Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Alun-Alun Kota Kediri yang Mangkrak Tiga Tahun (1), Nasib Pedagang Kian ‘Terinjak-injak’ 

Hilda Nurmala Risani • Senin, 13 April 2026 | 01:07 WIB
Pengendara motor melintas di area relokasi PKL Alun-Alun Kota Kediri. Omzet mereka cenderung menurun imbas mangkraknya pembangunan. (Foto: Wahyu Adji)
Pengendara motor melintas di area relokasi PKL Alun-Alun Kota Kediri. Omzet mereka cenderung menurun imbas mangkraknya pembangunan. (Foto: Wahyu Adji)

Mereka sangat menggantungkan harapan pada keramaian Alun-Alun. Menjadi ladang pendapatan sebagai pedagang makanan dan minuman. Wajar bila mereka berharap konflik antara pemkot dan kontraktor tuntas dan bisa berdagang lagi seperti dulu.

Matahari hampir di atas kepala. Dwi Bagus Ari masih menata barang-barang dagangan. Aneka kerupuk ditata rapi. Sembari sesekali bercanda dengan istri dan balitanya. Menjadi penghibur hati karena sepinya pembeli yang mampir di lapaknya.

Bagus adalah satu dari sekian pedagang di Alun-Alun Kota Kediri. Sejak tempat itu direnovasi, pada 2023, mereka pindah ke lapak sementara.

Ironinya, proyek itu justru  mangkrak hingga saat ini. Padahal, berjualan di tempat relokasi sangat berbeda dengan di lokasi lama.

“Di sini sepi. Dulu di sana (lokasi berjualan sebelum alun-alun direnovasi, Red) sehari bisa dapat Rp 500 ribu. Sekarang, Rp 100 ribu sehari saja sulit,” keluh pria asal Kecamatan Pesantren ini.

Baca Juga: Pemkot Akan Lanjutkan Pembangunan Alun-Alun Kota Kediri, Tegaskan Tetap Patuhi Putusan MA dan Hasil Audit dari BPKP

Tidak hanya Bagus yang merasakan dampak seperti itu. Puluhan pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di alun-alun pun merasakan.

Bahkan, akibat sepinya pembeli, banyak yang memilih mengosongkan lapak. Tak berjualan lagi.

“Sekarang kurang dari 40-an pedagang yang masih bertahan,” ucap Bagus.

Padahal, awalnya jumlah PKL alun-alun dua kali lipatnya dari jumlah sekarang. Hampir 90-an orang. Termasuk yang memilih tak berjualan adalah pemilik lapak di sebelah Bagus. Yang dimanfaatkannya untuk berjualan es.

Tentu saja Bagus menyayangkan konflik berlarut pembangunan alun-alun. Dia pun menyayangkan belum adanya intervensi pemerintah kepada para pedagang. Agar di tengah kondisi ekonomi yang sulit seperti sekarang ini hidup mereka bisa menggeliat.

Baca Juga: PN Bentuk Tim Penghitung Proyek Alun-Alun Kota Kediri, Ini Yang Perlu Diketahui!

“Dulu awal-awal relokasi masih sering ke sini orang dinas juga. Sekarang nggak ada sama sekali,” keluhnya.

Kini, agar bisa bertahan Bagus melakukan segala cara. Termasuk menjual dagangannya dengan cara online. Ternyata, hasilnya juga lumayan. Setidaknya menutupi sepinya pembeli di lapak.

Namun, dia berharap proyek alun-alun bisa selesai. Sehingga pembeli juga bisa ramai lagi.

Harapan serupa disuarakan Imam Effendi. Pedagang kopi dan makanan ringan ini berharap alun-alun kembali ramai seperti dulu.

“Dari dulu kalau cuma katanya-katanya (alun-alun segera dibangun, Red) sudah sering. Tapi ternyata sampai sekarang masih belum jelas. Ya, mudah mudahan segera jadi lah,” harapnya.

Baca Juga: Pemkot dan Kontraktor ‘Pasrah’ Kasus Alun-Alun Kota Kediri ke Pengadilan, Ini Alasannya!

Imam sudah 15 tahun berjualan di alun-alun. Ketika pindah ke relokasi, omzetnya menurun drastis. Pendapatannya dulu bisa menutup angsuran sebesar Rp 2 juta per bulan yang jadi bebannya.

