Merespons ancaman kemarau panjang tahun ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri juga melakukan pemetaan sejak dini.
Sejumlah daerah yang menjadi langganan kekeringan kembali masuk daftar prioritas penanganan.
“Kami melakukan pemetaan dini untuk mengurangi dampak kekeringan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kediri Stefanus Djoko Sukrisno.
Berdasarkan rekapitulasi potensi kekeringan 2026, beberapa desa di lereng Wilis dan sekitarnya akan mengalami penurunan debit air saat kemarau nanti.
Di Kecamatan Mojo, kekeringan diprediksi melanda Dusun Baran, Desa Ponggok.
Di musim kemarau 2025 lalu, sumber air dari Petungroto tidak mampu mencukupi kebutuhan warga.
Kondisi serupa juga terjadi di Dusun Bangsri, Desa Ngetrep, Mojo. Sumber mata air setempat menyusut hingga warga kesulitan air bersih.
Demikian pula Dusun Kajar dan Dusun Kalinanas, Desa Kalipang, Grogol. Tak hanya itu, Dusun Sumberbentis, Desa Manyaran, Banyakan juga tak luput.
Warga yang menggantungkan air pada sumber setempat sering mengalami kekeringan.
Selanjutnya, di lereng Gunung Kelud, bencana kekeringan rawan melanda Dusun Pulerejo, Desa Wonorejotrisulo, Plosoklaten.
Demikian pula Dusun Tambaksari dan Dusun Tegalrejo, Desa Kebonrejo, Kepung.
Djoko menegaskan, kekeringan di beberapa daerah rawan itu memang tidak bisa dicegah sepenuhnya.
Namun, dampaknya masih bisa ditekan jika dilakukan langkah antisipasi sejak awal. Karenanya, BPBD menyiapkan beberapa langkah.
Salah satunya, mendorong masyarakat memanfaatkan air hujan saat masa pancaroba.
Warga diimbau membuat embung kecil secara mandiri serta tempat penampungan air hujan.
Baca Juga: Flyover Mengkreng Kediri Butuh 37 Hektare Lahan, Tiga Pemda Kebut Proposal, ini Tahapannya
Air tersebut bisa dimanfaatkan saat musim kemarau tiba. Selebihnya, masyarakat juga diingatkan untuk lebih bijak dalam menggunakan air.
Penghematan jadi kunci agar ketersediaan air tetap terjaga lebih lama. Terutama di wilayah yang selama ini bergantung pada sumber terbatas.
“Masyarakat juga perlu menyiapkan tandon air dan mobil tangki air jika sewaktu-waktu memerlukan dropping,” jelas mantan kepala Damkar Kabupaten Kediri itu.
Lebih jauh Djoko menyebut, BPBD juga melakukan pemetaan daerah rawan kekeringan.
Tak hanya fokus pada kebutuhan air bersih, mereka juga melakukan koordinasi lintas sektor.
BPBD menggandeng dinas pertanian untuk memetakan wilayah rawan kekeringan di sektor pertanian.
Dari hasil pemetaan itu, BPBD menindaklanjuti dengan membuat sumur bor dan pengaturan pola tanam untuk mengurangi risiko gagal panen.
Salah satu bencana yang juga sering terjadi di musim kemarau adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Untuk mengantisipasinya, BPBD berkoordinasi dengan Perhutani. Yakni, mengantisipasi munculnya titik api di kawasan hutan.
Selebihnya, pemerintah daerah juga menyiapkan surat edaran terkait kesiapsiagaan menghadapi kekeringan.
Langkah ini dilakukan agar seluruh elemen memiliki panduan yang sama dalam menghadapi kondisi tersebut.
Meski sudah mengambil beberapa langkah, diakui Djoko masih ada kendala di lapangan. Salah satunya, keterbatasan armada tangki air.
Saat ini, BPBD Kabupaten Kediri hanya memiliki dua unit mobil tangki untuk melayani kebutuhan dropping air.
Jika kebutuhan meningkat dan terjadi di banyak titik secara bersamaan, BPBD harus meminjam armada dari PDAM, Damkar, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), hingga Palang Merah Indonesia (PMI).
“Perlu kerja sama semua pihak untuk menghadapi bencana,” jelasnya.
Daerah Rawan Kekeringan di Kediri:
Lereng Gunung Wilis:
Dusun Baran, Desa Ponggok, Mojo
Sumber air di Desa Petungroto, Mojo tidak cukup untuk konsumsi sampai ke Desa Ponggok karena debitnya menurun
Dusun Bangsri, Desa Ngetrep, Mojo
Debit air di sumber setempat menurun hingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan air ratusan KK warga
Dusun Kajar dan Dusun Kalinanas, Desa Kalipang, Grogol
Debit air sumber di Desa Kalipang menurun dan tidak cukup untuk memasok kebutuhan air warga
Dusun Sumberbentis, Desa Manyaran, Banyakan
Debit air di sumber dusun setempat turun atau bahkan mengering dan tidak bisa mencukupi kebutuhan air warga
Lereng Gunung Kelud:
Pada musim kemarau 2025 lalu, debit air sumber di Desa Wonorejo menurun dan warga mengalami kekeringan
Debit air di sumber Desa Kebonrejo menurun hingga tidak cukup untuk konsumsi warga
Editor : Andhika Attar Anindita