Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Menelusuri Jejak Sejarah Peradaban Barat Sungai Era Kekuasaan Belanda (3), SDN Mojoroto 3 Merajut Pendidikan di Gedung Tua Era Kolonial Belanda

Ayu Ismawati • Minggu, 19 April 2026 | 09:00 WIB
Siswa SDN Mojoroto 3 berlatih mengibarkan bendera di halaman sekolah dengan imitasi. Bangunan sekolah itu merupakan peninggalan era kolonial Belanda yang sudah berusia lebih dari 70 tahun. (Foto: Ayu Isma)
Siswa SDN Mojoroto 3 berlatih mengibarkan bendera di halaman sekolah dengan imitasi. Bangunan sekolah itu merupakan peninggalan era kolonial Belanda yang sudah berusia lebih dari 70 tahun. (Foto: Ayu Isma)

Kawasan bersejarah barat sungai juga dikenal sebagai pusat pendidikan. Sejak era kolonialisme, ada beberapa lembaga pendidikan yang dibangun di kawasan tersebut. Salah satunya SDN Mojoroto 1, 3, 6. 

Memasuki kompleks sekolah itu, nuansa jadul langsung nampak dari berbagai sudut. Utamanya bangunan ruang kelas yang berada tepat di tengah kompleks sekolah.

Bangunan menghadap ke barat itu memiliki fasad lengkung dan pilar tebal khas arsitektur Indis atau kolonial.

Jejak arsitektur khas kolonial itu masih nampak jelas, meski sudah banyak sentuhan modern seperti keramik pada lantai dan dindingnya.

Baca Juga: Kembangkan Pecinan Kota Kediri, Usulkan 5 Objek Jadi Cagar Budaya

Masuk lebih dalam ke area kelas, langit-langit yang tinggi dengan pintu kayu yang besar langsung mencuri perhatian. Belum lagi jendela dengan pintu-pintu kayu yang lebar, membuat udara di ruang kelas itu lebih adem dari biasanya.

“Sejak 1994 saya masuk sini, yang berubah paling hanya lantainya sama keramik di dindingnya. Lainnya tetap sama,” ujar Sumartini Widiastuti, salah satu guru senior di sana. 

Perempuan yang tinggal di Kelurahan Dermo itu mengenang, awal mengajar di SDN Mojoroto kondisi bangunan itu lebih jadul lagi.

Lantainya hanya berupa semen. Temboknya pun masih apa adanya, tanpa tambahan keramik seperti sekarang. Termasuk langit-langit kelas yang terbuat dari papan-papan kayu jati yang masih sama hingga sekarang.

Baca Juga: Punden Pesapen: Dari Sumur Kerbau hingga Status Cagar Budaya, Mengungkap Jejak Spiritual di Surabaya

Hingga saat ini, baik dari Pemkot Kediri maupun sekolah, belum memiliki catatan tahun persisnya gedung itu dibangun. Warga sekolah sebatas tahu bahwa gedung sudah dibangun sejak era kolonial.

Berdasarkan surat keterangan dari Kecamatan Mojoroto, bangunan itu resmi dikuasai Pemerintah Kelurahan Mojoroto sejak tahun 1950. Dan saat itu, mulai difungsikan sebagai SDN Mojoroto 1. 

Dari catatan sejarah, dulunya bangunan itu juga tempat pendidikan. Tepatnya sekolah rakyat atau Inlandsche School; sekolah bagi anak-anak pribumi.

Meski bangunan tua, menurutnya gedung itu masih kokoh hingga saat ini. Tanpa kerusakan serius meski sudah berusia lebih dari 76 tahun.

“Paling seringnya pelapis (lapisan untuk menutup sambungan papan, Red) di kayu langit-langit itu rontok, jatuh-jatuh. Tapi karena langit-langitnya tinggi sekali, jadi ya lebih adem kelasnya,” aku perempuan yang akrab disapa Titin itu. 

Handoko, penjaga SDN Mojoroto 3 mengatakan, sekolah itu bahkan pernah didatangi orang Belanda.

Baca Juga: Lestarikan Cagar Budaya, Gus Qowim Ajak Warga Kota Kediri Jaga Jembatan Lama

Sang turis itu ingin melihat-lihat jejak peninggalan leluhurnya di kompleks sekolah itu. 

“Dia datang naik becak waktu hari Minggu. Katanya ingin lihat-lihat terus foto-foto gedung sekolah,” kenangnya, soal kejadian beberapa tahun lalu.

Sayangnya, di sekolah itu belum ada informasi yang detail tentang sejarah bangunan di masa lalu. Begitu pula pemahaman warga sekolah yang masih terbatas tentang sejarah sekolah yang berada tepat di selatan Pengadilan Negeri Kediri itu. 

Belasan tahun bekerja di sana, Handoko mengatakan perawatan gedung lama itu hanya boleh sebatas pada perbaikan ringan saja. Misalnya, memperbaiki atap yang bocor dengan mengganti gentingnya.

Atau, menambahkan keramik di dinding karena kondisi tembok yang mudah terkelupas. 

Baca Juga: Merawat Cagar Budaya, Sekda Pemkot Kediri Bagus Alit Pantau Pembersihan Sampah di Kaki Jembatan Lama

Diakuinya, ada kesulitan tersendiri dalam merawat bangunan lama itu. Terlebih saat memperbaiki kebocoran di atapnya atau sekadar mengganti lampu ruang kelas yang mati.

Maklum, ketinggian langit-langit yang terbuat dari papan kayu jati itu mencapai sekitar 7 meter!

“Terus karena ini papan-papan, kalau ada bocor itu lebih susah nyari titiknya. Beda dengan atap plafon, yang kalau bocor langsung kelihatan merembes. Jadi kalau ada yang bocor atau jaringan listrik bermasalah, harus naik dari ujung terus dicari bocornya di mana,” ungkapnya. 

Meskipun perawatannya lebih ekstra, diakuinya kualitas material bangunan jaman dulu lebih unggul. Selain tembok-tembok yang tebal, langit-langit dari kayu jati itu juga sangat kuat.

Meskipun beberapa kerusakan akibat usia seperti pada kusen jendela tetap dapat ditemui. Dan kalaupun ada kerusakan, harus diganti dengan material dan jenis yang sama.

Baca Juga: Tiga Siswa MAN 2 Kota Kediri Ini Bisa Membuat Game Petualangan Menjelajahi Lokasi Cagar Budaya

“Dulu pernah ada pintu yang diganti, tapi itupun harus yang jenis dan ketebalan pintunya sama. Karena rata-rata pintu jendelanya ini memang tebal-tebal,” bebernya. 

Pemerhati sejarah M. Zainal Fachris menyebut, kompleks SDN Mojoroto 1,3,6 itu dibangun di era kolonial Belanda. Meskipun bangunannya tidak setua objek lainnya di barat sungai, namun sentuhan arsitektur indis masih nampak di sana. 

“Itu sebetulnya relatif baru meskipun didirikan di jaman Belanda. Waktu itu dibangun di zaman Belanda untuk sekolah rakyat,” ungkap Fachris. 

Editor : Andhika Attar Anindita
#sdn mojoroto #sungai brantas #belanda #sejarah #kolonial