Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Koperasi Merah Putih: Mampukah Memenuhi Ekspektasi Penguatan Ekonomi Rakyat?

Diana Yunita Sari • Kamis, 16 April 2026 | 15:37 WIB
Liputan Khusus KDMP di Kabupaten Kediri, mampukah memperkuat ekonomi lokal (Ilustrasi: Afrizal)
Liputan Khusus KDMP di Kabupaten Kediri, mampukah memperkuat ekonomi lokal (Ilustrasi: Afrizal)

JP Radar Kediri - Gelontoran fasilitas terus berlangsung untuk lembaga yang bertujuan memperkuat ekonomi rakyat ini. Setelah gedung selesai dibangun, unit armada pun diberikan. Lalu, seberapa siap dan kuat koperasi-koperasi ini memulai bisnisnya?

Senin, 6 April 2026. Bisa jadi ini salah satu tonggak penting dalam perjalanan lembaga ekonomi rakyat yang secara massif dibentuk Pemerintah Pusat. Khususnya yang ada di wilayah Kabupaten Kediri. Saat itu, 32 armada truk diberikan kepada Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), yang gedungnya telah selesai dibangun.

Penyaluran berlangsung di tempat paling terkenal di Kabupaten Kediri, Monumen Simpang Lima Gumul. Dilakukan oleh orang nomor satu di Kabupaten Kediri, Bupati Hanindhito Himawan Pramana. Menegaskan begitu pentingnya keberadaan KDMP ini. Setidaknya di mata pemerintah. Agar bisa menjadi soko guru ekonomi rakyat.

Pentingnya peran KDMP di tengah kelesuan ekonomi negara ini ditegaskan langsung oleh Bupati Dhito. Dia mengingatkan pentingnya pemetaan potensi desa sebagai fondasi utama. Meminta agar koperasi yang masih seumur jagung ini tidak sekadar ikut program. Melainkan fokus pada kekuatan lokal. Agar mampu bertahan dalam jangka panjang.

Baca Juga: Lipsus Alun-Alun Kota Kediri yang Mangkrak Tiga Tahun (2), Pemkot Siap Lanjutkan Tahun Ini, PN Kediri Bentuk Panel Ahli Netral dan Berbeda

“Saya mohon setiap kepala desa bisa memetakan potensi desanya masing-masing. Fokus pada satu sampai tiga sektor unggulan saja. Kalau terlalu banyak sektor tapi tidak fokus, saya khawatir (KDKMP) tidak akan bertahan lama,” pesan Dhito.

Pertanyaannya sekarang, seberapa siap KDMP itu terjun di persaingan usaha yang sangat ketat? Beberapa di antaranya memang sudah mulai beroperasi. Salah satunya Desa Wonorejo, Kecamatan Kunjang, yang aktif mulai Desember 2025. Ladang bisnisnya adalah kolaborasi dengan sesama program yang juga ditelurkan pemerintahan Presiden Prabowo, Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Kebetulan di sebelah balai desa ada SPPG (satuan pelayanan pemenuhan gizi, Red),” kata Ketua KDMP Desa Wonorejo Wiwit Aribowo.

Bisnis yang dibuka oleh KDMP desa ini adalah suplai buah ke SPPG. Kebetulan masyarakat desa massif menanam pisang jenis cavendish. Namun, koperasi juga menyumplai buah impor yang dicari di pasar-pasar tradisional.

Baca Juga: Lipsus Alun-Alun Kota Kediri yang Mangkrak Tiga Tahun (1), Nasib Pedagang Kian ‘Terinjak-injak’ 

Menariknya, untuk memenuhi kebutuhan 3 ribu porsi yang dimiliki SPPG, hasil dari desa ini belum memenuhi. Keterbatasan pasokan warga memang menjadi tantangan.

“Kadang harus ambil dari luar daerah karena permintaan tinggi,” akunya.

Berjalannya usaha suplai buah ke SPPG ini membuat sudah bisa menuai laba lumayan. Dalam seminggu laba bersih mencapai Rp 1 juta.

“Ke depan kami juga berencana menampung dan memasarkan produk UMKM warga seperti roti, kue, hingga bumbu pecel,” ucap Wiwit.

Bagaimana dengan KDMP lain? Di Desa Sidomulyo Kecamatan Wates memang sudah beroperasi. Namun dengan bisnis sederhana. Menjual bahan kebutuhan pokok seperti beras, minyak, dan gula.

Baca Juga: Lipsus Kemarau Panjang 2026: BPBD Lakukan Mitigasi dan Pemetaan Dini.

“Kami mulai dari yang mudah dulu. Yang penting koperasi bergerak, agar jika sudah beroperasi tidak kaget,” ujar Kepala Desa Bambang Erwanto sambil menyebut mereka tengah merintis kerja sama distribusi pupuk dengan salah satu produsen pupuk nasional.

