Sempat viral dan jadi sentra ekonomi baru, Monumen Macan di Desa Balongjeruk, Kunjang kini sepi pengunjung. Meredupnya pamor sang macan membuat omzet para pedagang ikut merosot tajam.
Berbagai upaya yang dilakukan agar pengunjung bersedia kembali, belum membuahkan hasil yang signifikan. Pemandangan kontras terlihat di kawasan monumen yang berada di simpang tiga Dusun/Desa Balongjeruk, Kunjang.
Jika 2025 silam kawasan tersebut dipadati pengunjung hingga luar daerah, kini suasananya lengang. Tidak ada lagi pemandangan pengunjung yang membeludak hingga membuat arus lalu lintas tersendat.
Saking banyaknya jumlah pengunjung, kawasan monumen Macan Balongjeruk pun jadi spot car free day (CFD) baru. Meski hingga Minggu (19/4) kemarin acara rutin mingguan itu tetap digelar di sana, namun antusiasme pengunjung sudah jauh menurun.
Saat viral pada pertengahan Desember 2025 silam, pengunjung di akhir pekan bisa mencapai ribuan orang. Pengunjung seolah tumplek blek di sana hingga membuat area macan dipadati lautan manusia.
Adapun kemarin (19/4) jumlah pengunjung tinggal ratusan orang saja. Event senam yang digelar setiap weekend agaknya masih menjadi magnet pengunjung yang mayoritas warga lokal Kediri.
Penurunan jumlah pengunjung yang sangat signifikan membuat omzet para pedagang ikut terjun bebas. Seperti diakui oleh Sunar Murdianingrum, 50. Warga asli Desa Balongjeruk itu sempat ketiban durian runtuh saat patung macan di desanya viral
Pada akhir pekan, omzet perempuan yang berjualan kaus bergambar macan ini bisa tembus Rp 5 juta sehari. Adapun hari-hari biasa Rp 3-3,5 juta. Stok kaus yang dimiliki selalu ludes. “Sekarang sepi,” keluhnya.
Diakui perempuan yang akrab disapa Ningrum itu, penurunan terjadi secara bertahap. Kini, dalam sehari hanya ada satu atau dua potong kaus saja yang laku. Di akhir pekan, dia bisa menjual hingga lima potong kaus. Selebihnya, sering kali zonk alias tidak laku satu pun dalam sehari.
Penjualan yang seret membuat stok kausnya menumpuk. “Stok 300 potong, ini masih ada 200 potong lebih. Padahal dulu pesan 350 potong langsung habis,” bebernya.
Melihat lesunya pasar, Ningrum memilih menurunkan harga kaus produksinya. Yang semula Rp 60 ribu per potong, kini tinggal Rp 50 ribu saja. Namun, penjualannya tetap belum bisa terkerek.
“Sekarang yang penting laku dulu, meski untungnya sedikit,” tuturnya berharap kawasan patung macan bisa ramai seperti dulu. Dia berharap setiap hari Minggu ada event yang digelar di sana. Sehingga, bisa mendatangkan lebih banyak pengunjung.
“Kalau tidak ada (event), kasihan pedagang. Tidak ada yang menarik lagi,” paparnya. Senada dengan Ningrum, Nenes Munawaroh yang sehari-hari berjualan sayur-sayuran juga merasakan penurunan omzet.
Dagangan nasi pecelnya yang saat ramai bisa mengumpulkan Rp 950 ribu, kini tinggal Rp 600 ribu saja. “Dulu bisa menghabiskan sampai 12 kilogram beras, sekarang paling ramai hanya delapan kilo saja,” urainya.
Pendapatan itu menurut Nenes tidak mencukupi untuk sewa lapak. Dia harus merogoh kocek Rp 300 ribu per bulan untuk biaya sewa. “Keuntungannya semakin tipis,” keluhnya.
Selain dua perempuan tersebut, para pedagang kompak mengeluhkan penurunan omzet. Warung-warung di sana tidak lagi ramai pembeli karena pengunjung patung menyusut drastis.
“Dulu sehari bisa Rp 500 ribu, sekarang hanya Rp 50 ribu,” aku Rizal Berkah, warga yang berjualan kopi di sana. Dengan banyaknya warga yang menggantungkan ekonomi dari patung macan di Balongjeruk, Rizal berharap kawasan itu bisa kembali ramai.
Sehingga, periuk mereka bisa kembali terisi. “Ya semua pedagang pasti pengennya ramai lagi. Tapi mungkin orang-orang sudah bosan,” paparnya.
Terpisah, Kades Balongjeruk Safii mengakui jika ada penurunan pengunjung di kawasan patung macan. Terkait keberlanjutannya, menurut Safi’i kini ditangani oleh pengurus.
“Mereka yang akan membahas inovasi apa saja yang akan dilakukan untuk menghidupkan kawasan (patung macan),” ungkap Safi’i. Adapun pemdes menurutnya hanya sebagai pengawas. Karenanya, kapasitas pemdes nantinya hanya memberikan masukan.
Meski demikian dia memastikan pihaknya tidak akan lepas tangan. Sebab, pengembangan kawasan itu menyangkut perekonomian warga. Kasi Kesejahteraan Desa Balongjeruk Moh. Wasis menambahkan, pemdes sudah menggiatkan acara CFD setiap hari Minggu.
Selain diisi dengan olahraga bareng, ada pula penampilan disc jockey (DJ). “Nantinya kami akan melihat kembali antusiasme masyarakat dan terus melakukan evaluasi,” lanjut Wasis.
Lebih jauh Wasis mengakui, banyak warga yang menggantungkan ekonominya pada keramaian patung macan Balongjeruk. Karenanya, pemdes juga menggratiskan warga berjualan di sana pada hari biasa. Hanya saja, saat CFD pedagang dikenai biaya retribusi.
Wasis menyebut, kini di Desa Balongjeruk ada dua tambahan patung macan. Keduanya dipasang di depan kantor desa. Patung tersebut awalnya akan digunakan untuk mengganti patung karya Suwari.
Namun, berdasar hasil pertemuan dengan warga, patung karya Suwari tetap dipertahankan di lokasi semula. Sedangkan dua patung baru karya perajin dari Ngadiluwih itu dipasang di depan balai desa.
Editor : Andhika Attar Anindita