Dollar, nilai ekspornya sekitar Rp 1,165 miliar. Jumlah itu setara dengan 0,19 persen dari total ekspor di Kabupaten Kediri.
"Mulai dari 2023, di catatan kami, mereka paling nggak tiga bulan sekali ada satu kontainer ke Qatar. Itu yang tercatat, itu belum untuk yang mereka memakai pelabuhan lain, biasanya tidak terlapor. Yang tercatat di kami, di Disperindag Provinsi Jatim itu minimal tiga bulan itu satu kontainer," terang Roni.
Sebenarnya, tak hanya arang yang terdampak konflik di Timteng itu. Namun, dampaknya tak sebesar seperti arang. Intinya, semua yang diekspor ke wilayah itu terganggu. ”Furniture, sengon, playwood, barecore itu juga terdampak. Karena salah tujuan ekspornya juga ke Timur Tengah," beber Roni.
Selain itu, produk lain yang juga memiliki pasar di Timur Tengah adalah kertas cigarette. Hanya saja, pasarnya tidak bergantung di negara-negara Timur Tengah. Sehingga, industri untuk kertas cigarette ataupun kayu masih tetap berjalan.
"Mereka punya pasar alternatif seperti ke Amerika dan sebagainya. Jadi memang arang ini yang diversifikasinya agak kurang karena tujuan utamanya selama ini memang ke Timur Tengah," kata Roni saat ditemui di ruangannya.(emilia susanti/fud)
Editor : Andhika Attar Anindita