Di sini anggotanya sudah lumayan, 100 orang. Mereka menjaringnya dengan mewajibkan orang-orang dalam lembaga desa, mulai anggota BPD hingga ketua RT dan RW.

Langkah lebih progresif terlihat di Desa Sidomulyo, Kecamatan Puncu. Ketua KDMP Andi Prayogi menyebut bangunan koperasi sudah selesai sejak sebelum Lebaran. Meski anggota baru 24 orang, minat masyarakat cukup tinggi.

Namun, pihaknya memilih berhati-hati dalam membuka keanggotaan. “Kami matangkan dulu konsep usaha. Takutnya nanti bingung di pembagian SHU,” dalihnya.

Baca Juga: Lipsus Kemarau Panjang 2026: Lereng Wilis dan Kelud di Ambang Krisis Air. Hanya Bergantung pada Sumber Air dan Dropping Pemda.

Di KDMP Puncu ini mereka merancang sejumlah lini bisnis berbasis pertanian. Salah satunya adalah sewa lahan kas desa untuk ditanami tebu dan jagung. Mereka juga menargetkan pembukaan kios pupuk resmi. Agar petani tidak lagi bergantung desa lain.

Ada lagi, menurut Andi mereka akan bekerja sama dengan Pertamina. Menjadi distributor elpiji. Rencananya, KDMP menggandeng 100 roko kelontong di desa mereka. Toko-toko tersebut bisa ambil lebih dulu dan bayarnya dua minggu kemudian.

Tak hanya itu, koperasi juga menyiapkan usaha persewaan truk. Modalnya, bantuan pemerintah tersebut. Saat ini sudah terjalin kerja sama dengan kelompok tani untuk mengangkut hasil panen ke Pasar Induk.

“Nanti setelah BPKB dan STNK turun bisa langsung dijalankan. Petani juga bisa langsung bayaran saat mengangkut ke Pasar Induk tanpa permainan tengkulak,” ujar pria dengan background pendidikan agroteknologi tersebut.

Tapi, tidak semua KDMP yang gedungnya selesai telah memulai usaha. Ada yang memilih menunggu regulasi lanjutan. Seperti KDMP di Desa Papar, Kecamatan Papar.

Baca Juga: Lipsus Ketika Masyarakat Heboh dengan Melambungnya Harga Plastik (1), Pengusaha Plastik pun Kebingungan karena Barang Habis tapi Tak Bisa Kulakan Lagi

“Kami terbentuk sejak Oktober dan sudah punya 32 anggota,” aku Ketua KDMP Papar Sumanto.

Di benak pengurusnya, bisnis yang mereka lakoni adalah gerai sembako, distribusi elpiji, serta penyediaan obat pertanian murah. Juga, akan bersinergi dengan badan usaha milik desa (bumdes) dalam pemasaran padi.

“Jadi bukan bersaing tapi saling kerja sama,” tegasnya.

Hanya, dia mengakui kesiapan SDM yang masih kurang. Pemahaman pengurus terkait sistem koperasi belum terbentuk sepenuhnya. Masih dalam tahap belajar.

Kondisi serupa juga terjadi di Desa Nambaan, Kecamatan Ngasem. Koperasi masih sebatas memiliki bangunan dan pengurus.

Baca Juga: Lipsus: Parkir Liar di Kawasan SLG Kediri, Masalah atau Justru Bisa Jadi Berkah?

“Pengurus sudah terbentuk, namun untuk rencana bisnis masih menunggu petunjuk juga,” ungkap Sekretaris desa Nambaan, Riva Mahadny.

Di Desa Ngreco, Kecamatan Kandat, gedungnya baru mencapai 80 persen. Tentu saja kegiatan usaha juga belum jalan. Rencana awalnya KDMP ini akan berbisnis jual beli kebutuhan pokok dan penyerapan hasil tebu.

“Usahanya ya pertokoan. Tapi seperti apa nantinya belum ada rencana,” aku Ketua KDMP Ngreco Atik Diana Rahmawati.

Sebenarnya, di Kabupaten Kediri, sudah ada ratusan KDMP yang gedungnya telah selesai dibangun. Jumlahnya mencapai 104 titik dari total 343 desa dan satu kelurahan di Kabupaten Kediri.

“Data itu hingga April ini,” tegas Plt Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Kediri Santoso.

Para pengurusnya, menurut Santoso, telah juga diberi pembekalan dan pelatihan. Mulai dari sisi manajerial, pemasaran, hingga laporan keuangan. Pendampingan juga akan terus dilakukan.

“Pelatihan sudah berlangsung sejak 2025,” jelasnya.

Editor : Andhika Attar Anindita
#bisnis usaha #kabupaten kediri #KDMP #Koperasi Desa Merah Putih #Koperasi Desa Merah Putih 2026