Kini? “Kok Rp 2 juta, Rp 1 juta saja nggak dapat. Untuk makan saja pas, kadang bahkan kurang,” keluhnya.

Padahal, jam berjualan Imam sangat panjang. Buka mulai pukul 5 pagi dan tutup pukul 22.00 atau jam sepuluh malam. Sedangkan bila pindah tempat jualan dia merasa sudah tak sanggup lagi.

“Sekarang dampaknya susah. Nangis berdarah sudah, bukan ngeluh lagi,” akunya.

Ana, bukan nama sebenarnya, yang berjualan bakso, menyebut omzetnya turun 50 persen sejak alun-alun direnovasi. Dalam sehari pembelinya tak sampai sebanyak jari di satu tangan.

“Ada yang beli lebih dari lima saja sudah bersyukur,” sebut wanita yang enggan menyebut nama aslinya ini. Bila dihitung omzetnya, sehari hanya Rp 250 ribu.

Baca Juga: Pengadilan Panggil Pemkot dan Kontraktor Alun-Alun Kota Kediri, Tindaklanjuti Rencana Eksekusi Putusan Mahkamah Agung

Kenapa tak pindah lokasi berjualan? “Pindah ke mana? Ke tempat baru juga belum tentu laris,” kilahnya.

Pilihan bertahan juga dilakukan pemilik warung kopi bernama JK. Meskipun banyak gulung tikar, pedagang 45 tahun ini memilih bertahan.

Menurutnya, sepinya pembeli ini karena lokasi berjualan tidak menarik minat pembeli. Tempatnya di gang sempit sisi selatan. Hanya bisa dilewati sepeda motor. Belum lagi kesan kumuh yang membuat pembeli tak selera.

“Diibaratkan saya sebagai pembeli pastinya milih tempat yang bersih dan luas. Kalau makan di tempat yang sempit, kumuh, dan pemandangannya bangunan mangkrak tentu tidak selera,” gerutunya.

Baca Juga: Proyek “Mangkrak” Alun-Alun dan Upaya Terobosan Hukum 

Subagyono, ketua Paguyuban Pedagang Alun-Alun Kota Kediri, membenarkan keluhan para pedagang. Kondisi yang terjadi sejak ada proyek pembangunan hingga mangkrak seperti sekarang ini.

“Semakin berkurang karena pendapatannya tidak menutupi modal. Sudah kulakan dan masak banyak tapi ternyata tidak laku. Alhasil, mereka harus tutup atau berpindah ke lokasi lain,” ujar Subagyono.

Sejak ada proyek revitalisasi alun-alun, pedagang pindah ke sisi selatan. Di samping Dhoho Plaza. Sebagian berjualan di depan SDN Kampung Dalem 3 dan 4. Tepatnya di sepanjang Jalan Kabupaten Lama.

“Ketika dipindah ke sana mereka harus berdesak-desakan. Dengan jarak 100 meter ada 15-20 lapak dagangan,” imbuhnya.

Sebenarnya untuk menyiasati lokasi yang sempit, paguyuban sudah menyediakan tempat untuk pembeli yang hendak makan di tempat. Hanya saja memang terbatas dan seadanya.

Baca Juga: Konsinyasi Jadi Opsi Sengketa Alun-Alun Kota Kediri, Pemkot Himpun Pendapat demi Percepat Proyek

Diakuinya, pedagang juga sering menyuarakan terkait lokasi berjualannya yang tak strategis dan layak. Hanya saja belum ada tindakan atas keluhan tersebut.

Belum lagi ketika membaca berita tentang mangkraknya proyek revitalisasi Alun-Alun Kota Kediri yang masih saja berputar di wilayah konflik antara Pemkot Kediri dan pihak kontraktor (PT Surya Graha Utama). Yang tentu semakin memperparah kegusaran mereka.

“Kami hanya berharap persoalan segera selesai. Proyek revitalisasi bisa dilanjutkan. Dan denyut perekonomian di sekitarnya bisa hidup kembali,” bebernya.

Bahkan tingginya harapan untuk Alun-Alun bisa beroperasi kembali mendorong paguyuban pedagang ini menggelar acara istighosah setiap malam Jumat. Dan rutin dilakukan setiap minggunya. (ayu isma/hilda nurmala risani/fud)

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#pemkot kediri #pkl #alun alun #alun alun kota kediri #mangkrak