Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Ketika Masyarakat Heboh dengan Melambungnya Harga Plastik (1), Pengusaha Plastik pun Kebingungan karena Barang Habis tapi Tak Bisa Kulakan Lagi

Ayu Ismawati • Sabtu, 11 April 2026 | 07:00 WIB
Seorang pembeli saat belanja plastik di salah satu toko grosir di Jl Brawijaya. Masyarakat tetap membeli plastik di tengah harganya yang melambung. (Foto: Ayu Isma)
Seorang pembeli saat belanja plastik di salah satu toko grosir di Jl Brawijaya. Masyarakat tetap membeli plastik di tengah harganya yang melambung. (Foto: Ayu Isma)

Harga segala macam jenis plastik naik gila-gilaan. Imbas dari konflik geopolitik di Timur Tengah. Yang susah tentu saja masyarakat, meskipun bisa menjadi berkah bagi upaya ‘diet’ plastik. 

 

Linda hanya bisa duduk terdiam. Pedagang plastik yang toko grosirnya berada di Jalan Brawijaya ini hanya bisa menatap deretan rak tempat dagangannya terpajang. Terutama tempat plastik kemasan ukuran satu kilogram yang terlihat melompong.

“Saya beli (plastik ukuran satu kilogram) saat itu langsung terjual habis. (Hendak) kulak lagi nggak bisa, harus nombok. Karena harganya sudah naik lagi waktu kulakan,” keluh Linda, menampakkan keresahan merasakan kondisi seperti sekarang ini.

Ya, Linda adalah salah seorang yang paling terdampak dengan fenomena kenaikan harga plastik saat ini. Lebih-lebih, kenaikannya tergolong gila-gilaan. Bahkan ada yang naik 100 persen, alias dua kali lipat dari harga sebelumnya.

“Dua atau tiga minggu sebelum Lebaran sebenarnya sudah mulai ada kenaikan. Tapi masih belum banyak. Semakin hari semakin naik. Satu minggu bisa naik tiga sampai empat kali (hanya) untuk satu item saja,” sebut Linda.

Baca Juga: Imbas Konflik, Harga Plastik Naik Banyak Pedagang Mengeluh Takut Ditinggal Pembeli

Kenaikan itu merata terjadi di semua jenis plastik. Mulai kantong kresek, botol plastik, thin wall (kotak makan plastik), gelas plastik, hingga styrofoam.

Dia kemudian mencontohkan, satu bal styrofoam naiknya Rp 100 ribu lebih. Sedangkan cup plastik yang sebelumnya Rp 9 ribu kini menjadi Rp 15 ribu!

Untuk kantong plastik rata-rata kenaikan harga mencapai 40 sampai 50 persen. Bahkan, beberapa plastik sudah naik harganya hingga dua kali lipat. Satu kondisi yang, menurutnya, tak masuk akal.

Karena itulah saat ini dia memilih mengurangi stok untuk menghindari kerugian. Sebab, sejak sebelum Lebaran hingga saat ini harga terus mengalami kenaikan.

Bahkan untuk beberapa jenis plastik seperti botol plastik, Linda beberapa kali tidak melayani pembelian dalam skala besar. Melainkan hanya bisa menjual eceran. Tentu saja melambungnya harga itu juga memengaruhi animo pembelian oleh masyarakat.

“Banyak yang ngomel-ngomel, pasti! Karena wajar, mungkin nggak tahu. Tapi bagi yang sudah tahu (penyebab kenaikan harga plastik) tetap beli karena butuh,” katanya.

Baca Juga: Harga Plastik 2026 Melonjak, Biaya Produksi Naik dan Inflasi Mengintai

Khususnya bagi para pelaku UMKM makanan dan minuman yang banyak menjadi langganannya. Karena harganya terus berubah, tabel harga yang terpasang pun kerap berganti-ganti.

Bahkan, penuh coretan karena koreksi hampir tiap hari, mengikuti perkembangan harga di pasaran. 

“Jadi percuma kami pasang tabel update harga karena besoknya sudah ganti lagi. Sehingga setiap ada orang beli, baru kami cek harga langsung karena harganya memang berubah terus sewaktu-waktu,” beber Linda.

Karena tren kenaikan harga sudah berjalan cukup lama, banyak masyarakat yang sudah memahami. Namun tak sedikit pula yang protes dan mengira kenaikan harga disengaja oleh pemilik toko.

“Ada yang sampai ngomong, ini kreseknya sudah dihitung belum? Kresek kan lagi mahal. Bertahun-tahun saya jualan, baru ini saya menemui pembeli tanya kresek wadahnya bayar lagi apa enggak. Baru kemarin itu,” sambungnya.

Baca Juga: Ini Yang Dikhawatirkan Pedagang Kurma Akibat Konflik Timur Tengah

Nurlaela, pekerja toko plastik di Kelurahan Pakelan punya cerita lain. Tak sedikit pembeli yang balik kanan setelah tahu harga plastik naik. Bahkan batal membayar setelah selesai totalan.

“Makanya setiap ada yang beli, selalu saya kasih tahu dulu kalau harganya naik,” ujar perempuan yang akrab disapa Ella itu.

Selama harga plastik melambung, pembeli di tokonya juga berkurang signifikan. “Kadang pembeli yang memang butuh gitu tetap beli, tapi dikurangi jumlahnya begitu tahu harganya naik,” tandasnya. (ayu isma/fud)

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#umkm #perang #konflik timur tengah #plastik #geopolitik