Wilayah Barat Sungai Kediri punya banyak ‘koleksi’ bangunan bersejarah. Didominasi peninggalan era penjajahan Belanda. Menegaskan status wilayah ini sebagai Kota Kolonial.
Kota Kediri identik dengan wilayahnya yang terbelah oleh Sungai Brantas. Tak hanya membelah secara geografis, sungai ini juga membelah kultur sosial-masyarakat Kota Kediri.
Setidaknya sejak era Kolonial Belanda, Kota Kediri tumbuh menjadi kota yang unik.
Bila ditelusuri, karakter Kota Kediri mirip dengan Kota Malang. Wilayahnya terbagi dalam istilah ‘Kota Pribumi’ di timur sungai dan ‘Kota Kolonial’ di barat sungai. Artinya, Sungai Brantas berperan penting dalam lahirnya istilah itu.
Di Kota Kediri kawasan barat sungai adalah wajah kolonial. Sejak awal dirancang sebagai pusat kekuasaan, ekonomi, sekaligus simbol modernitas pada masanya.
Jejaknya masih terasa hingga kini. Dari pola jalan, bangunan, hingga fungsi ruang yang sebagian besar tetap bertahan.
Baca Juga: Lestarikan Cagar Budaya, Gus Qowim Ajak Warga Kota Kediri Jaga Jembatan Lama
Pemerhati sejarah Achmad Zainal Fachris mengatakan, karakter wilayah barat sungai pada dasarnya memang berbeda dibanding timur sungai.
Jika timur sungai tumbuh alami sebagai kota pribumi, barat sungai justru lahir dari desain kolonial yang terstruktur.
“Barat sungai itu kota kolonial. Titik sentralnya adalah gedung karesidenan dan perangkat pemerintahan. Semua dibangun dengan sangat terkonsep oleh Belanda,” terang pria yang akrab disapa Fachris itu.
Pembangunan kawasan ini tak lepas dari dampak Perang Jawa. Pascaperang, wilayah Kediri masuk dalam konsesi Belanda melalui Perjanjian Sepreh di Ngawi pada 1830.
Isinya, Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta memberikan sebagian tanah, yaitu mancanegara wetan, kepada Belanda.
Baca Juga: Merawat Cagar Budaya, Sekda Pemkot Kediri Bagus Alit Pantau Pembersihan Sampah di Kaki Jembatan Lama
“Termasuk salah satunya adalah wilayah Kediri. Jadi pembangunan Kediri oleh pemerintah kolonial itu dimulai setelah Perang Diponegoro. Dan salah satu bekasnya adalah pembangunan benteng yang sekarang menjadi kantor Polresta,” urai Fachris terkait awal mula wilayah barat sungai jadi pusat administrasi baru.
Menariknya, pembangunan itu banyak memanfaatkan material dari reruntuhan keraton Kediri lama.
Keraton besar yang pernah berdiri megah itu runtuh pada 1676. Dan sisa-sisanya digunakan kembali untuk membangun kota kolonial.
“Maka dibangunlah infrastruktur-infrastruktur kota kolonial modern di barat. Selain gedung karesidenan (sekarang menjadi kantor UPT Bapenda Jatim Wilayah Kediri, Red) juga dilengkapi taman atau kebun raya yang sekarang menjadi lapangan tenis di sekitar Sekartaji,” beber guru MAN 2 Kota Kediri itu.
Baca Juga: Kembangkan Pecinan Kota Kediri, Usulkan 5 Objek Jadi Cagar Budaya
Seiring waktu, Belanda juga membangun beberapa objek vital lain. Seperti Gereja Merah, kantor asisten residen yang kini menjadi rumah dinas Kapolres Kediri Kota, gedung perbankan yang sekarang menjadi kantor BRI, tangsi militer, penjara atau lapas, gedung pengadilan, tempat pendidikan, dan lain sebagainya.
Secara arsitektur pun, banyak ditemui sentuhan Indies Empire.
“(Konsep Indies Empire) Itu yang paling tua. Seperti Gedung Karesidenan itu adalah gedung berarsitektur Indies Empire,” ungkap Fachris.
Mengapa Belanda getol membangun di barat sungai? Fachris menyebut, Belanda identik dengan pembangunan wilayah yang terkonsep. Itu dapat ditemui di banyak daerah di Jawa. Seperti Malang, Surabaya, dan Jogjakarta.
Konsep itu datang bersama ciri khas Belanda yang membagi wilayahnya berdasarkan stratifikasi sosial. Pembagian ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari kebijakan kolonial untuk mengontrol masyarakat.
“Dan kota timur sungai itu memang lebih tua daripada barat sungai. Kalau timur sungai itu Kadipaten Kediri pada zaman kerajaan dulu. Sehingga wilayah itu sudah berkembang sebelum Belanda mulai membangun barat sungai,” sambungnya.
Baca Juga: Mengenal Sejarah Kota Lama di Kediri, Pusat Bisnis Warga Tionghoa yang Kini Mulai Redup
Ciri khas lainnya, jalan-jalan utama dibuat saling terhubung dengan orientasi yang tidak hanya fungsional, tetapi juga estetis. Fachris mencontohkan, Jl Dhoho sebagai pusat perdagangan terkoneksi ke berbagai sisi.
Tata ruang yang terkonsep itu juga yang membuat Gunung Klotok di sisi barat langsung terlihat dari simpang empat Jl Dhoho.
“Jadi dari perempatan itu di sisi barat, pas pemandangannya Gunung Klotok, ‘Putri Tidur’-nya. Itu menunjukkan bahwa Belanda tidak hanya membangun, tapi juga merancang visual kota,” terang Fachris.
Meski dibangun lebih dari satu abad lalu, fungsi wilayah barat sungai relatif tidak banyak berubah. Objek vital masyarakat maupun pemerintah masih dijalankan di sana.
Namun, Fachris mengingatkan bahwa karakter kuat itu bisa hilang jika tidak dijaga. Ia menyoroti sejumlah bangunan dan monumen bersejarah yang mulai hilang akibat kurangnya kepedulian.
Salah satunya adalah monumen pembentukan Divisi 1 Brawijaya yang dibongkar tanpa kejelasan. Padahal, nilai historisnya sangat tinggi bagi Jawa Timur.
Belum lagi objek bersejarah lainnya yang nyaris atau bahkan sudah dibongkar demi kepentingan bisnis.
“Kediri harus gencar pendataan ODCB-ODCB (objek diduga cagar budaya, Red), lalu penetapan, kemudian baru dilaksanakan pelestarian. Baik itu preservasi maupun konservasi. Eman-eman kalau sampai itu nanti hilang semua karena ketidaktahuan,” tandasnya.
Secara khusus soal kawasan barat sungai, Fachris menilai, area di sekitar Taman Sekartaji termasuk dalam kawasan cagar budaya. Baik atas dasar penetapan cagar budaya atau tidak.
Artinya, kawasan perkantoran, pendidikan, hingga tangsi militer itu sudah seharusnya dilestarikan.
Baca Juga: Kembangkan Pecinan Kota Kediri, Usulkan 5 Objek Jadi Cagar Budaya
“Saya masih ingat di selatan Gereja Merah, itu dulu kediaman pimpinan Brigade S Kediri, Kolonel Soerachmad. Itu dulu sempat dibongkar oleh pemiliknya. Setelah dikasih tahu, alhamdulillah pemiliknya mau mengembalikan seperti semula,” kenangnya, berharap kejadian serupa tidak terjadi di objek bersejarah lainnya di Kota Kediri.
Kini, puzzle barat sungai sebagai kota kolonial mulai terangkai jelas. Menyusul usulan Gereja Merah sebagai cagar budaya peringkat nasional. Yang akan menambah daftar panjang bangunan bersejarah di wilayah ini.
Editor : Andhika Attar Anindita